Penulis: Debby Willar, Estrellita V. Y. Waney, Novatus Senduk
Afiliasi: Dosen di Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Manado.
Kegagalan proyek konstruksi jalan dapat ditinjau dari berbagai aspek, seperti: proses pengadaan barang
dan jasa yang tidak akuntabel, proses pelaksanaan konstruksi yang tidak sesuai dengan spesifikasi,
termasuk metode pelaksanaan konstruksi dan material yang tidak memenuhi standar yang ditetapkan dan
disepakati dalam kontrak kerja konstruksi.
Mengingat Permen PUPR No. 10 Tahun 2021 tentang
Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK), di dalamnya terdapat program mutu
untuk menjamin dan mengendalikan mutu pekerjaan konstruksi, maka keberhasilan implementasi
program mutu pada pelaksanaan konstruksi infrastruktur tidak hanya ditinjau pada ketersediaan
dokumentasi rencana mutu pekerjaan konstruksi (RMK), tetapi merupakan program mutu yang
penerapannya memastikan mutu proyek konstruksi terukur dan terkendali, serta dapat dibuktikan pada
tingkat hasil mutu konstruksi yang tepat mutu, tepat sasaran, dan aman.
Studi penelitian Penulis pada beberapa perusahaan kontraktor di Manado dan sekitarnya yang sedang
dan pernah mengerjakan proyek konstruksi jalan sehubungan dengan sistem penjaminan mutu pada
pelaksanaan konstruksi infrastruktur jalan, menghasilkan temuan sebagai berikut:
Dokumentasi standar mutu muncul sebagai faktor kendala yang menghambat pelaksanaan proses mutu
dalam proyek pembangunan jalan di Indonesia.
Beberapa indikator penting tercermin dalam faktor
utama ini, termasuk kebutuhan akan prosedur operasi standar yang terperinci untuk memastikan mutu
pekerjaan proyek, standar pengukuran mutu yang diterapkan di seluruh siklus hidup proyek, dan
prosedur keselamatan konstruksi sebagai pedoman untuk semua pekerjaan konstruksi.
Ketersediaan
dokumen MC-0 yang lengkap dan teratur serta ketat diterapkan pada setiap pekerjaan konstruksi menjadi
kendala dalam pelaksanaan pengukuran mutu pada proyek jalan.
Kurangnya pengukuran mutu proyek jalan secara teratur disebabkan oleh dokumen daftar periksa dan
formulir permintaan pekerjaan proyek yang tidak lengkap, untuk memastikan pekerjaan proyek sesuai
spesifikasi, sementara proyek telah dimulai tanpa dokumen yang lengkap.
Pentingnya paket dokumentasi
mutu yang dikembangkan oleh perusahaan konstruksi harus didukung oleh pemilik proyek dan konsultan
pengawas dengan cara memeriksa dan mengevaluasi secara ketat kelengkapan semua dokumen ini dari
tahap pengadaan dan berlanjut hingga tahap pertemuan PCM.
Jaminan dokumentasi mutu yang lengkap
sebelum proyek dimulai sangat penting dalam tahap perencanaan proyek.
Perencanaan proyek yang tidak
tepat, penyelidikan lokasi awal yang tidak memadai, dan penggunaan jalan pintas sering ditemukan
menjadi hambatan untuk meningkatkan keakuratan proyek jalan; oleh karena itu harus ada ruang lingkup
proyek yang jelas dan dokumentasi desain serta informasi yang memadai yang tersedia sebelum proyek
dimulai.
Para kontraktor proyek jalan melihat proses mutu sebagai elemen penting dalam meningkatkan
pengendalian mutu, pengukuran mutu, keselamatan konstruksi dan lingkungan, serta peran dan tanggung
jawab pemangku kepentingan proyek untuk memenuhi target mutu proyek konstruksi jalan.
Selanjutnya,
budaya mutu yang mempengaruhi proses mutu konstruksi tidak dapat didatangkan dari daerah lain;
namun mengikuti sifat dan kondisi daerah setempat.
Sejumlah perusahaan kontraktor jalan setuju bahwa
kesadaran dari pemilik proyek dan kontraktor tentang mutu jalan akan berdampak pada manfaat ekonomi
dan sosial masyarakat, mendorong para pelaku konstruksi utama ini untuk menerapkan proses mutu yang
efektif meskipun di lingkungan yang sulit dalam melaksanakan proyek jalan.
Kesadaran mutu dapat
dibangun dalam organisasi dengan budaya mutu yang kuat.
Peran dan tanggung jawab pemangku kepentingan proyek berpeluang sebagai kendala yang berpengaruh
terhadap proses mutu dalam proyek pembangunan jalan.
Tanggung jawab kontraktor untuk menyediakan
material perkerasan dan tanggung jawab konsultan untuk memastikan kualitas material adalah salah satu
catatan penting terkait dengan isu-isu kritis dari proses mutu yang efektif pada proyek jalan.
Kerjasama
antara konsultan pengawas dan kontraktor untuk menangani sampel material perkerasan selama inspeksi
di laboratorium dan di lokasi proyek, haruslah memastikan material yang tepat dan bermutu yang
digunakan.
Penanganan material yang tepat untuk perkerasan konstruksi jalan membutuhkan manajemen
perkerasan yang tepat dan perencanaan logistik material, yang meliputi pengadaan, pemrosesan, dan
distribusi, untuk meningkatkan kinerja perkerasan, meningkatkan siklus hidup perkerasan dan
mengurangi biaya pengadaan dan pemeliharaan.
Salah satu faktor penting yang juga mempengaruhi proses mutu proyek infrastruktur jalan adalah tim
proyek yang kompeten, baik dari pemilik, kontraktor, maupun konsultan. Parameter perlunya
pemberdayaan tenaga profesional dalam mengelola dan membangun proyek pembangunan jalan, terkait
dengan kendala komunikasi, komitmen, dan kemauan belajar dari kesalahan mutu dan keselamatan
konstruksi.
Ditemukan pula bahwa dalam pertemuan pra-konstruksi (PCM), harus ada diskusi dan
keterlibatan positif di antara para ahli tim proyek mengenai hal-hal teknis dan metode untuk pencapaian
mutu produk infrastruktur jalan.
Persiapan proyek yang baik yang dimulai dari tahap kegiatan PCM
dapat mengarah pada keberhasilan pengendalian mutu dan pengukuran mutu kinerja pekerjaan proyek.
Alat visual seperti Building Information Modeling (BIM) adalah salah satu cara untuk mengkontrol
proses desain dan pelaksanaan konstruksi jalan yang lebih fokus pada tindakan pencegahan daripada
tindakan koreksi, serta meningkatkan partisipasi dan kolaborasi diantara tim proyek untuk pengendalian
mutu proyek yang transparan dan lebih mudah dikelola.
Dengan demikian, proses mutu dalam
pembangunan proyek jalan dipengaruhi oleh ketersediaan berbagai sumber daya dan kemauan diantara
tim proyek untuk fokus pada mutu selain fokus pada waktu dan target penyelesaian proyek.
***