Aksi ini menjadi respons mendesak terhadap degradasi hutan yang memaksa primata, seperti monyet, keluar dari habitat asli mereka dan memasuki permukiman warga. Dampaknya? Konflik semakin sering terjadi: monyet merusak ladang, tanaman pertanian, bahkan menyusup ke rumah-rumah melalui atap untuk mencuri makanan. Seperti diberitakan joglosemarnews.com pada 23 April 2025 dalam artikel "Monyet Kuasai Wonogiri! 25 Kecamatan Diserbu Tanpa Ampun", masalah ini telah mengganggu masyarakat di 25 kecamatan selama tiga tahun terakhir.
Founder Setiadharma Foundation, M.B. Setiadharma, menekankan pendekatan ekologis jangka panjang dalam upaya ini. "Hutan yang rusak membuat primata kehilangan rumah dan makanan. Dengan menanam pohon-pohon ini, kami ingin mengembalikan keseimbangan alam, menyediakan sumber pakan alami bagi mereka, dan mengurangi konflik dengan warga sekitar," ujar Setiadharma dengan penuh semangat.
Jenis pohon yang dipilih pun strategis, dirancang untuk mendukung kehidupan primata sekaligus memperkaya biodiversitas:
- Beringin (sebagai tempat berteduh dan sumber buah)
- Pule (kayu keras dengan manfaat ekologis tinggi)
- Randu alas (penghasil kapas dan makanan satwa)
- Asam (buah asam yang disukai primata)
- Jambu mete (sumber kacang dan buah bergizi)
- Mangga (buah manis sebagai pakan utama)
- Rambutan (buah berbulu yang menarik monyet)
- Gayam (tanaman lokal untuk restorasi hutan)
- Serta varietas kayu keras lain yang ramah lingkungan
Hingga awal Februari 2026, target tahap awal hampir tercapai dengan 700 pohon sudah tertanam. Tak berhenti di situ, Relawan Jogo Alas berkomitmen untuk pemeliharaan rutin—termasuk penyiangan dan pemangkasan—agar pohon-pohon ini tumbuh optimal dan memberikan dampak nyata.
Lurah Selopuro, Yohanes Wiratmoko, menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah edukatif. "Ini bukan hanya soal menekan konflik manusia-primata yang semakin marak. Lebih dari itu, gerakan ini mengajak warga untuk sadar: menjaga hutan sama artinya dengan menjaga masa depan kita sendiri," katanya.
Kolaborasi menjadi kunci sukses, seperti yang disampaikan M. Sartono, Asper/KBKPH (Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan) Perhutani Baturetno. "Hutan tak bisa dijaga sendirian. Sinergi antara relawan, masyarakat, dan Perhutani akan memulihkan fungsi hutan, menekan konflik satwa liar, serta membuka peluang pendapatan baru bagi warga melalui hasil hutan non-kayu jika pohon tumbuh subur," jelasnya.
Dengan visi jangka panjang, gerakan Jogo Alas diharapkan mengubah kawasan Ngampel dan Bah Klampok menjadi habitat primata yang aman dan lestari dalam lima tahun mendatang. Selain itu, hutan ini akan berfungsi sebagai penyangga ekologis, menciptakan harmoni antara alam dan masyarakat sekitar.
Inisiatif ini bukan sekadar penanaman pohon, tapi inspirasi bagi pelestarian alam di Wonogiri: menyelamatkan primata, memulihkan hutan, dan membangun masa depan berkelanjutan. Ikuti perkembangannya dan bergabunglah dalam gerakan Jogo Alas untuk Indonesia yang lebih hijau! (***)
Editor : Tanya Rompas