MANADOPOST.ID-Tudingan bahwa pihak keamanan PT Bhineka Mancawisata (BMW) melakukan pencurian buah kelapa dibantah dengan tegas. Pihak security menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan merupakan bagian dari pengamanan aset perusahaan setelah ditemukan adanya pengambilan buah kelapa dari areal lahan PT BMW di Desa Jayakarsa.
Sebelumnya, sebuah postingan di media sosial menyebutkan adanya 1.700 butir kelapa yang diduga diambil oleh pihak security. Namun, berdasarkan hasil penghitungan terhadap buah kelapa yang berhasil diamankan oleh pihak perusahaan, jumlahnya sebanyak 1.020 butir.
Pihak security menegaskan bahwa buah kelapa tersebut bukan diambil untuk kepentingan pribadi, melainkan diamankan karena berasal dari areal lahan yang berada dalam penguasaan PT BMW.
Petugas security PT BMW, Sandri Dante, menjelaskan persoalan bermula ketika dirinya menerima informasi dari warga mengenai adanya aktivitas pemetikan dan pengambilan buah kelapa di areal lahan perusahaan.
Menindaklanjuti informasi tersebut, Sandri kemudian mendatangi lokasi dan mendapati sejumlah warga masih berada di tempat. Saat ditegur dan diingatkan mengenai status lahan, pihak yang berada di lokasi menyampaikan bahwa mereka masih menganggap lokasi tersebut sebagai milik mereka.
Sandri kemudian meminta pihak yang mengklaim memiliki hak atas lahan maupun tanaman untuk dapat menunjukkan dasar kepemilikan atau dokumen yang dapat disampaikan kepada pihak perusahaan.
Setelah itu, buah kelapa yang telah dipindahkan dari lokasi kemudian diamankan kembali oleh pihak perusahaan.
Berdasarkan hasil penghitungan, jumlah buah kelapa yang berhasil diamankan sebanyak 1.020 butir. Sandri menegaskan, personel security tidak melakukan pengangkutan kelapa sebagai bentuk pengambilan hasil untuk kepentingan pribadi. Security hanya mendampingi dan melakukan pengamanan terhadap proses pengangkutan yang dilakukan oleh pekerja harian perusahaan.
“Siap, tidak mencuri, Pak. Kalau untuk pengangkatan kelapa itu pekerja harian dari perusahaan. Kami security hanya mendampingi dan melakukan pengamanan,” ujar Sandri.
Buah kelapa yang berhasil diamankan tersebut kemudian ditempatkan di area Pos Bumame untuk mencegah terjadinya pengambilan kembali dan menunggu arahan lebih lanjut dari manajemen perusahaan.
Terkait jumlah buah kelapa, pihak perusahaan juga meluruskan informasi yang beredar di media sosial.
Dalam postingan yang beredar disebutkan jumlah sekitar 1.700 butir kelapa. Sementara berdasarkan penghitungan terhadap buah kelapa yang berhasil diamankan oleh pihak perusahaan, jumlahnya sebanyak 1.020 butir.
Ditegaskan manajemen, perbedaan tersebut perlu diluruskan agar informasi yang beredar di masyarakat tidak menimbulkan kesalahpahaman. Angka 1.020 butir merupakan jumlah buah kelapa yang berhasil diamankan dan dihitung oleh pihak perusahaan.
Mantan Aparat Desa sekaligus tokoh masyarakat setempat, Benhart Dante, turut membantah narasi yang beredar di media sosial mengenai dugaan pencurian yang dilakukan oleh pihak security.
Menurut Benhart, berdasarkan pengetahuannya mengenai riwayat kepemilikan lahan, lokasi tersebut telah beralih kepada PT BMW melalui transaksi dengan pemilik sebelumnya. Dengan demikian, menurutnya, tanaman yang berada di atas lahan tersebut, termasuk buah kelapa, merupakan bagian dari aset yang berada dalam penguasaan perusahaan.
“Tanah ini yang punya adalah milik PT BMW. Mereka mengambil butir kelapa itu, padahal itu milik BMW, bukan milik mereka. Ibu itu sudah tidak punya hak lagi karena sudah berpindah tangan ke perusahaan,” ujar Benhart.
Benhart mengatakan dirinya mengetahui adanya aktivitas pengangkutan kelapa setelah mendapatkan informasi dari pekerja. Informasi tersebut kemudian dikonfirmasi dan disampaikan kepada pihak manajemen perusahaan.
Ia menilai tindakan security dalam mengamankan buah kelapa merupakan bagian dari tugas pengamanan perusahaan.
“Itu tidak benar. Security bekerja untuk melakukan pengamanan dan menjalankan SOP perusahaan,” tegas Benhart.
Sementara itu, Fanli Karohang, warga Desa Jayakarsa yang ikut mengangkut kelapa tersebut, mengatakan dirinya tidak mengetahui adanya persoalan mengenai status kepemilikan lahan maupun buah kelapa. Fanli mengaku hanya menjalankan pekerjaan sebagai buruh angkut setelah diminta bantuan oleh seorang perempuan di lokasi.
Menurut Fanli, sebelum pekerjaan dilakukan, dirinya mendapat informasi bahwa situasi telah aman dan telah ada komunikasi dengan pihak perusahaan. Atas dasar informasi tersebut, ia bersama rekan-rekannya kemudian melakukan pengangkutan kelapa berdasarkan kesepakatan upah.
Fanli menegaskan bahwa dirinya bersama pekerja lainnya hanya menjalankan pekerjaan pengangkutan berdasarkan permintaan yang diterimanya dan tidak terlibat dalam persoalan kepemilikan lahan maupun buah kelapa.
Pihak PT Bhineka Mancawisata menegaskan bahwa tindakan security di lapangan merupakan bagian dari pengamanan aset perusahaan dan bukan tindakan untuk mengambil keuntungan pribadi dari buah kelapa tersebut.
Perusahaan menghormati hak setiap pihak untuk menyampaikan pendapat maupun klaim mengenai kepemilikan lahan. Namun, apabila terdapat pihak yang merasa memiliki hak atas lahan maupun tanaman yang berada di atasnya, perusahaan mempersilakan agar klaim tersebut dapat dibuktikan melalui dokumen dan mekanisme hukum yang berlaku.
Perusahaan juga mengimbau agar informasi mengenai persoalan tersebut tidak disampaikan secara sepihak di media sosial sebelum dilakukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Perlu diluruskan pula bahwa lahan yang menjadi lokasi persoalan merupakan bagian dari aset PT Bhineka Mancawisata (PT BMW). Adapun Marriott merupakan pihak operator/brand hotel berdasarkan kerja sama dengan perusahaan dan bukan pihak yang melakukan pengambilan maupun pengamanan buah kelapa tersebut.
Dengan demikian, tindakan security PT BMW dalam kejadian tersebut merupakan tindakan pengamanan terhadap buah kelapa yang berada di atas lahan perusahaan, bukan pencurian untuk kepentingan pribadi.(gnr)
Editor : Grand Regar