Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Waspada Evolusi Scam Online: Pusat Sindikat Berpindah, Profil Pelaku dan Korban Makin Berubah

ALengkong • Kamis, 2 Juli 2026 | 12:04 WIB
Ilustrasi sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban sindikat penipuan (scam) online berkedok lowongan kerja saat dipulangkan ke Tanah Air. Modus dan profil target kejahatan ini dilaporkan terus berevolusi menyasar kalangan terdidik. (Foto: VOA Indonesia)
Ilustrasi sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban sindikat penipuan (scam) online berkedok lowongan kerja saat dipulangkan ke Tanah Air. Modus dan profil target kejahatan ini dilaporkan terus berevolusi menyasar kalangan terdidik. (Foto: VOA Indonesia)

 

JAKARTA, MANADO POST - Kejahatan penipuan daring atau scam online yang diotaki oleh sindikat transnasional kini terus mengalami evolusi yang mengerikan.

Tidak hanya modus operasinya yang semakin canggih, pusat operasi kejahatan ini pun dilaporkan mulai berpindah-pindah untuk menghindari endusan aparat penegak hukum internasional.

Berdasarkan ulasan mendalam yang dilansir dari Kompas.id, peta kejahatan siber ini mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya sindikat banyak terpusat di wilayah tertentu di Asia Tenggara seperti Kamboja atau Myanmar, kini mereka mulai berekspansi ke wilayah-wilayah baru dengan regulasi yang masih longgar.

Perpindahan pusat kejahatan ini diikuti dengan perubahan taktik rekrutmen yang semakin manipulatif.

Baca Juga: Hasil Euro 2026 Tadi Malam: Sengit, Gol Dramatis Bawa Timnas Inggris Lolos ke Perempat Final

Evolusi paling menonjol terlihat pada perubahan profil pelaku sekaligus korban. Di masa lalu, target rekrutmen sindikat ini umumnya adalah pekerja kerah biru atau mereka yang berpendidikan rendah.

Namun saat ini, profil tersebut telah berubah drastis. Sindikat scam online kini secara spesifik menargetkan kalangan terdidik, profesional muda, hingga lulusan universitas yang melek teknologi.

Mereka dijerat melalui tawaran lowongan kerja fiktif bergaji fantastis di luar negeri, seringkali berkedok posisi sebagai customer service, programmer, atau staf pemasaran digital (digital marketing).

Begitu tiba di negara tujuan, paspor para korban ditahan. Mereka kemudian dipaksa bekerja sebagai scammer (penipu) di bawah ancaman kekerasan fisik dan mental untuk memeras korban lain di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk ekstra waspada dan tidak mudah tergiur oleh tawaran pekerjaan di luar negeri yang proses rekrutmennya tidak melalui jalur resmi ketenagakerjaan.

Pengecekan legalitas perusahaan melalui instansi terkait adalah langkah mutlak untuk menghindari jebakan sindikat perdagangan orang ini.

Editor : ALengkong
#Scam Online #Perdagangan Orang