Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Kemegahan Frauenkirche Dresden yang Bangkit dari Reruntuhan Perang dan Menjadi Simbol Perdamaian Dunia

Aprilia Sahari • Kamis, 5 Maret 2026 | 10:05 WIB

The Dresden Frauenkirche and the Luther Monument early in the winter morning light up by the morning sun.
The Dresden Frauenkirche and the Luther Monument early in the winter morning light up by the morning sun.

MANADOPOST.ID - Di jantung kota tua Dresden, berdiri megah sebuah gereja yang bukan hanya menjadi ikon arsitektur, tetapi juga simbol rekonsiliasi dan kebangkitan: Frauenkirche Dresden.

Dengan kubah batu raksasa yang anggun, gereja ini telah menjadi salah satu mahakarya arsitektur Barok Protestan di Eropa sekaligus saksi bisu perjalanan sejarah Jerman yang penuh gejolak.

Frauenkirche dibangun antara tahun 1726 hingga 1743 atas rancangan arsitek ternama Jerman, George Bähr.

Ia merancang gereja ini dengan konsep sentral yang revolusioner untuk zamannya, mengutamakan akustik dan keterlibatan jemaat dalam ibadah.

Kubah batu setinggi sekitar 91 meter, yang dijuluki “Steinerne Glocke” atau “Lonceng Batu”, menjadi ciri khas utama bangunan ini.

Struktur kubah tersebut merupakan pencapaian teknik luar biasa pada abad ke-18 karena seluruhnya terbuat dari batu pasir tanpa rangka baja modern.

Gaya arsitektur Barok yang diterapkan terlihat jelas pada fasadnya yang dinamis, detail ornamen yang kaya, serta interior yang megah namun tetap harmonis.

Bagian dalam gereja menampilkan altar utama yang menjulang dengan pahatan dramatis dan permainan cahaya alami yang menembus jendela-jendela besar, menciptakan suasana sakral sekaligus hangat.

Tata ruang berbentuk melingkar memungkinkan jemaat duduk mengelilingi pusat liturgi, mencerminkan teologi Protestan yang menekankan khotbah dan kebersamaan.

"Interior of famous Dresden Frauenkirche (Church of Our Lady). Neumarkt Square, Dresden, Saxony, Germany. The Church of Our Lady was built during the 18th century.The church is situated at the Neumarkt Square of the city of Dresden, Germany."
"Interior of famous Dresden Frauenkirche (Church of Our Lady). Neumarkt Square, Dresden, Saxony, Germany. The Church of Our Lady was built during the 18th century.The church is situated at the Neumarkt Square of the city of Dresden, Germany."

Namun, sejarah Frauenkirche tak selalu indah.

Pada Februari 1945, saat Perang Dunia II, kota Dresden mengalami pemboman besar-besaran.

Kebakaran hebat dan panas ekstrem menyebabkan kubah gereja runtuh, meninggalkan puing-puing yang dibiarkan sebagai monumen peringatan selama puluhan tahun di era Jerman Timur.

Reruntuhan tersebut menjadi simbol kehancuran perang dan pengingat akan pentingnya perdamaian.

Setelah reunifikasi Jerman pada tahun 1990, muncul gerakan internasional untuk membangun kembali Frauenkirche.
Rekonstruksi dimulai pada 1994 dengan pendekatan arkeologis dan teknologi modern.

Batu-batu asli yang masih dapat digunakan dipasang kembali di posisi semula, sehingga hingga kini tampak perbedaan warna antara batu lama yang lebih gelap dan batu baru yang lebih terang.

Proyek restorasi ini menjadi simbol kerja sama global, dengan donasi yang datang dari berbagai negara, termasuk Inggris dan Amerika Serikat.

Pada tahun 2005, Frauenkirche resmi dibuka kembali dan kembali berfungsi sebagai gereja Lutheran sekaligus pusat konser musik klasik.

Akustiknya yang luar biasa menjadikan tempat ini lokasi pertunjukan organ dan paduan suara yang sangat dihargai.
Selain fungsi religius, gereja ini juga menjadi destinasi wisata utama di Dresden, menarik jutaan pengunjung setiap tahun.

Kini, Frauenkirche Dresden berdiri bukan hanya sebagai karya arsitektur Barok yang memukau, tetapi juga sebagai simbol harapan, rekonsiliasi, dan kekuatan untuk bangkit dari kehancuran.

Ia mengajarkan bahwa dari reruntuhan sekalipun, keindahan dan makna baru dapat lahir kembali.(JPG)

Editor : Aprilia Sahari
#gereja megah #Frauenkirche Dresden