Polwan Sulut Jenifer Mamoto Persembahkan Emas untuk Sulut di Kejurnas Hapkido 2026

Gregorius Mokalu • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 21:30 WIB
Jenifer (Ke dua dari kiri) berdiri sebagai juara nomor Daeryun atau Bertarung Senior Putri Under 63 kilogram pada Kejuaraan Nasional Hapkido Indonesia IX Tahun 2026.
Jenifer (Ke dua dari kiri) berdiri sebagai juara nomor Daeryun atau Bertarung Senior Putri Under 63 kilogram pada Kejuaraan Nasional Hapkido Indonesia IX Tahun 2026.

MANADOPOST.ID—Ada atlet yang dikenang karena sering menang. Ada pula yang kisahnya membekas karena pernah jatuh, sempat menjauh dari arena, lalu kembali membuktikan dirinya masih layak berdiri di podium tertinggi.
Kisah itu kini melekat pada Jenifer Priscila Mamoto.

Di GOR Siger, Bandar Lampung, 26-27 September 2026, polisi wanita asal Sulawesi Utara tersebut kembali mengenakan dobok Hapkido dan masuk ke arena pertandingan. Tak banyak yang tahu bahwa di balik langkahnya menuju gelanggang tersimpan perjalanan panjang yang penuh kerja keras, kekecewaan, serta keputusan besar yang tidak mudah diambil seorang atlet.

Saat laga berakhir, Jenifer berdiri sebagai juara nomor Daeryun atau Bertarung Senior Putri Under 63 kilogram pada Kejuaraan Nasional Hapkido Indonesia IX Tahun 2026. Medali emas yang diraihnya terasa lebih bermakna karena datang setelah perjalanan yang tidak selalu mulus.

Nama Jenifer sebenarnya sudah lama dikenal di dunia olahraga prestasi Sulawesi Utara. Pada 2022, ketika masih berpangkat Briptu dan bertugas di Sipropam Polresta Manado, ia berhasil meraih Juara I Bela Diri Polri dalam rangka Hari Bhayangkara ke-76.

Prestasi tersebut mengantarkannya menerima penghargaan langsung dari Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dalam peringatan HUT ke-74 Polwan RI di Mabes Polri.

Di tengah tugas sebagai anggota Polri, Jenifer tetap menjaga ritme latihan sebagai atlet. Disiplin sebagai polisi berjalan beriringan dengan disiplin sebagai petarung. Keduanya membentuk karakter yang kemudian mengantarkannya menjadi salah satu atlet andalan Sulawesi Utara.

Kemampuan itu kembali terlihat pada Babak Kualifikasi PON XXI di Yogyakarta tahun 2023. Turun di kelas 63 kilogram putri, Jenifer sukses mempersembahkan medali emas bagi Sulawesi Utara sekaligus mengamankan tiket menuju PON Aceh-Sumatera Utara.

Status juara Pra-PON membuatnya datang ke PON XXI dengan harapan besar. Ia bukan sekadar peserta yang melengkapi kontingen. Ia datang sebagai salah satu atlet yang diproyeksikan mampu membawa pulang medali.
Harapan itu hampir menjadi kenyataan sempurna.
Pada 10 September 2024 di GOR KONI Banda Aceh, Jenifer melangkah hingga partai final nomor Daeryun Putri 59-63 kilogram.

Di pertandingan terakhir, ia berhadapan dengan Devi Safitri dari Kalimantan Barat. Pertarungan berlangsung ketat hingga detik-detik akhir. Namun berdasarkan catatan pertandingan yang dipublikasikan ANTARA, Jenifer harus mengakui keunggulan lawannya dengan skor tipis 13-10.

Emas yang sudah berada di depan mata akhirnya lepas. Ia pulang dengan medali perak.
Bagi banyak atlet, medali perak PON adalah prestasi yang membanggakan.

Namun bagi seorang petarung yang sudah begitu dekat dengan kemenangan, hasil tersebut tentu menyisakan ruang kosong yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Setelah PON, Jenifer sempat menepi dari arena pertandingan. Ia memilih memberi kesempatan kepada atlet-atlet yang lebih muda untuk berkembang dan mendapatkan ruang tampil. 

Sebagai atlet senior, ia memahami regenerasi adalah bagian penting dalam olahraga prestasi.
Namun semangat seorang petarung rupanya tidak pernah benar-benar hilang.

Dua tahun berlalu. Waktu berjalan. Atlet-atlet muda mulai bermunculan. Tetapi ketika kesempatan kembali datang, Jenifer memutuskan untuk sekali lagi memasuki arena.

Ia kembali membawa pengalaman sebagai juara Pra-PON. Membawa pengalaman sebagai peraih medali perak PON. Membawa disiplin seorang anggota Polri yang terbiasa menghadapi tekanan dan tantangan.

Yang lebih penting, ia membawa pengalaman seorang atlet yang pernah merasakan betapa tipisnya jarak antara emas dan perak. Lampung kemudian menjadi tempat semua pengalaman itu bertemu. Satu demi satu lawan dihadapi. Satu demi satu pertandingan dilewati.

Hingga akhirnya Jenifer berdiri di podium tertinggi Kejurnas Hapkido Indonesia IX 2026.
Karena itulah medali emas ini terasa berbeda. Ini bukan sekadar kemenangan atas lawan yang berada di hadapannya.

Ini adalah kemenangan atas keraguan, kemenangan atas jeda yang sempat diambil, serta kemenangan atas pertanyaan apakah seorang atlet yang pernah menepi masih mampu kembali ke level tertinggi.

Jenifer tidak menjawab pertanyaan itu melalui pidato panjang atau pernyataan heroik.
Ia menjawabnya dengan cara seorang petarung.
Masuk ke arena. Bertanding.

Perjalanan Jenifer juga menjadi cerminan perkembangan Hapkido Sulawesi Utara yang terus melahirkan atlet-atlet berprestasi di tingkat nasional. Dari generasi ke generasi, olahraga ini terus tumbuh dan menunjukkan eksistensinya.

Dan di antara deretan nama yang pernah mengharumkan daerah, Jenifer Mamoto kini menorehkan satu cerita yang layak dikenang. Cerita tentang seorang atlet yang pernah berdiri di final PON dan melihat emas jatuh ke tangan lawannya. Cerita tentang seorang senior yang memilih memberi ruang kepada generasi berikutnya.

Dan cerita tentang keberanian untuk kembali.
Lampung menjadi saksi bahwa kemampuan seorang juara tidak pernah benar-benar hilang.
Kadang ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali bersinar.


"Puji syukur kepada Tuhan Yesus atas penyertaan-Nya sehingga saya bisa meraih hasil terbaik di Kejurnas Hapkido 2026. Terima kasih kepada keluarga, pelatih, rekan-rekan atlet, Pengprov Hapkido Sulut, serta institusi Polri yang selalu memberikan dukungan," ucap Jenifer dengan penuh rasa syukur. (*)

Editor : Gregorius Mokalu
Jenifer Mamoto hapkido medali emas sulawesi utara 2026