(Oleh Dr. REINHARD TOLOLIU, SH., MH — KAJARI TOMOHON)
“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” — Soekarno
Melalui Sumpah Pemuda, mari kita buktikan bahwa persatuan bukanlah romantisme masa lalu, melainkan senjata ampuh untuk menjawab tantangan zaman. — Generasi Penerus Bangsa.
Sejak 28 Oktober 1928, ikrar "satu nusa, satu bangsa, satu bahasa" telah menjadi monumen kesadaran kebangsaan Indonesia. Namun, hampir seabad kemudian, medan perjuangan itu telah berubah wajah.
Jika para pemuda 1928 berjuang menyatukan entitas yang terpisah secara geografis, pemuda 2025 justru berjuang menyatukan masyarakat yang rentan terpecah-belah di ruang maya. Mereka adalah generasi yang hidup dalam ironi bonus demografi—di satu sisi menjadi aset strategis 64,22 juta jiwa, di sisi lain menghadapi ancaman menjadi beban demografi.
Krisis paling paradoks terjadi di lapangan ketenagakerjaan. Data BPS Februari 2025 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok usia 15-24 tahun mencapai 16,16%, sangat kontras dibandingkan TPT nasional 4,76%.
Yang perlu diwaspadai, lulusan SMK—yang dirancang untuk siap kerja—justru mencatatkan TPT tertinggi 8%. Fenomena ini mengonfirmasi tesis ekonom muda Indonesia: adanya structural mismatch antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.
Di balik statistik ekonomi, sebuah krisis secara diam diam menggerogoti jiwa generasi. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mengungkap prevalensi depresi pada kelompok 15-24 tahun mencapai 2,0%—angka tertinggi di semua kelompok usia.
Ironisnya, depresi justru lebih banyak ditemukan pada pemuda perkotaan (2,5%) dan dari kelompok ekonomi teratas (2,2%). Temuan ini membantah asumsi simplistis bahwa kesehatan mental semata-mata persoalan ekonomi.
Generasi Z Indonesia dengan penetrasi internet 87,02% adalah digital native sejati. Namun, hiperkonektivitas menciptakan paradoks partisipasi.
Survei CSIS mengungkap bahwa meski aktif berpolitik di ruang informal, minat mereka menjadi anggota partai politik sangat rendah (0,7%).
Fenomena ini mengingatkan pada analisa Manuel Castells tentang network society—di mana keterhubungan digital tidak otomatis melahirkan keterlibatan demokratis yang sehat.
Menghadapi krisis ini, pemerintah bergerak dengan Paket Ekonomi 2025 yang berhasil menekan TPT nasional. Berbagai terobosan diluncurkan secara sinergis:
Kemenaker mengintensifkan pelatihan vokasi untuk 60.000 peserta, Kemenparekraf meluncurkan program ASIK 2025 untuk UMKM muda, sementara Kemenpora memberikan stimulus melalui Wirausaha Muda Pemula.
Yang patut diapresiasi, pendekatan tidak hanya bersifat kuratif tetapi juga membangun fondasi jangka panjang—dari cetak sawah 225 ribu hektare, pembangunan 166 Sekolah Rakyat, hingga penegakan hukum anti-korupsi yang menyelamatkan Rp 13 triliun untuk Beasiswa LPDP.
Untuk melampaui pencapaian ini, diperlukan lompatan strategis:
Pertama, transformasi hukum melalui amandemen UU No. 40 Tahun 2009 dari yang deklaratif menjadi enforceable, dengan target terukur penurunan pengangguran pemuda.
Kedua, revolusi kurikulum yang mengintegrasikan literasi digital, berpikir kritis, literasi finansial, dan kesehatan mental sebagai kompetensi inti.
Ketiga, demokratisasi layanan kesehatan mental melalui konseling bersubsidi dan kampanye de-stigmatisasi nasional yang dipimpin tokoh muda.
Peringatan Sumpah Pemuda 2025 adalah momentum refleksi dan aksi. Tantangan pengangguran, krisis kesehatan mental, dan polarisasi digital adalah musuh bersama generasi ini.
Sebagaimana diingatkan Bung Karno, perjuangan generasi mendatang akan lebih berat karena melawan bangsa sendiri—ramalan yang kini terwujud dalam bentuk tantangan internal.
Oleh karena itu, semangat Sumpah Pemuda hari ini adalah tentang keberanian menempa ikrar baru: komitmen kolektif untuk bersatu melawan pengangguran, bersatu melawan krisis kesehatan mental, dan bersatu melawan perpecahan digital.
Pemerintah telah menunjukkan komitmen melalui kebijakan nyata. Kini, bola ada di tangan semua pihak. Pemuda bukan lagi objek pembangunan, melainkan subjek perubahan. Dengan sinergi antara kebijakan negara yang suportif dan energi inovatif generasi muda, bonus demografi dapat diubah menjadi dividen pembangunan yang nyata.
"Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan." — Sutan Syahrir
Dengan menavigasi tantangan, menegakkan hukum, dan memperbaiki realitas bersama-sama, jalan menuju Indonesia Emas 2045 yang adil, makmur, dan berdaulat akan semakin terbuka lebar. Inilah esensi mewarisi api, bukan abu, dari Sumpah Pemuda.(*)
Editor : Angel Rumeen