oleh:
dr. Enriko H. Rawung, MARS
SEBAGAI penulis saya adalah mantan direktur RSUD Noongan, jadi saya punya kapasitas menulis tulisan ini dengan judul di atas dan saya akan mencoba memaparkan argumentasi ilmiah yang saya miliki.
Sewaktu saya menjadi Direktur RSUD Noongan, saya ingat ketika pertama kali tercetus ide tentang health tourism.
Waktu itu pada rapat komisi 4 DPRD Prov Sulut saya mempresentasikan visi menjadikan Sulawesi Utara sebagai New Penang Indonesia dimulai dari RSUD Noongan.
Banyak sekali inovasi-inovasi dan terobosan-terobosan yang kami inisiasi waktu itu, dan saya sangat mengutamakan tentang kebersihan rumah sakit terutama toiletnya. Tapi sayang terobosan-terobosan tersebut tidak berkelanjutan.
Dasar pertama usulan pada judul tersebut di atas adalah bahwa saat ini rumah sakit belum punya nama, nama rumah sakit yang digunakan sekarang adalah nama desa tempat RS berdiri, Desa Noongan.
Jadi kalaupun kita menambahkan nama, maka nama Desa Noongan akan tetap disebutkan. Mungkin kita pernah ingat nama RS Malalayang dulu, setelah ditambahkan nama Prof dr RD Kandou, maka nama lengkapnya adalah RSUP Prof dr RD Kandou Malalayang.
Pertanyaan selanjutnya adalah nama apa yang akan kita sematkan? Ada beberapa alternatif, tapi umumnya nama rumah sakit menggunakan nama orang-orang besar yang telah meninggal.
Kita bisa memberikan nama pahlawan di wilayah tersebut, kita juga bisa memberikan nama direktur rumah sakit yang pernah berjasa di RS tersebut, atau kita juga bisa memberi nama tokoh nasional berprofesi kesehatan yang memiliki benang merah dengan wilayah dimana rumah sakit berdiri. Ada banyak pilihan.
Dari pilihan-pilihan tersebut saya memilih yang paling akhir, tokoh nasional yang memiliki benang merah atau keterkaitan dengan wilayah atau daerah dimana rumah sakit tersebut berada. Maka saya mengusulkan nama lengkap rumah sakit menjadi: RSUD Dora Marie Sigar Noongan.
Tentu banyak yang akan bertanya-tanya kenapa harus memilih nama Ibu Dora Marie Sigar? Ibunda Presiden RI Prabowo Subianto? Mari kita simak kiprah beliau.
Dora Marie Sigar, puteri Minahasa berdarah Langowan ini lahir pada tanggal 21 September 1921 di Manado, Sulawesi Utara waktu itu masih di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Dora Marie Sigar oleh masyarakat luas juga dikenal sebagai Dora Soemitro adalah istri dari seorang begawan ekonomi Indonesia Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo.
Dora Marie memiliki dua orang puteri, Biantiningsih Miderawati Djiwandono (istri Soedradjad Djiwandono) dan Marjani Ekowati Lemaistre, dan dua orang putera, Prabowo Subianto Djojohadikusumo dan Hashim Sujono Djojohadikusumo.
Dora Marie menikah dengan Soemitro Djojohadikusumo pada 7 Januari 1946 di Jerman. Dora Marie Sigar bertemu pertama kali dengan Soemitro Djojohadikusumo tahun 1945 di sebuah acara mahasiswa Kristen Indonesia di Rotterdam, Belanda. Saat itu ia belajar di sekolah ilmu keperawatan bedah di kota Utrecht, Belanda.
Pembaca yang budiman. Mari kita membayangkan suasana waktu itu, ketika Indonesia belum merdeka, seorang putri Minahasa berjuang untuk mendapatkan ijazah perawat bedah di negeri Belanda. Sebuah profesi langka bidang ilmu keperawatan kategori perawat spesialistik. Itu bukanlah usaha yang mudah, pasti berat dan secara ekonomi pasti mahal.
Tapi perjuangan Dora Marie Sigar untuk sekolah di luar negeri tingkat kesulitannya tentu tidak jauh berbeda dengan Sam Ratulangi yang menuntut ilmu Doktor Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Swiss, yang di kemudian hari beliau menjadi pahlawan nasional.
