PIKAT, Hari Ibu dan Refleksi Peran Pengasuhan Masa Kini
Filip Kapantow• Senin, 22 Desember 2025 | 22:19 WIB
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH. Dokter lulusan FK Unsrat, Pendiri Health Collaborartive Center (HCC), dan Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC).
MANADOPOST.ID - Jauh sebelum istilah parenting atau maternal empowerment ramai digunakan dalam seminar dan kebijakan publik, Indonesia sebenarnya sudah memiliki satu gagasan pengasuhan yang lahir dari pengalaman hidup masyarakat Minahasa.
Gagasan itu bernama PIKAT, singkatan dari Percintaan Ibu kepada Anak Temurunnya, yang dirumuskan oleh seorang perempuan Minahasa, Maria Walanda Maramis.
Nama PIKAT mungkin terdengar sederhana. Bahkan bagi sebagian orang, terdengar seperti istilah lama yang kalah modern dibanding berbagai konsep parenting hari ini.
Namun justru di situlah kekuatannya. PIKAT lahir bukan dari teori tinggi, melainkan dari kehidupan sehari-hari ibu dan anak. Dari dapur, halaman rumah, ruang keluarga, dan percakapan kecil yang membentuk manusia sejak dini.
Ketika Maria Walanda Maramis memperkenalkan PIKAT pada sebuah pertemuan masyarakat di Manado tahun 1917, saat itu Maria tidak sedang berbicara tentang metode pengasuhan yang rumit.
Dia sedang mengajak masyarakat menyadari sesuatu yang sejujurnya telah mereka lakukan, tetapi jarang mereka refleksikan, yaitu cara ibu mencintai, mendidik, dan hadir bagi anak yang akan menentukan kualitas generasi berikutnya.
Dikutip dari beragam kajian sosiologis, Minahasa pada masa itu memiliki keunikan tersendiri. Posisi perempuan, terutama dalam keluarga, relatif lebih dihargai dibanding banyak wilayah lain.
Anak perempuan Minahasa pada masa itu sudah dapat bersekolah di sekolah Belanda atau Volksschol dengan masa belajar yang tidak singkat. Ibu punya suara dalam keluarga. Pengasuhan tidak sepenuhnya keras dan hierarkis. Nilai-nilai ini hidup, tetapi tidak pernah diberi nama.
Maria Walanda Maramis membaca realitas itu dan melakukan sesuatu yang jenius dengan memberinya bahasa atau terminologi ilmiah namun populer.
Ketika membaca tulisan Ivan Kaunang, saya menginterpretasikan bahwa kejeniusan Maria Walanda Maramis terletak pada kemampuannya mentranslasikan gaya pengasuhan orang Minahasa ke dalam bahasa kesadaran kolektif.
Simbolisasi kegiatan menjahit, membaca, dan menelaah ayat-ayat Injil diantara sesama anak remaja perempuan Minahasa, oleh Maria Walanda Maramis diformulasikan sebagai tools pengasuhan lewat peran ibu.
Dengan kata lain, Maria Walanda Maramis melakukan kerja intelektual yang sangat maju di zamannya dengan mengubah kearifan kultural menjadi kerangka pengasuhan yang dapat dipahami, diajarkan, dan diwariskan lintas generasi.
Yang hebat dari konsep PIKAT ini, menurut hemat saya adalah peran ibu di Minahasa tidak diposisikan sebagai superior dalam arti hierarkis, tetapi sentral dalam arti fungsional dan moral. Ibu menjadi poros pembentukan manusia, bukan karena kekuasaan formal, melainkan karena perannya dalam membentuk nilai, kesehatan, dan arah kehidupan anak.
Pandangan ini selaras dengan temuan ilmiah modern yang menunjukkan bahwa kualitas relasi awal antara ibu dan anak memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial individu.
Namun apa yang terjadi sekarang, PIKAT semakin asing di tanah kelahirannya sendiri. Di Minahasa dan Sulawesi Utara, PIKAT nyaris tak lagi hidup sebagai rujukan pengasuhan. Di tingkat masyarakat, PIKAT jarang disebut dalam percakapan sehari-hari tentang pengasuhan. Ibu-ibu muda kita hari ini lebih akrab dengan istilah parenting style, gentle parenting, atau toddler milestone daripada PIKAT.
Padahal konsep pengasuhan ini sebenarnya telah dinarasikan dengan begitu indahnya oleh Maria Walanda Maramis dalam konteks PIKAT. Konsep gentle parenting, misalnya, menekankan kedekatan emosional, komunikasi dua arah, dan pengasuhan tanpa kekerasan, semua ini telah hidup dalam praktik pengasuhan Minahasa yang dibaca dan dirumuskan Maria Walanda Maramis lebih dari seabad lalu.
Dalam buku tentang pemikiran Maria yang ditulis oleh HR Pinontoan, tersirat tegas bahwa PIKAT telah menaruh perhatian pada milestone perkembangan anak dengan model mother-centric, bahwa ibu harus mengasuh anak secara melekat.
