Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Cerita Caleg yang Pakai Alkitab dan Alquran Amplopi Pemilih, Berapa Suaranya

Clavel Lukas • Sabtu, 9 Maret 2024 | 19:55 WIB

 

Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Budi Santosa Purwokartiko (ITK.ac.id)
Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Budi Santosa Purwokartiko (ITK.ac.id)

Oleh: Marlon Sumaraw

TER-HITS. Cerita suara caleg dikaitkan jumlah amplop yang dibagikan. Itu jadi trending topic. Banyak kisah unik, lucu, sampai tragis. Bahkan semua pembicaraan di kerumunan orang, tema dan topiknya itu.

Saya pilihkan beberapa kisah kasih di hari valentine Pemilu 14 Februari 2024.

Seorang caleg di salah satu kabupaten/kota di Sulut, senyum pepsodent melihat perolehan suaranya. Begini ceritanya. Seminggu jelang pencoblosan, dia telah melakukan serangan. Idenya gila. Tapi dia yakin strateginya akan ampuh.

Dua kitab suci plus angpao disiapkan. Setelah itu, bisik-bisik, mulut ke mulut, dia mengundang orang. Warga pun berdatangan ke rumahnya. Menjemput amplop yang telah diletakkan disamping kitab suci.

Pengambilannya, sesuai keyakinan orang. Orang Kristen disiapkan Alkitab. Umat Muslim ada Alquran.

Wele-weleeeh… Hasilnya? Dari 3 ribu amplop, suaranya cuma 600. Dia gagal total tidak terpilih. Pusing, kecewa, stres dan rasa-rasanya mau gila.

Nah. Ini lain lagi. Semalam saya kongkou-kongkou dengan teman-teman komunitas salah satu organisasi. Mereka nyaleg, dan terpilih. Tapi perolehan suara tak sebanding dengan serangan. Rata-rata 40-60 persen error alias abu.

Seorang caleg cerita. Malam sebelum pencoblosan, dia tidur pukul 02.30 subuh saat masih banyak orang di rumahnya. Lalu bangun pukul 08.00 pagi untuk persiapan ke TPS.
Eh begitu keluar kamar pembantunya bilang: “Pak, ada kepala desa di kampung tetangga. Dia semalam tidak pulang dan menunggu bapak.”

Si Pak Kades ternyata meminta 200 amplop untuk diberikannya kepada orang-orang yang diklaimnya setia menunggu di rumahnya, di kampungnya.

Busyet. Ternyata setelah Pak Kades, masih ada lagi tamu yang datang. Hampir pukul 10.00 pagi di hari Pemilu 14 Februari, dia masih ditamui 2 emak-emak. Masing-masing minta 50 amplop. Sehingga di Hari H, dia masih keluarkan 300 amplop. Dan total 15 ribu amplop.

Hasilnya? Masih untung dia terpilih meski suaranya hanya 6 ribuan. Tapi khusus cerita di atas, C1 Hasil TPS menunjukkan, Pak Kades dan 2 Emak-emak telak mengelabui sang caleg. Hahaha.

===

Cerita di atas bisa disimpul:

1. Caleg sebaik apapun bila tak punya peluru, bisa tidak terpilih.

2. Caleg jelek walau punya modal, tidak otomatis terpilih.

3. Caleg baik dan punya kekuatan financial, kans besar terpilih.

“Pada dasarnya seseorang yang tindak tanduknya jelek di mata masyarakat, sekalipun banyak membagi amplop, belum tentu akan dipilih.”

===

Ada lagi cerita Panwas TPS. Singkat cerita, hari Pemilu dia panen penghasilan Rp3 juta. Honor panwas 1 jutaan, dan serangan 5 caleg dibungkusnya semua. “Hari yang membahagiakan. Wkwkwkwk,” begitu katanya.

Itulah potret buram demokrasi ibu pertiwi. Hampir 100 persen anggota DPRD Kab/Kota se Indonesia duduk di lembaga terhormat dengan cara-cara tidak terhormat.

Saya nonton salah satu content TikTok, Presiden terpilih si gemoy Prabowo Subianto berucap: Dia bertekad pemilihan ke depan berjalan fair sportif. Tidak ada lagi money politics. Supaya akan lahir wakil rakyat atau pemimpin, serta penyelenggara pemilu yang berintegritas, kapabel, dan kredibel.

Karena kecurangan sejatinya sudah dimulai sejak rekrutmen penyelenggara. KPU dan Bawaslu. Umumnya mereka duduk adalah titipan ormas dan parpol. Sehingga mereka diam-diam, rapih, silent operation, akan memihak ke pihak sponsor.

Padahal biaya Panwas yang direkrut Bawaslu bukan sedikit. Kerjaan mereka hampir tak berguna. Karena money politics berlangsung sungguh ruarrr biasa.

Saya pun jadi bertanya. Kenapa PNS/ASN tidak dibuat seperti TNI/Polri: netral alias tidak memilih saja. Sebab mereka hanya dijadikan tim sukses oleh parpolnya kepala daerah yang lagi berkuasa. Mereka jadi tidak profesional. Ada ancaman non job dan mutasi.

Padahal bila PNS/ASN dibuat netral dan tidak memilih, loyal kepada negara, mereka bisa bersama TNI/Polri jadi petugas KPPS di seluruh TPS, jadi Panwas, dll.

Uang pajak trilunan rupiah pun bisa dihemat sehemat-hematnya dengan memberdayakan TNI/Polri dan ASN jadi penyelenggara/pengawas.

Kita doakan mimpi Prabowo akan berlangsungnya Pemilu Modern yang tanpa embel-embel uang terwujud dan direyen di Pilkada serempak 27 November 2024. Supaya kita sama-sama berucap: sorry ye politik uang, sorry ye pemilihan curang, sorry ye, sorry ye.(*)

Editor : Clavel Lukas
#alquraan #Marlon Sumaraw #Sulut #caleg #pemilu #DPRD #Alkitab #amplop