Tragedi Drag Race Kotamobagu, Telan Belasan Korban, KANNI Berduka, Sorot Keamanan Penonton

Grand Regar • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 07:28 WIB
Chandra E. Damopolii
Chandra E. Damopolii

MANADOPOST.ID-Gelaran drag race di Jalan AP Mokoginta, Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Minggu (9/8/2026), berujung tragedi. Menelan belasan korban, baik luka maupun ada yang meninggal berdasarkan data sementara.

Ajang yang semula diharapkan menjadi tontonan olahraga dan hiburan bagi masyarakat tersebut justru meninggalkan duka mendalam. Para korban merupakan bagian dari masyarakat yang berada di lokasi kegiatan drag race tersebut.

Tragedi drag race Kotamobagu itu mendapat perhatian dari Komite Advokasi Hukum Nasional Indonesia (KANNI) Bagian Investigasi KANNI Indonesia Timur, Chandra E. Damopolii.

Chandra menyampaikan belasungkawa kepada seluruh korban dan keluarga yang ditinggalkan. Ia menyebut musibah tersebut sebagai tragedi yang menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban.

“Saya menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah yang terjadi dalam kegiatan drag race di Kotamobagu. Ini adalah tragedi yang sangat menyedihkan dan tentu meninggalkan luka mendalam bagi keluarga para korban,” ujar Chandra.

Selain menyampaikan duka cita, Chandra juga mendoakan para korban yang masih menjalani perawatan agar memperoleh penanganan medis terbaik dan segera diberikan kesembuhan.

“Untuk saudara-saudara kita yang sedang menjalani perawatan, saya berharap mendapatkan penanganan terbaik dan segera diberikan kesembuhan. Kepada keluarga korban yang meninggal dunia, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini,” katanya.

Menurut Chandra, tragedi yang terjadi dalam gelaran drag race di Kotamobagu harus menjadi perhatian serius dalam penyelenggaraan kegiatan olahraga maupun otomotif yang melibatkan kerumunan masyarakat.

Ia menilai kegiatan olahraga dan otomotif tetap memiliki nilai positif bagi masyarakat. Namun, keselamatan penonton, peserta, panitia dan seluruh pihak yang terlibat harus ditempatkan sebagai prioritas.

“Kita tentu mendukung kegiatan olahraga dan otomotif yang positif bagi masyarakat. Tetapi keselamatan penonton, peserta, panitia dan seluruh pihak yang terlibat harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai sebuah kegiatan yang seharusnya menjadi hiburan justru berubah menjadi tragedi,” ungkapnya.

Chandra kemudian mendorong evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan event tersebut. Menurutnya, sejumlah aspek perlu menjadi perhatian, termasuk pengamanan lintasan, jarak aman penonton, kesiapan petugas hingga sistem mitigasi risiko.

“Peristiwa ini harus menjadi bahan evaluasi bersama. Ke depan, setiap penyelenggaraan event yang memiliki risiko tinggi harus benar-benar memperhitungkan aspek keselamatan dan memiliki sistem pengamanan yang memadai. Kita tidak ingin kejadian seperti ini kembali terulang,” harap Chandra.

Chandra menegaskan bahwa keselamatan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab panitia. Menurutnya, seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan memiliki tanggung jawab untuk memastikan aspek keselamatan diperhatikan.

Ia berharap tragedi drag race Kotamobagu tersebut dapat menjadi momentum untuk melakukan pembenahan sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Mari kita jadikan musibah ini sebagai momentum untuk berbenah. Olahraga harus memberikan semangat, prestasi dan kebahagiaan bagi masyarakat, bukan meninggalkan duka. Sekali lagi, saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga korban,” pungkas Chandra.(gnr)

Editor : Grand Regar
korban meningga kanni tragedi Kotamobagu drag race