MANADOPOST.ID — Kamis (5/6) tadi malam, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) bukan sekadar venue sepak bola.
Ia menjelma menjadi lautan semangat merah putih, tempat di mana mimpi, taktik, dan kebanggaan bangsa melebur jadi satu.
Dalam laga krusial lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia berhasil menundukkan China dengan skor tipis 1-0.
Dari hasil pantauan langsung Manado Post, atmosfer stadion begitu gemuruh. Sejak peluit pertama dibunyikan, suara ribuan suporter menggema. Sorakan, lagu-lagu dukungan, dan kibaran bendera membuat energi para pemain di lapangan tak pernah surut.
“Kami bermain untuk pendukung, untuk masyarakat Indonesia, untuk para pecinta bola, dan tentunya untuk negara ini,” ucap kapten Timnas, Jay Idzes, usai laga.
Bek tangguh yang juga bermain di klub Serie B Italia ini menambahkan, “Saya sudah melihat momen ini sejak lama. Itulah kenapa saya berdiri di sini hari ini. Saya belum memikirkan pertandingan selanjutnya. Saya masih ingin menikmati kemenangan ini bersama rakyat Indonesia. Nanti kita lihat ke mana ini akan membawa kami," ungkapnya.
Satu-satunya gol dalam pertandingan ini dicetak oleh Ole Romeny di menit ke-45 melalui titik penalti.
Setelah sbelumnya, Ricky Kambuaya dijatuhkan oleh pemain bertahan China di kotak terlarang, dan setelah pengecekan VAR, wasit asal Uzbekistan, Rustam Lutfullin, menunjuk titik putih.
Romeny pun dengan tenang menaklukkan kiper China, Wang Dalei, dan mengubah GBK menjadi lautan sukacita.
Namun, sorotan utama malam itu bukan hanya gol Romeny atau pertahanan solid Indonesia. Ada satu momen yang mencuri hati para pencinta sepak bola nasional, yakni banyak pemain-pemain lokal yang selama ini nyaris tak pernah terlihat di Timnas, dipercaya pelatih untuk memperkuat Timnas. Hasilnya, mereka bermain dengan sangat bagus. Salah satunya adalah Beckham Putra Nugraha.
Masuk pada menit ke-74 menggantikan Yakob Sayuri, Beckham tampil penuh percaya diri. Gelandang muda Persib Bandung ini menunjukkan bahwa kualitas lokal bukan pelengkap tetapi kekuatan utama.
Dalam waktu singkat, ia memberi ritme baru di lini tengah dan membantu menjaga dominasi Indonesia hingga peluit akhir.
Pelatih Patrick Kluivert patut mendapat pujian besar. Dengan keberanian memainkan banyak pemain lokal dan kombinasi strategis bersama nama-nama naturalisasi, formasi yang ia terapkan malam itu sangat efektif.
Ia memulai dengan Thom Haye di lini tengah sebagai pengatur tempo, lalu memasukkan Kevin Diks dan Beckham sebagai penyegar permainan.
Egy Maulana Vikri, Kambuaya, dan Romeny menjadi trisula yang terus menekan pertahanan China dari berbagai sisi.
Meski China sempat mengancam di babak kedua terutama lewat peluang Wang Yudong dan Zhang Yuning pertahanan Indonesia tetap kokoh, dengan Emil Audero tampil gemilang di bawah mistar.
Di menit-menit akhir, Sananta hampir menambah keunggulan Indonesia, namun penyelesaian akhirnya masih bisa diblok oleh bek lawan.
Tambahan waktu enam menit tak mengubah hasil. Peluit panjang berbunyi, dan SUGBK meledak dalam kebahagiaan.
Baca Juga: BRI RO Manado Berbagi Hewan Kurban, Disalurkan di Lima Masjid
Kemenangan tadi malam bukan cuma soal tiga poin. Ini tentang keyakinan yang tumbuh, tentang anak muda yang diberi kesempatan, dan tentang pelatih yang percaya pada kekuatan negeri ini.
Jay Idzes sebagai Kapten selalu memimpin dengan hati, dan Patrick Kluivert yang menyatukan potensi Indonesia dalam satu formasi berani.
Indonesia belum selesai. Perjalanan masih panjang. Seprti kata sang kapten, mari kita lihat kemana perjuangan bersama ini akan dibawah. Namun, apa pun itu tetap dukung Timnas Indonesia di Kualifikasi berikutnya.
Baca Juga: Daya Mampu 61.608 MW, PLN Jamin Keandalan Listrik di Momen Perayaan Idul Adha
Editor : Ayurahmi Rais