MANADOPOST.ID – Banyak cerita menarik tersaji dalam laga SMPN 1 Surabaya (Spensa) kontra SMPN 21 Surabaya (Spendusa) di ajang Junior Exhibition Games 2025, Jumat (3/10). Duel ini menjadi momen spesial, bukan hanya karena kemenangan Spensa, tapi juga lantaran terselip doa untuk korban ambruknya bangunan masjid di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo.
Pertandingan tersebut menandai comeback Spensa setelah tujuh tahun absen dari kompetisi DBL. Kembalinya Spensa terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan ulang tahun Kepala SMPN 1 Surabaya, Eko Widayani, yang turut hadir bersama orang tua para pemain di DBL Arena.
Namun yang paling menyentuh, para pemain Spensa menuliskan pesan di sepatu mereka bertuliskan “Pray for Ponpes Al Khoziny”. Tulisan itu sebagai bentuk simpati atas tragedi robohnya masjid pesantren yang menelan banyak korban, mayoritas seusia mereka.
“Kami turut merasakan duka atas musibah itu, apalagi korban banyak yang seusia kami,” kata M. Zidane F.R Rahmatullah, top scorer Spensa dengan 6 poin, yang turut mengantar timnya menang 19-10 atas Spendusa.
Pesan doa itu juga menjadi dukungan moral untuk para tim penyelamat. Apalagi salah satu pemain Spensa, Valdiano Widyantoro Putra, adalah anak dari anggota BPBD Surabaya yang ikut terjun langsung dalam operasi evakuasi. Valdiano sendiri sempat mencetak three point di laga tersebut. “Dari cerita Valdiano, kami jadi lebih tahu kondisi di lapangan. Dari situlah muncul ide menuliskan pesan di sepatu,” tambah Zidane.
Secara permainan, duel berlangsung seru. Spendusa sempat menahan Spensa di babak pertama, namun keunggulan mental membuat Spensa lebih tenang. Lawan justru banyak melakukan foul, yang berhasil dikonversi menjadi poin.
Kepala SMPN 1 Surabaya, Eko Widayani, mengaku bangga atas penampilan timnya, baik putra maupun putri. Sebelumnya, tim basket putri Spensa juga menang 15-7 atas SMP Angelus Custos. “Anak-anak bermain lepas, tidak demam panggung, meski kami sudah lama absen di DBL,” ujar Eko.
Menurutnya, kembalinya Spensa ke DBL tahun ini tak lepas dari dukungan guru dan orang tua yang intens mendampingi siswa berlatih. “Semoga panggung ini bisa jadi pengalaman berharga untuk membangun karakter anak-anak,” pungkasnya. (*)
Editor : Jasinta Bolang