Oleh: Ir. Julius E. Tenda, MT
Dosen Politeknik Negeri Manado
SEBUAH gedung perkuliahan di Kampus Politeknik Negeri Manado (Polimdo) yang telah berusia lebih dari tiga dekade menjadi sorotan dalam sebuah penelitian.
Mengingat intensitas penggunaan yang tinggi serta posisi Sulawesi Utara yang berada di zona rawan gempa, tim peneliti melakukan audit menyeluruh untuk memastikan apakah bangunan tersebut masih aman digunakan.
Objek penelitian adalah Gedung Kuliah Jurusan Administrasi Bisnis yang dibangun sekitar tahun 1987.
Secara visual, bangunan ini mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan, seperti retak-retak pada elemen beton dan penurunan kualitas material.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Julius E. Tenda bersama rekan-rekannya kemudian melakukan evaluasi struktur guna mengetahui kondisi “kesehatan” bangunan secara aktual.
Berikut temuan dan rekomendasi teknis dari hasil penelitian tersebut yang disarikan menjadi poin-poin penting bagi publik.
Mengapa Gedung Ini Harus Dicek?
Bangunan pendidikan merupakan fasilitas vital yang menampung ratusan mahasiswa dan dosen setiap harinya.
Kondisi ini, ditambah dengan lokasi Manado yang berada di kawasan rawan gempa, menjadikan keamanan struktur sebagai prioritas utama.
Selama lebih dari 30 tahun beroperasi, elemen struktur seperti kolom, balok, dan pelat lantai mengalami degradasi alami.
Jika tidak ditangani, penurunan kualitas ini berpotensi membahayakan ketika terjadi gempa besar.
1. Hasil Pengecekan Kesehatan Beton
Melalui serangkaian pengujian, seperti hammer test (uji palu), Ultrasonic Pulse Velocity (UPV), serta pengambilan sampel inti beton (core drill), peneliti memperoleh gambaran kondisi material gedung saat ini.
Hasil pengujian menunjukkan mutu beton masih tergolong baik, meskipun terjadi sedikit penurunan dibandingkan saat awal pembangunan.
• Kuat tekan beton saat ini: rata-rata 35–41 MPa
• Perbandingan: saat dibangun (1987) dirancang 40 MPa, dan setelah 36 tahun kekuatannya turun tipis menjadi sekitar 39 MPa.
Secara ilmiah, penurunan ini disebabkan oleh faktor usia seperti karbonasi dan kelembapan yang melemahkan ikatan semen dan agregat.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa angka 39 MPa masih tergolong kuat untuk bangunan bertingkat.
2. Simulasi Kekuatan Menghadapi Gempa
Untuk mengetahui respons bangunan terhadap gempa, struktur gedung dimodelkan menggunakan perangkat lunak ETABS. Simulasi ini mengevaluasi dua aspek utama, yakni drift (simpangan antar lantai saat gempa) dan rasio kapasitas elemen struktur.
• Hasil drift menunjukkan simpangan antar lantai masih berada dalam batas aman (Life Safety Performance). Artinya, bangunan tidak akan runtuh pada gempa rencana.
• Stabilitas global bangunan juga masih terjaga dengan baik.
Namun, analisis struktur mendeteksi adanya beberapa elemen balok dan kolom yang memiliki rasio kapasitas di bawah standar ideal (R < 1).
Hal ini berarti bagian-bagian tersebut memerlukan perkuatan agar mampu menahan beban lateral dengan lebih baik.
Rekomendasi Teknis: Solusi Tanpa Bongkar Total
Kabar baiknya, gedung ini tidak perlu dirobohkan. Peneliti merekomendasikan strategi retrofitting (perkuatan struktur) sebagai solusi yang lebih efisien dan hemat biaya dibandingkan membangun gedung baru.
Adapun solusi teknis yang ditawarkan antara lain:
• FRP Wrapping
Membungkus kolom-kolom kritis dengan Fiber Reinforced Polymer (FRP). Metode ini mirip dengan membalut tulang retak menggunakan plester kuat sehingga kolom mampu menahan beban gempa yang lebih besar.
• Jacketing
Melakukan pelapisan tambahan pada balok atau kolom yang memiliki kapasitas lentur rendah, dengan menambahkan beton dan tulangan baru di sekeliling elemen lama.
• Penambahan Shear Wall
Menambahkan dinding geser untuk meningkatkan kekakuan bangunan agar tidak bergoyang berlebihan saat terjadi gempa.
Pesan untuk Pengelola Kampus
Penelitian ini memberikan angin segar bagi manajemen kampus. Gedung yang selama ini dianggap “tua” ternyata masih memiliki struktur utama yang cukup kuat.
“Sistem ini dinilai masih aman beroperasi tanpa risiko kegagalan signifikan,” tulis peneliti dalam kesimpulannya.
Meski demikian, pemeriksaan visual secara berkala tetap perlu dilakukan.
Tindakan perkuatan (retrofitting) sangat disarankan untuk segera dilaksanakan sebagai langkah antisipasi sekaligus investasi jangka panjang demi keselamatan sivitas akademika.
Daftar Pustaka
• Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2019). SNI 1726:2019: Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Nongedung. Jakarta: BSN.
• Kementerian PPN/Bappenas. (2022). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024: Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural. Jakarta: Bappenas.
• Fernández, A., García, M., & López, J. (2022). Advances in wireless sensor networks for structural health monitoring: A decade in review. Structural Health Monitoring, 21(3), 1234–1256. https://doi.org/10.1177/14759217221075321
• American Society of Civil Engineers (ASCE). (2017). ASCE/SEI 41-17: Seismic Evaluation and Retrofit of Existing Buildings. Reston, VA: ASCE.
• ASTM International. (2018). ASTM C805/C805M-18: Standard Test Method for Rebound Number of Hardened Concrete. West Conshohocken, PA: ASTM.
• ASTM International. (2016). ASTM C597-16: Standard Test Method for Pulse Velocity Through Concrete. West Conshohocken, PA: ASTM.
• Zhang, L., Wang, Y., & Chen, H. (2021). Machine learning-based seismic vulnerability assessment of reinforced concrete buildings. Earthquake Engineering & Structural Dynamics, 50(12), 3210–3230. https://doi.org/10.1002/eqe.3478
• American Concrete Institute (ACI). (2017). ACI 440.2R-17: Guide for the Design and Construction of Externally Bonded FRP Systems for Strengthening Concrete Structures. Farmington Hills, MI: ACI.
• Tenda, J. E., Pinasang, D. B., Wala, M., & Hosang, M. F. (2025). Feasibility Analysis of Old Building Structures Manado State Polytechnic Campus. Jurnal Multidisiplin Madani, 4(12), 1768–1776. https://doi.org/10.55927/mudima.v4i12.13225
Editor : Gregorius Mokalu