MANADOPOST.ID – Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, telah lama dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Dari daerah ini, ratusan ribu ton beras diproduksi setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan berbagai daerah di Indonesia.
Di balik besarnya produksi tersebut, berdiri sejumlah pelaku usaha yang menjadi tulang punggung industri pangan. Salah satunya H. Kurdi Mahdin, pemilik Pabrik Beras (PB) Sehati di Desa Passeno, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidrap.
Manado Post berkesempatan melihat langsung aktivitas industri penggilingan beras modern tersebut saat mengikuti rombongan Pemerintah Kabupaten Minahasa yang difasilitasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara dalam agenda kerja sama antardaerah, Rabu (1/7).
Berdiri di atas lahan sekitar dua hektare, PB Sehati dipenuhi deretan mesin penggilingan modern yang bekerja hampir tanpa henti. Dari fasilitas inilah diproduksi berbagai jenis beras, mulai dari kualitas premium hingga medium, yang kemudian dipasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia.
Kepada Manado Post, Kurdi Mahdin mengisahkan bahwa usaha yang kini dipimpinnya merupakan warisan keluarga yang dirintis sejak awal 1980-an. Sebagai generasi kedua, ia terus mengembangkan usaha tersebut hingga menjadi salah satu penggilingan beras terbesar di Kabupaten Sidrap.
Saat ini, PB Sehati mengoperasikan tiga unit penggilingan dengan kapasitas produksi sekitar 160 ton beras per hari. Untuk menjaga kontinuitas produksi, perusahaan tidak hanya mengandalkan gabah dari Sidrap, tetapi juga memasok bahan baku dari sejumlah daerah lain di Sulawesi Selatan.
"Kalau hanya mengandalkan produksi lokal tentu tidak cukup. Karena itu kami juga mengambil gabah dari sejumlah daerah lain di Sulawesi Selatan agar produksi tetap berjalan," ujar Kurdi.
Beras produksi PB Sehati dipasarkan ke berbagai daerah, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan Sulawesi Selatan, tetapi juga dikirim ke Kalimantan, Jayapura, Mamuju, Sulawesi Barat, sebagian wilayah Makassar hingga Ternate. Rata-rata distribusi mencapai sekitar 200 ton setiap bulan ke berbagai daerah tujuan.
Untuk beras premium, harga jual berada di kisaran Rp14.900 per kilogram, menyesuaikan kualitas dan kebutuhan pasar.
Besarnya kapasitas produksi tersebut juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Lebih dari 100 tenaga kerja menggantungkan mata pencaharian di PB Sehati, mulai dari proses pengolahan, pengemasan hingga distribusi.
Keberadaan industri penggilingan seperti PB Sehati tidak terlepas dari besarnya potensi pertanian Kabupaten Sidrap. Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, menjelaskan daerahnya memiliki 11 kecamatan dan 105 desa/kelurahan dengan luas areal panen sekitar 98 ribu hektare.
Pada 2025, produksi gabah Sidrap mencapai sekitar 700 ribu ton atau setara sekitar 500 ribu ton beras. Dari jumlah tersebut, kebutuhan konsumsi masyarakat hanya sekitar 35 ribu ton, sekitar 100 ribu ton diserap Bulog, sedangkan sekitar 225 ribu ton menjadi surplus yang siap dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia Timur melalui skema kerja sama antardaerah.
Menurut Syaharuddin, tingginya produksi tersebut didukung penggunaan alat dan mesin pertanian modern, serta berkembangnya industri penggilingan padi berskala besar di Sidrap.
"Kami berharap potensi ini mampu memperkuat pasokan pangan bagi daerah-daerah yang masih membutuhkan tambahan beras, termasuk Kabupaten Minahasa," ujarnya.
Editor : Ayurahmi Rais