Mereka adalah tokoh-tokoh besar yang menjadi inspirasi anak-anak muda saat ini yang memutuskan sekolah di luar negeri, di mana salah satunya adalah puteri sulung saya Sarah Nattasja Rawung yang terinspirasi dari pendahulu-pendahulunya orang-orang Minahasa yang pada zaman sebelum Indonesia merdeka berani menuntut ilmu ke luar negeri.
Mohon izin sedikit saya urai tentang kiprah Sarah dan semoga ini menjadi inspirasi anak-anak milenial asal Sulut untuk berani sekolah ke LN.
Sarah berhasil menjadi satu-satunya kandidat program S2 Global Markets Local Creativities (GLOCAL) dengan beasiswa penuh dari Erasmus Mundus Joint Master’s (EMJM) yang berasal dari Indonesia Timur.
Sekadar diketahui, EMJMD adalah bagian dari program Erasmus+, sebuah program yang diprakarsai oleh Uni Eropa. Program internasional ini terdiri dari 60-120 European Credit Transfer System (ECTS).
Para penerima beasiswa ini akan menjalani program master setidaknya di dua negara anggota Uni Eropa yang berbeda.
Ilmu yang dipelajari meliputi berbagai bidang, mulai data intelligence, inovasi kesehatan, bioproduk berkelanjutan, ekonomi sirkular, animasi, kesetaraan gender hingga Hak Asasi Manusia (HAM).
Sarah sendiri menjalani Joint Master’s Degree di 3 Universitas di Eropa, yaitu University of Glasgow (United Kingdom) dan Uppsala University (Swedia) sudah selesai, dan saat ini sementara di Erasmus University Rotterdam (Belanda).
Nantinya, Sarah akan mendalami bidang Institutional Change & Creative Industries, sesuai dengan peminatan yang dipilihnya.
Dalam sebuah wawancara dengan sebuah media cetak, Sarah pernah mengatakan begini, “Saya berharap pengalaman saya dapat membuka pintu bagi mereka yang memiliki impian untuk menjelajahi dunia, melebarkan wawasan, dan mencapai prestasi gemilang di bidang pendidikan internasional,” lanjutnya.
Dalam percakapannya dengan kami, Sarah bercerita bahwa sudah banyak anak-anak milenial asal Sulawesi Utara yang sementara berjuang menuntut ilmu di Eropa.
Jadi maksud saya di sini adalah bahwa kiprah perjuangan Sam Ratulangi dan Dora Marie Sigar tempo dulu ternyata berkelanjutan sampai saat ini karena ada anak-anak muda jaman now yang terinspirasi dan mengikuti jejak mereka.
Pendek kata, menurut saya Nama Dora Marie Sigar sangat layak untuk disematkan menjadi nama rumah sakit Noongan Kec Langowan Barat, selain karena beliau berasal dari Langowan, kiprah pendidikannya di LN dan profesinya sebagai perawat spesialistik sangatlah mumpuni untuk dijadikan nama RS.
Pertanyaan selanjutnya, apa urgensinya pemberian nama rumah sakit saat ini? Jawabannya sederhana, rumah sakit Noongan di tahun 2024 ini telah berusia 90 tahun. Rumah Sakit yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Kerajaan Belanda pada tahun 1932, dan diresmikan pada tanggal 16 Juli 1934 oleh Gubernur De Jong dengan nama “Koningin Emma Sanatorium te Noongan” atau “Sanatorium Emma Noongan”, telah menjalani sejarah panjang perjalanan pelayanan kesehatan tapi sayang belum memiliki nama.
Sekaranglah saatnya. Dan nama RSUD DORA MARIE SIGAR NOONGAN adalah sebuah usulan nama rumah sakit yang memiliki akar sejarah yang kuat, berkelindan erat dengan profesi kesehatan, dan visi masa depan yang menginspirasi, sehingga menurut saya sangat layak dijadikan nama rumah sakit, semoga berkenan.(*)
- Mantan Direktur RSUD Noongan
- Pemerhati Health Tourism
- Founders North Sulawesi Health Tourism (NSHT)
- Founder komunitas Germasbersepeda.com
- Mantan Ketua GM FKPPI Manado