Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Kecerdasan Buatan dalam Pemilu, Menyongsong Era Baru Demokrasi Oleh: Vanissa A. Eugenia Matu Mahasiswi Hubungan Internasional, UNAIR

Ayurahmi Rais • Kamis, 10 Oktober 2024 | 23:13 WIB
Vanissa A. Eugenia Matu
Vanissa A. Eugenia Matu

MANADOPOST.ID-Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah ada sejak masa pra-aksara dan kemudian semakin berkembang karena pengaruh berbagai temuan baru dari negara industri. Yakni Eropa dan Amerika. Sedangkan di Indonesia, teknologi awalnya berkembang mulai dari Internet, Radio dan Satelit.

Salah satu penggunaan radio di masa pasca kemerdekaan terjadi ketika pemerintah Indonesia berhasil mendirikan stasiun radio nasional yang dinamakan Radio Republik Indonesia (RRI) yang ternyata memiliki peran penting dalam revolusi kemerdekaan, tepatnya pada saat Agresi Militer Belanda II. Saat itu pemancar RRI di Wonosari, Yogyakarta menjadi alat penghubung utama antara tokoh nasionalis di Yogyakarta dan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi.

Selama revolusi (1945-1949) dan masa sistem Demokrasi Liberal/Parlementer (1950-1959), Media dan Demokrasi Indonesia terseret ke Barat yang liberalistis. Sebaliknya pada masa "darurat perang" (1957-1963) dan masa sistem Demokrasi Terpimpin (1959-1966), tiba-tiba Media dan Demokrasi Indonesia terpelanting ke Timur yang mirip Media Soviet-Komunis dengan meletakkan media selaku alat revolusi (Arwan, 1970).

Secara umum, kecerdasan buatan ini menjadi terobosan baru dalam dunia teknologi dengan kemampuannya yang dirancang, yaitu bisa meniru kecerdasan manusia dan hal ini dinilai akan menghadirkan berjuta manfaat dalam kehidupan manusia.

Penggunaan AI atau Artificial Intelligence berperan dalam proses informasi yang diterima oleh seseorang menjadi lebih cepat dan lengkap, berbeda dengan menggunakan buku sehingga hadirnya pemahaman yang lebih luas dan baru terhadap suatu fenomena yang sedang terjadi. Pada bulan Februari yang lalu, Indonesia telah melangsungkan pesta demokrasi (pemilu) yang terbantu karena adanya kecerdasan buatan dimana ini memudahkan rakyat dalam memilih pemimpin yang baru, karena informasi yang ada selalu diperbarui dan transparan.

Inisiatif penggunaan AI dalam pemilu di Indonesia juga mulai muncul, misalnya platform Pemilu.AI yang berperan sebagai konsultan politik yang membantu para calon legislatif memahami lebih dalam terkait aspirasi masyarakat di daerah pemilihan.

Sayangnya, selain membawa keuntungan bagi keberlangsungan pesta demokrasi ini, beberapa hal ditemukan malah merugikan, dimana keberadaan teknologi ini dianggap generatif dan memungkinkan siapa saja untuk menyebarkan berbagai konten terkait pemilu yang bisa merugikan integritas pemilu.

Teknologi ini juga menggunakaan aplikasi deepfake yang berfokus pada meniru atau memproduksi gambar, audio dan video yang sangat meyakinkan dan kemudian hal ini bisa disalahgunakan untuk memproduksi informasi hoax, yang bisa merusak reputasi kandidat atau partai politik.

Maka dari itu, menyikapi hal ini, perlu ditanamkan prinsip revolusi cara berpikir, yang berarti mengerahkan seluruh kemampuan intelektual yang ada untuk mampu berpikir kritis, bijak dan logis, serta membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjadi modal awal yang cukup menjanjikan agar di masa depan teknologi ini tidak menjadi boomerang, dan menghindari berkurangnya moral dan etika dalam bermasyarakat karena telah tumbuh menjadi generasi bangsa yang siap menghadapi dinamika perkembangan teknologi.

AI atau Artificial Intelligence, merupakan teknologi yang diciptakan oleh manusia untuk beberapa tujuan tertentu, salah satunya adalah meningkatkan efisiensi. Saat ini, Indonesia sebagai negara berkembang, secara mandiri menciptakan berbagai inovasi berkaitan dengan AI dan salah satu bentuk penggunaan AI oleh Indonesia terlihat lewat Pesta Demokrasi yang sudah berhasil dilaksanakan.

Indonesia berhasil mewujudkan tujuan dari AI ini untuk efisiensi, pengolahan data, penyebaran informasi, dlsb. Salah satu inovasi AI oleh Indonesia yang beroperasi adalah Pemilu.AI dan juga pengembangan berbagai website atau media komunikasi dan informasi lainnya.

Teknologi semakin berkembang tiap harinya dengan berbagai keuntungan dan manfaat yang ditawarkan, namun penggunaan AI secara tidak bertanggungjawab khususnya dalam bidang politik, akan menghancurkan integritas dan etika politik.

 

 

DAFTAR PUSTAKA
Gischa, S. (2020, December 21). Perkembangan Teknologi Informasi Dan Komunikasi di Indonesia Halaman all. KOMPAS.com.

https://www.kompas.com/skola/read/2020/12/21/164007469/perkembangan-teknologi-informasi-dan-komunikasi-di-indonesia?page=all
SMP, A. (2023, June 8). Mengenal Artificial Intelligence: Teknologi Yang akan Mengubah Kehidupan manusia. Direktorat SMP.

https://ditsmp.kemdikbud.go.id/mengenal-artificial-intelligence-teknologi-yang-akan-mengubah-kehidupan-manusia/

Priyasmoro, M. R. (2023, July 20). Platform Berbasis Kecerdasan buatan PEMILU.AI Resmi Diluncurkan, Tawarkan Gaya Baru Kampanye Efektif. liputan6.com.

https://www.liputan6.com/pemilu/read/5348986/platform-berbasis-kecerdasan-buatan-pemiluai-resmi-diluncurkan-tawarkan-gaya-baru-kampanye-efektif?page=2Andipate, A. A. (1970, January 1).

Media Dan Demokrasi Indonesia; Studi Komunikasi Politik. Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

https://opac.fidkom.uinjkt.ac.id/index.php?p=show_detail&id=10004&keywords=
Mahamidi, A. (2023, June 27). Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) Dalam Pemerintahan. Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pemerintahan.

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-banten/baca-artikel/16228/Pemanfaatan-Kecerdasan-Buatan-AI-dalam-Pemerintahan.html

Editor : Ayurahmi Rais