Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Fadli Zon: Buku Sejarah Indonesia Direvisi, RI Tak Dijajah 350 Tahun

Jasinta Bolang • Selasa, 16 Desember 2025 | 23:22 WIB

Fadli Zon.
Fadli Zon.

MANADOPOST.ID
– Kementerian Kebudayaan resmi meluncurkan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global di Jakarta, Minggu (14/12/2025). Buku ini menghadirkan revisi terhadap narasi lama yang menyebut Indonesia dijajah selama 350 tahun.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, narasi penjajahan 350 tahun selama ini lebih bersifat politis dan lahir dalam konteks membangun kesadaran nasional pada masa perjuangan kemerdekaan. Namun, menurutnya, narasi tersebut perlu diluruskan berdasarkan kajian akademik dan penelitian para sejarawan.

“Pengalaman kolonial di Nusantara sangat beragam. Tidak bisa disederhanakan menjadi satu angka 350 tahun,” ujar Fadli Zon dalam peluncuran buku tersebut.

Ia menjelaskan, buku sejarah terbaru ini menekankan dinamika perlawanan masyarakat di berbagai daerah terhadap kekuatan kolonial seperti Belanda, Inggris, dan Jepang. Dalam kajian tersebut, ada wilayah yang mengalami penjajahan dalam waktu singkat, ada yang lebih lama, bahkan ada daerah yang tidak pernah dijajah secara langsung.

Menurut Fadli, penyederhanaan sejarah penjajahan selama 350 tahun tidak akurat secara historiografis dan berpotensi mengaburkan fakta perjuangan bangsa di berbagai daerah dengan konteks yang berbeda-beda.

Pandangan tersebut sejalan dengan riset profesor hukum internasional GJ Resink. Dalam penelitiannya, Resink menyebut klaim Indonesia dijajah selama 350 tahun sebagai kekeliruan sejarah. Ia menunjukkan bahwa hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, masih banyak kerajaan dan wilayah di Nusantara yang tetap merdeka.

Resink menilai, anggapan 350 tahun penjajahan bermula dari pernyataan Gubernur Jenderal Hindia Belanda BC de Jonge dan kemudian diperkuat dalam pidato-pidato politik, termasuk oleh Presiden Soekarno. Pernyataan tersebut, menurutnya, bertujuan membangkitkan semangat nasionalisme, bukan sebagai perhitungan sejarah yang presisi.

Melalui buku ini, Kementerian Kebudayaan berharap pemahaman sejarah Indonesia menjadi lebih utuh, kritis, dan berbasis riset, tanpa mengurangi nilai perjuangan dan semangat kebangsaan. (*)

Editor : Jasinta Bolang
#Kementerian Kebudayaan #Buku Sejarah Indonesia #Fadli Zon