MANADOPOST.ID — Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta meluncurkan proyek dua tahun untuk melindungi dan melestarikan situs bangkai kapal perang USS Houston yang karam pada Perang Dunia II di perairan Indonesia. Proyek ini melibatkan pemerintah Indonesia, masyarakat lokal, dan para ahli AS untuk menjaga situs bersejarah tersebut dari penjarahan ilegal serta aktivitas penangkapan ikan yang berpotensi merusak.
Diluncurkan pada 22 Oktober 2026, proyek ini didukung Dana Hibah Duta Besar untuk Pelestarian Budaya (Ambassadors Fund for Cultural Preservation/AFCP) dari Departemen Luar Negeri AS.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama lembaga swadaya masyarakat Perkumpulan Eksotika Desa Lestari akan menjalankan program tersebut. Salah satu fokus utamanya adalah memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengawasan dan pelestarian warisan maritim yang memiliki nilai sejarah bagi Indonesia dan Amerika Serikat.
Melalui proyek ini, tiga tim pengawasan berbasis masyarakat akan dibentuk dan dilatih untuk memantau kondisi situs bangkai kapal, mencegah penjarahan, serta mengawasi praktik penangkapan ikan yang berpotensi merusak lingkungan dan situs tersebut.
Selain membangun sistem pengawasan, proyek ini juga mencakup penyusunan materi pelatihan, pengembangan perangkat pelaporan, pembentukan pusat informasi, dan pelaksanaan kampanye kesadaran masyarakat. Para ahli dari AS akan memberikan dukungan dalam pengembangan berbagai perangkat tersebut.
Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar AS, Joy Sakurai, mengatakan perlindungan situs USS Houston merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kerja sama berbagai pihak.
“Melindungi situs USS Houston adalah tanggung jawab kita bersama. Melalui proyek ini, masyarakat Indonesia, mitra pemerintah, dan para pakar AS akan bekerja sama untuk melindungi tempat istirahat terakhir dari ratusan tentara Amerika dan situs penting sejarah Perang Dunia II,” kata Sakurai.
Ia menambahkan, pelestarian situs tersebut menjadi salah satu cara untuk menghormati sejarah dan pengorbanan para prajurit yang gugur, sekaligus memperkuat kemitraan antara kedua negara.
USS Houston memiliki nilai sejarah penting dalam Perang Dunia II. Pada 1 Maret 1942, kapal penjelajah Amerika tersebut bersama kapal penjelajah Australia HMAS Perth terlibat pertempuran melawan kekuatan musuh di Selat Sunda, lepas pantai Jawa.
Dalam pertempuran itu, sebanyak 650 pelaut dan Marinir Amerika termasuk di antara lebih dari 1.200 pelaut yang gugur. Bangkai USS Houston kini menjadi makam perang sekaligus tempat peristirahatan terakhir bagi banyak anggota awaknya.
Namun, situs tersebut menghadapi ancaman penjarahan ilegal dan praktik penangkapan ikan yang merusak. Kondisi ini mendorong perlunya pengawasan berkelanjutan serta keterlibatan masyarakat sekitar untuk menjaga kelestarian bangkai kapal.
Melalui pemberdayaan komunitas lokal, proyek tersebut diharapkan dapat memperkuat perlindungan warisan maritim sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga situs bersejarah di bawah laut.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama Indonesia dan AS dalam bidang pelestarian budaya, keamanan maritim, serta hubungan antarmasyarakat.
Nia Naelul Hasanah Ridwan, pemimpin proyek AFCP 2026, menegaskan bahwa pelestarian jangka panjang USS Houston membutuhkan komitmen bersama, terutama dari pemerintah daerah dan masyarakat lokal yang berada di garis terdepan pengawasan.
“USS Houston merupakan situs yang harus kita lindungi bersama-sama, dan hal tersebut membutuhkan komitmen bersama dari pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat, dengan pemerintah daerah dan komunitas lokal berada di garis terdepan dalam pelestarian jangka panjangnya,” ujar Nia.
Nia berharap proyek tersebut dapat menjadikan USS Houston sebagai model percontohan kerja sama bilateral yang menempatkan masyarakat sebagai unsur utama dalam pengelolaan warisan budaya.
Nia merupakan kandidat doktor arkeologi di Universitas Flinders sekaligus peneliti ilmiah arkeologi maritim bawah air di Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Dana Hibah Duta Besar untuk Pelestarian Budaya atau AFCP dibentuk pada 2001 untuk mendukung pelestarian warisan budaya di berbagai negara. Program ini mencakup perlindungan bangunan bersejarah, situs arkeologi, naskah kuno, hingga bangkai kapal.Melalui proyek USS Houston, Indonesia dan Amerika Serikat berupaya memastikan kisah kapal tersebut serta pengorbanan para awaknya tetap dikenang oleh generasi mendatang.
Selain menjaga nilai sejarah, keterlibatan masyarakat dalam pengawasan diharapkan memberikan fondasi bagi pelestarian situs secara berkelanjutan. Kerja sama lintas negara dan dukungan komunitas lokal menjadi bagian penting untuk memastikan situs tersebut terlindungi dari aktivitas yang dapat merusak atau menghilangkan bukti sejarah maritim Perang Dunia II.(***)
Editor : Tanya Rompas