Bayangkan, ini adalah konsep yang sekarang menjadi trending di setiap konten media sosial parenting, yang sejatinya telah dinarasikan dengan konsep ‘percintaan ibu’ oleh Maria Walanda Maramis sejak seratus tahun silam.
Begitu pula dengan tren stimulasi kognitif yang sering berseliweran di konten TikTok saat ini. Pendekatan relasi ibu dan anak pada usia dini lewat perangsangan verbal, sejatinya sudah dirumuskan secara integral dalam PIKAT lewat konteks menelaah ayat alkitabiah setiap sore antara ibu, anak dan kerabat yang telah lebih dahulu sekolah.
Penelitian psikologi perkembangan dan kesehatan masyarakat secara konsisten menunjukkan bahwa kualitas relasi ibu dan anak pada usia dini berpengaruh besar terhadap kesehatan mental, kemampuan belajar, dan ketahanan sosial anak di masa depan.
Anak yang diasuh dengan kehadiran emosional yang stabil cenderung memiliki regulasi emosi yang lebih baik dan risiko lebih rendah terhadap masalah perilaku. Inilah inti PIKAT, pengasuhan sebagai relasi hidup, bukan sekadar teknik.
Lalu mengapa PIKAT justru semakin tidak populer? Salah satu jawabannya adalah PIKAT tidak pernah diterjemahkan ulang ke dalam bahasa zaman. Konsep ini berhenti sebagai kajian historis, bukan narasi yang terus diperbarui. Di sekolah, di layanan kesehatan, maupun di ruang digital, PIKAT jarang hadir sebagai rujukan. Akibatnya, generasi muda tidak pernah benar-benar “berjumpa” dengan PIKAT sebagai sesuatu yang relevan dengan kehidupan mereka hari ini.
Selain itu, pengasuhan kini semakin diprivatisasi dan diindividualisasi. Ibu diharapkan mencari solusi sendiri, belajar sendiri, dan mengatasi kebingungan sendiri. Dalam situasi seperti ini, konsep pengasuhan berbasis komunitas yang menjadi roh PIKAT, kehilangan ruang.
PIKAT lahir dari kebersamaan, sementara kehidupan modern mendorong ibu mengasuh dalam kesendirian. Ada pula faktor simbolik yang tidak bisa diabaikan.
PIKAT sering diposisikan sebagai “warisan masa lalu”, bukan sebagai sumber gagasan hidup. Setiap Hari Ibu, PIKAT dan Maria Walanda Maramis dikenang dalam pidato, tetapi tidak dihadirkan dalam kebijakan nyata atau percakapan publik. Tanpa disadari, kita sendiri yang mendorong PIKAT ke sudut nostalgia.
Tapi lebih dari itu, yang paling terasa adalah karena PIKAT tidak pernah lagi dihadirkan dalam bahasa digital orangtua muda saat ini. PIKAT pun tidak menjadi materi diskusi publik, dan tidak diturunkan secara sadar dari generasi ke generasi.
Ironisnya, di saat Indonesia gencar mencari pendekatan kontekstual untuk menurunkan stunting, memperbaiki kesehatan mental ibu, dan menghadapi kebingungan pengasuhan di era digital, PIKAT justru dibiarkan menjadi catatan kaki sejarah.
Disinilah saya ingin melempar sebuah gagasan untuk bersama membangkitkan PIKAT agar sesuai dengan konteks era digital. Hari ini, menghidupkan PIKAT tidak cukup lewat seminar, buku, atau dokumen kebijakan. Jika PIKAT tidak hadir di media sosial, maka pasti tidak hadir di kehidupan ibu muda hari ini. Dan ini bukan soal ikut-ikutan tren, melainkan soal keberanian menerjemahkan kearifan lama ke ruang baru tempat percakapan pengasuhan benar-benar terjadi.
Pada tahap ini, mendesak butuh endorsement dan komitmen pemerintah dan akademisi agar mengarusutamakan PIKAT sebagai produk parenting khas Minahasa.
Buatlah seri kajian publik tentang makna pengasuhan PIKAT, Universitas Sam Ratulangi dan Universitas Negeri Manado harus memimpin kajian ini. Mengapa? Karena tidak banyak konsep parenting berbasis kearifan lokal yang begitu kental nilai ilmiahnya. Buatlah kajian berbentuk evidence-based case report tentang model PIKAT yang sesuai pola asuh gen Z. Maka blueprint PIKAT gaya masa kini akan lebih mudah dinikmati dan diterapkan.
Pemerintah provinsi juga diharapkan dapat memginisiasi kampanye digital dan media sosial untuk mengusung tema PIKAT yang kekinian. Tak sulit, ada begitu banyak akun media sosial dan influencer Instagram Manado yang powerful, cukup ‘meributkan’ PIKAT dengan gaya saat ini, maka ibu-ibu muda di bumi Nyiur Melambai pasti akan kembali kenal dan bangga dengan PIKAT.
Dalam momentum Hari Ibu tahun ini, pemerintah dan masyarakat Sulawesi Utara punya alasan kuat untuk menghidupkan konsep PIKAT agar menjadi standar rujukan parenting Indonesia. (*)