Oleh: Endi Biaro, Penyintas Tumor Otak
Seorang junior menangis ketika mendengar kabar saya terkena tumor otak.
Ia segera datang ke rumah, bertemu dengan istri saya, lalu sama-sama histeris. Setelah itu masuk ke teras rumah. Ia terkejut—karena melihat saya duduk santai sambil membaca buku.
Ia membayangkan saya sudah tergeletak tak berdaya, “tuna daksa” dan penuh kelumpuhan.
“Wah, Bang… ini di luar perkiraan saya,” katanya.
Banyak orang memang heran. Pasien tumor otak yang sudah dijadwalkan operasi, tapi masih bisa wara-wiri dengan bugar.
Penyakit ini, dalam bayangan umum, ngeri tak terpermanai. Kisah tragis tentang tumor otak begitu banyak beredar, hingga membuat nama penyakit ini terasa horor.
Namun sejatinya, saya belum merasakan gangguan hebat akibat “daging lebih” di balik tengkorak kepala saya. Hanya gejala sesaat: lidah agak kelu saat berbicara, atau tangan kanan terasa kesemutan.
Meski demikian, potensi daya rusaknya akan fatal. Maka dokter—atas persetujuan saya—memutuskan operasi.
Tanpa operasi, sama saja saya memelihara monster. Tumor itu akan terus membesar, menekan fungsi vital, dan merusak jaringan saraf.
Obat-obatan hanya bisa menahan dampak sementara, bukan menghilangkan sumber masalah.
Pun jalur operasi, bukan berarti 100% menuntaskan. Selalu ada risiko. Di sinilah pertarungan terjadi.
Maka saya harus kuat.
Fisik saya—jantung, hati, darah, paru-paru—sudah dicek, semua normal. Rekam medis tidak menunjukkan hal yang aneh. Saya juga tidak alergi obat.
Ini adalah modal prima menghadapi meja pembedahan.
Daya dukung lain, posisi tumor saya tidak berada di batang otak atau dekat organ vital, melainkan di sisi kiri dan tidak terlalu dalam.
Sisi terang berikutnya: teknologi kedokteran sudah jauh lebih maju dibanding sepuluh atau lima belas tahun lalu.
Ringkasnya: harapan harus terus dikobarkan. Saya memilih untuk tidak depresi menjelang operasi.
Terlebih, teman, kerabat, bahkan atasan memberi dukungan. Semesta doa berdatangan. Itu semua menguatkan keyakinan.
Semoga saya selamat melampaui semua ini.
Insya Allah.