MANADOPOST.ID - Ajakan untuk patungan membeli hutan demi menjaga kelestarian lingkungan mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Gagasan ini mencuat setelah banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Sumatra yang banyak dikaitkan dengan maraknya deforestasi.
Banyak warganet mempertanyakan apakah masyarakat bisa membeli lahan berhutan lalu menjadikannya kawasan konservasi yang dilindungi bersama. Ajakan tersebut viral dan mendapat respons luas sebagai bentuk kepedulian terhadap kerusakan hutan yang kian parah.
Para pengguna media sosial menyuarakan keresahan yang sama: penegakan hukum dan kebijakan pemerintah dinilai belum cukup kuat untuk menghentikan alih fungsi hutan menjadi tambang, perkebunan, atau properti.
“Kalau ada yang open donasi untuk patungan beli hutan, kabarin ya. Dikit-dikit mah bisa lah ikut,” tulis salah satu warganet yang unggahannya viral.
Meski terdengar baru bagi sebagian orang, praktik pembelian hutan untuk konservasi sebenarnya sudah pernah dilakukan berbagai pihak. Lembaga nirlaba seperti Kalaweit di Sumatera Barat telah membeli lahan untuk melindungi habitat satwa liar. Komunitas adat dan beberapa inisiatif lokal di Bogor juga mengambil langkah serupa.
Antusiasme publik didorong oleh pengalaman sukses penggalangan dana bencana yang mampu mengumpulkan donasi miliaran rupiah dalam waktu singkat.
Bagi sebagian warganet, gerakan ini menjadi bentuk protes simbolik dan perlawanan terhadap eksploitasi hutan yang terus berlanjut.
“Setidaknya kita punya suara dan hak atas hutan itu. Sudah muak lihat hutan diganti tanaman monokultur,” komentar warganet lainnya.
Walaupun implementasinya tidak sederhana—melibatkan izin lahan, regulasi kehutanan, hingga pengelolaan jangka panjang—fenomena viral ini dianggap sebagai sinyal positif. Masyarakat mulai melihat diri mereka sebagai aktor utama dalam konservasi, bukan sekadar penonton.
Kesadaran lingkungan yang tumbuh dari akar rumput menjadi dorongan baru dalam upaya melindungi hutan Indonesia dari ancaman deforestasi yang semakin serius. (*)
Editor : Jasinta Bolang