MANADOPOST.ID - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperkirakan sedikitnya 28 juta penduduk Indonesia berpotensi mengalami masalah kesehatan jiwa. Angka tersebut merujuk pada rasio global yang disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni satu dari delapan hingga satu dari sepuluh orang mengalami gangguan kejiwaan.
Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 280 juta jiwa, Budi menilai angka tersebut masih merupakan gambaran minimal dari kondisi sebenarnya di masyarakat. Ia menyebut data kesehatan jiwa yang ada saat ini baru menunjukkan “puncak gunung es”.
Berdasarkan hasil skrining kesehatan jiwa melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), hingga 1 Januari 2026 tercatat sekitar 27 juta orang telah menjalani pemeriksaan. Namun, hasil skrining tersebut menunjukkan bahwa angka temuan gangguan mental masih relatif rendah dibandingkan perkiraan prevalensi global.
Menariknya, Budi mengungkapkan bahwa gejala depresi dan kecemasan justru lebih banyak ditemukan pada kelompok anak sekolah dan remaja. Pada kelompok usia ini, sekitar 4–5 persen terdeteksi mengalami gejala depresi dan kecemasan.
Sementara itu, pada kelompok dewasa dan lansia, angka temuan gangguan mental tercatat di bawah 1 persen. Perbedaan ini menjadi perhatian serius pemerintah, mengingat kelompok usia muda merupakan fondasi pembangunan sumber daya manusia ke depan.
Temuan tersebut mendorong Kementerian Kesehatan untuk memperkuat sistem layanan kesehatan jiwa di Indonesia. Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah penyusunan tata laksana pengobatan dan layanan psikologis agar penanganan gangguan mental dapat dilakukan langsung di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas.
Menurut Budi, penguatan layanan kesehatan jiwa di tingkat primer diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap penanganan kesehatan mental secara dini dan berkelanjutan. (*)
Editor : Jasinta Bolang