MANADOPOST.ID - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat mengeluarkan peringatan serius terkait potensi terjadinya bencana ekologis berskala besar di wilayah Jabar. Situasi ini dinilai dapat melampaui dampak bencana yang akhir-akhir ini melanda sejumlah daerah di Sumatra, seperti Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.
Direktur Eksekutif Walhi Jabar, Wahyudin Iwang, mengatakan bahwa Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang sangat rentan terhadap bencana, baik banjir, longsor hingga tsunami. Namun, di saat yang sama, kerusakan lingkungan terus terjadi tanpa adanya upaya pemulihan yang memadai dari pemerintah.
“Jawa Barat memiliki tingkat kerentanan tinggi, tapi kerusakan lingkungan justru dibiarkan dan terus berlangsung,” tegasnya.
Walhi juga menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah daerah dan pusat terhadap aktivitas perusahaan yang izinnya habis namun tetap beroperasi. Selain itu, aktivitas tambang ilegal semakin marak di berbagai wilayah.
Sepanjang tahun 2024, Walhi mencatat sedikitnya 176 titik tambang ilegal tersebar di Jabar, dengan Kabupaten Sumedang dan Tasikmalaya sebagai wilayah terbanyak. Kondisi tersebut memperparah degradasi lingkungan yang telah terjadi.
Tak hanya itu, tutupan hutan di Jabar menyusut hingga 43 persen selama periode 2023–2025 akibat alih fungsi lahan untuk tambang, pariwisata, properti, dan proyek pemerintah. Hilangnya kawasan resapan air ini menjadi pemicu utama meningkatnya risiko banjir dan longsor.
Di tengah ancaman tersebut, Walhi mendesak Pemprov Jabar untuk melakukan langkah mitigasi secara menyeluruh dan konsisten. Pemerintah diminta memperketat aturan pemanfaatan ruang, menghentikan ekspansi industri ekstraktif, serta menindak tegas pelaku perusakan lingkungan.
“Tanpa intervensi nyata, risiko bencana besar di masa depan semakin dekat dan akan mengancam keselamatan jutaan warga,” tambah Walhi.
Walhi menekankan bahwa penyelamatan lingkungan harus menjadi prioritas utama pembangunan di Jawa Barat untuk menekan risiko bencana dan menjaga keberlanjutan ekologi. (*)
Editor : Jasinta Bolang