MANADOPOST.ID – Audisi Umum PB Djarum 2026 kembali hadir dengan jangkauan yang lebih luas. Setelah empat tahun terakhir seluruh rangkaian seleksi dipusatkan di Kudus, tahun ini pencarian bibit pebulutangkis muda berbakat akan digelar di tiga kota sekaligus, yakni Pekanbaru, Makassar, dan Kudus. Langkah tersebut menjadi upaya PB Djarum untuk menjangkau lebih banyak talenta potensial dari berbagai daerah, termasuk Sumatra dan Sulawesi, yang selama ini memiliki keterbatasan akses mengikuti audisi di Jawa Tengah.
Tahun ini, Audisi Umum PB Djarum akan digelar di tiga kota, yakni Pekanbaru (7–12 Juli), Makassar (4–9 Agustus), dan Kudus (8–13 September). Ekspansi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa PB Djarum ingin menemukan lebih banyak talenta muda potensial dari berbagai daerah di Indonesia.
Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation sekaligus Ketua PB Djarum, Yoppy Rosimin, mengatakan keputusan menghadirkan audisi di Pekanbaru dan Makassar merupakan respons atas tingginya antusiasme masyarakat serta keinginan untuk memperluas jangkauan pencarian atlet muda berbakat.
“Tidak hanya yang berada di Pulau Jawa, tetapi juga dari Sumatra dan Sulawesi. Kami berharap tahun ini dapat menemukan mutiara-mutiara terpendam yang selama ini belum muncul ke permukaan,” ujar Yoppy.
Pencarian talenta tahun ini menyasar tiga kelompok usia, yakni U-11, KU 11, dan KU 12, baik putra maupun putri. Namun, yang dicari bukan sekadar pemain dengan pukulan keras atau kecepatan tinggi. Tim pencari bakat menegaskan bahwa karakter, kecerdasan bermain, dan mental juara menjadi faktor yang sama pentingnya.
Ketua Tim Pencari Bakat Audisi Umum PB Djarum 2026, Sigit Budiarto, menegaskan proses seleksi akan berlangsung ketat. Menurut juara dunia 1997 tersebut, PB Djarum membutuhkan atlet yang memiliki kombinasi teknik mumpuni dan karakter istimewa agar mampu bersaing di level dunia.
Menariknya, tahun ini menjadi debut Hendrawan sebagai bagian dari proses audisi sejak bergabung dengan PB Djarum. Juara Dunia 2001 itu melihat perluasan lokasi audisi sebagai peluang emas untuk menjaring lebih banyak bibit unggul yang sebelumnya terkendala jarak menuju Kudus.
Sementara itu, Koordinator Atlet Putra Leonard Holvy de Pauw menilai pemain dari Sumatra dan Sulawesi memiliki keunggulan tersendiri berupa kekuatan fisik, daya juang, dan mental bertanding yang kuat. Modal tersebut dinilai sangat potensial untuk dikembangkan melalui sistem pembinaan PB Djarum.
Perjalanan menuju PB Djarum sendiri tidak akan mudah. Seleksi dimulai dari tahap screening dengan sistem gugur hingga karantina selama empat minggu yang penuh evaluasi. Hanya peserta terbaik yang berhak mendapatkan Djarum Beasiswa Bulutangkis dan bergabung menjadi bagian dari PB Djarum.
Kini, kesempatan itu terbuka lebar bagi anak-anak Indonesia dari berbagai daerah. Pertanyaannya, siapakah yang akan menjadi penemuan terbesar Audisi Umum PB Djarum 2026? Jawabannya mungkin sedang bersiap mengayunkan raket di Pekanbaru, Makassar, atau Kudus.(AME)
Editor : Amelia Beatrix