Jalan untuk Anak-Anak Kampung, Dibangun dari Gotong Royong Penambang

Grand Regar • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:49 WIB
Jalan mulus yang dibangun dari hasil pertambangan masyarakat
Jalan mulus yang dibangun dari hasil pertambangan masyarakat

MANADOPOST.ID-Dari aktivitas pertambangan emas, tumbuh sebuah cerita tentang kepedulian terhadap kampung halaman.

Di Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Sulawesi Utara, sejumlah penambang emas bersama warga dan tokoh masyarakat memilih mengembalikan sebagian hasil kebersamaan mereka untuk sesuatu yang langsung dirasakan masyarakat: membangun dan memperbaiki jalan kampung.

Gerakan itu lahir bukan dari sebuah proyek pemerintah, melainkan dari percakapan sederhana di tengah masyarakat. Para penambang, warga, dan tokoh setempat duduk bersama, melihat kondisi lingkungan, lalu sepakat melakukan sesuatu secara swadaya.

Mereka kemudian membentuk “Gerakan Penambang Bangun Kampung Ratatotok”, sebuah gerakan yang diarahkan untuk memperbaiki sejumlah ruas jalan lingkungan yang selama ini membutuhkan perhatian.

Ketua Investigasi Komite Advokasi Hukum Nasional Indonesia (KANNI), Chandra E. Damopolii, menilai gerakan tersebut sebagai gambaran nyata semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat.

“Ini bentuk kepedulian para penambang untuk membangun kampung. Mereka tidak hanya berbicara, tetapi mengambil bagian secara langsung,” ujar Chandra, Sabtu (22/8/2026).

Ketika Jalan Rusak Menjadi Perhatian Bersama

Bagi masyarakat di wilayah permukiman, jalan bukan sekadar hamparan aspal.

Jalan menjadi urat nadi aktivitas sehari-hari. Dari jalan itulah anak-anak berangkat ke sekolah, warga menuju tempat kerja, kendaraan membawa hasil usaha, hingga aktivitas sosial masyarakat berlangsung.

Karena itu, ketika sebagian jalan mengalami kerusakan, dampaknya langsung dirasakan warga.

Kondisi tersebut yang kemudian menjadi salah satu alasan munculnya gerakan pembangunan jalan secara swadaya.

Chandra mengatakan, jalan berlubang dan rusak tidak hanya mengganggu mobilitas, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

“Justru karena melihat kondisi di lapangan, muncul kesadaran untuk melakukan sesuatu. Ini gagasan yang positif dan patut diapresiasi,” katanya.

Dari kesadaran itulah, gerakan yang awalnya berupa komunikasi informal berkembang menjadi aksi bersama.

Rp1 Miliar untuk Jalan Kampung

Dana yang berhasil dihimpun dalam gerakan tersebut diinformasikan mencapai sekitar Rp1 miliar.

Anggaran itu diarahkan untuk pengerjaan sejumlah ruas jalan, baik menggunakan metode hot mix maupun perbaikan dengan sistem patching.

Beberapa titik yang masuk dalam rencana pengerjaan meliputi akses Jalan Lakban, Simpang Tiga Lakban, Lorong Ci Mei, akses menuju SD Inpres, kawasan depan Lapangan Narato, Lapangan Narato Tengah, Simpang Tiga Perkuburan, hingga Simpang Tiga Penjual Daging.

Ruas-ruas tersebut bukan sekadar titik di atas peta. Di sanalah aktivitas masyarakat berlangsung setiap hari.

Dengan diperbaikinya akses tersebut, manfaatnya diharapkan langsung dirasakan warga yang menggunakan jalan untuk bekerja, bersekolah maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.

Gotong Royong dari Banyak Tangan

Gerakan ini juga menunjukkan bahwa pembangunan lingkungan tidak selalu harus menunggu satu pihak bekerja sendiri.

Sejumlah unsur masyarakat dan stakeholder ikut terlibat. Camat dan Kapolsek disebut turut memberikan dukungan, sementara tokoh masyarakat Tonny Lasut dipercaya sebagai pengarah.

Tim kerja dipimpin Valdy Suak, bersama Steven Mamahit, Zainal Supit, Makrun Lailamu, Allen Tarore, dan Billy Tiwow.

Untuk perencanaan dan penganggaran dikoordinasikan Deddy Rundengan, dengan Erwin Tumbel sebagai bendahara.

Sementara koordinasi teknis dipercayakan kepada Maspikun dan bidang pengawasan kepada Imaludin Kadi.

Di bidang informasi, koordinasi dilakukan Billy Lumintang bersama Ahmad Katili dan Tivay Nasaru.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa gerakan ini tidak berdiri di atas satu kelompok saja. Ada penambang, warga, tokoh masyarakat dan unsur lainnya yang mengambil bagian sesuai peran masing-masing.

Dari Penambang, Kembali ke Kampung

Di tengah berbagai sorotan terhadap aktivitas pertambangan, gerakan ini menghadirkan sisi lain dari kehidupan para penambang di Ratatotok.

Ada aktivitas ekonomi, tetapi di sisi lain ada pula kepedulian terhadap tempat mereka tinggal dan mencari penghidupan.

Bagi Chandra, hal tersebut penting untuk dilihat sebagai bagian dari semangat membangun kampung.

Ia menilai kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, tokoh masyarakat dan pemerintah di tingkat lokal dapat menjadi kekuatan untuk menyelesaikan persoalan yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan warga.

Pembangunan jalan pun akhirnya bukan hanya soal beton, aspal atau hot mix.

Ada cerita tentang bagaimana sebuah persoalan bersama bisa menjadi alasan orang-orang untuk duduk bersama, mengumpulkan kekuatan dan kemudian bekerja bersama.

“Semoga momentum ini menjadi awal gerakan yang lebih besar. Apa yang dilakukan para penambang Ratatotok bisa menjadi contoh bahwa membangun kampung adalah tanggung jawab bersama,” pungkas Chandra.

Di Ratatotok, jalan yang dibangun itu mungkin hanya beberapa kilometer dan berada di antara permukiman warga.

Namun, di balik jalan tersebut ada pesan yang lebih panjang: hasil dari aktivitas di kampung, pada akhirnya diharapkan kembali memberi manfaat bagi kampung.(gnr)

Editor : Grand Regar
jalan