Pica Blanga dan Patah Pinsil dalam Dialektika Eksistensial dan Teologi Profetik Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Refleksi Teologis dalam Perspektif Karl Barth
#GmimMenujuEraBaru
Oleh: Pdt. Senduk G.A. Roroe
Pendahuluan
Istilah Pica Blanga dan Patah Pinsil yang digunakan dalam judul tulisan ini berasal dari ungkapan keseharian masyarakat Minahasa. Ungkapan Pica Blanga diangkat dari tulisan Wilhelmus Absalom Roeroe berjudul Teologi Pica Blanga yang dimuat dalam harian Komentar pada 27 Januari 2007. Sementara itu, ungkapan Patah Pinsil sering dipakai oleh orang-orang tua di Minahasa—khususnya di kampung saya, Kakaskasen—untuk menyebut seseorang yang terhenti dalam pendidikannya atau tidak melanjutkan sekolah.
Tulisan ini berawal dari sebuah pengalaman sederhana. Ketika sedang merapikan buku-buku yang bertumpuk di meja kerja, saya menemukan kembali sebuah buku karya Karl Barth berjudul Theological Existence To-Day: A Plea for Theological Freedom. Ketika membuka dan membaca beberapa halaman di dalamnya, saya kembali diingatkan pada gagasan Barth tentang apa yang ia sebut sebagai “eksistensi teologis.”
Bagi Barth, menjadi teolog bukan terutama persoalan gelar akademik, jabatan gerejawi, atau posisi institusional. Menjadi teolog adalah cara hidup yang ditentukan oleh relasi seseorang dengan Firman Tuhan.
Seorang teolog adalah orang yang hidup di bawah kedaulatan Firman Allah dan menjadikan Kitab Suci sebagai otoritas tertinggi bagi kehidupan dan pemikirannya.
Barth juga mengingatkan bahwa salah satu bahaya terbesar bagi gereja muncul ketika teologi mulai terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan arus politik, kekuasaan, atau ideologi zaman. Ketika gereja lebih berusaha mempertahankan relevansi sosial daripada kesetiaan kepada Firman Tuhan, maka gereja berisiko kehilangan identitas teologisnya.
Pica Blanga dan Patah Pinsil dalam Dialektika Eksistensial dan Teologi Profetik Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM).
Refleksi Teologis dalam Perspektif Karl Barth
PENDAHULUAN
Istilah “Pica Blanga” dan “Patah Pinsil” yang dipakai dalam judul tulisan ini berasal dari ungkapan yang hidup dalam keseharian masyarakat Minahasa. Ungkapan “Pica Blanga” diangkat dari tulisan Wilhelmus Absalom Roeroe berjudul Teologi Picah Blanga yang dimuat di harian Komentar pada 27 Januari 2007. Sementara itu, ungkapan “Patah Pinsil” sering dipakai oleh orang-orang tua di Minahasa, khususnya di Kakaskasen, untuk menyebut seseorang yang terhenti dalam pendidikannya atau tidak melanjutkan sekolah.
Tulisan ini berawal dari sebuah pengalaman sederhana. Ketika saya sedang merapikan buku-buku yang bertumpuk di meja kerja, saya menemukan kembali sebuah buku karya Karl Barth berjudul Theological Existence To-Day (A Plea for Theological Freedom). Saat membuka dan membaca beberapa halaman di dalamnya, saya menemukan pemikiran Barth tentang apa yang ia sebut sebagai “eksistensi teologisnya.”
Menurut Barth, menjadi teolog bukan terutama soal gelar, jabatan, atau posisi akademis. Menjadi teolog adalah cara hidup yang ditentukan oleh hubungan seseorang dengan Firman Tuhan. Seorang teolog adalah orang yang hidup di bawah kedaulatan Kitab Suci dan menjadikannya sebagai otoritas tertinggi dalam hidupnya.
Barth juga mengingatkan bahwa salah satu bahaya besar bagi gereja adalah ketika teologi mulai terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan arus politik, kekuasaan, atau ideologi zaman.
Ketika gereja lebih sibuk mengejar relevansi duniawi dan melupakan panggilannya, maka gereja berisiko kehilangan jati dirinya.
Karena itu Barth berkata bahwa teologi harus tetap dikerjakan “seolah-olah tidak ada yang terjadi”, "...Theologie treiben, und nur Theologie treiben als wäre nichts geschehen." - . " ...to carry on theology, and only theology, as though nothing had happened." - .""...mengerjakan teologi, dan hanya teologi, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Artinya tetap setia pada Firman Tuhan meskipun dunia di sekitarnya terus berubah. " Sebagaimana yang terdapat di halaman 9 buku Theological Existence ToDay! (A Plea for Theological Freedom) Edisi Terjemahan Inggris (R. Birch Hoyle, 1933/2011).
Ketika saya membaca pemikiran Barth ini, ingatan saya kemudian tertuju pada tulisan Pdt.Prof.DR.W.A. Roeroe tentang “Teologi Picah Blanga” dan juga pada ungkapan lama yang sering saya dengar di kampung saya di Kakaskasen, yaitu “Patah Pinsil.” Dua ungkapan sederhana ini ternyata menyimpan makna yang dalam jika direnungkan secara lebih luas.
Dari perjumpaan antara pemikiran teologi Barth dan kearifan lokal Minahasa inilah muncul keinginan untuk menulis refleksi ini. Melalui metafora Pica Blanga dan Patah Pinsil, tulisan ini mencoba melihat kembali kehidupan gereja, kepemimpinan rohani, dan panggilan seorang pelayan Tuhan di tengah berbagai godaan zaman yang sering kali membuat gereja lupa pada panggilan dasarnya.
1. Pica Blanga:
Dalam bahasa Melayu Manado, “Pica Blanga” secara harafiah berarti “pecah belanga.” Belanga merupakan alat dapur untuk memasak makanan sehari-hari. Jika belanga pecah, maka sumber makanan hilang. Namun dalam makna sosial dan eksistensial yang lebih dalam, ungkapan ini berkembang menjadi metafora bagi sikap hidup tertentu, yaitu tentang ketakutan kehilangan apa yang sementara ada atau yang dimiliki.
Ungkapan yang sering terdengar ialah: “Kita lai bainga deng bakira supaya jangan pica kita pe blangan.” Artinya: “Kita harus berhati-hati dalam bertindak, berpendapat, dan berbicara supaya jangan sampai kehilangan kedudukan, fasilitas, atau penghasilan.”
Ungkapan ini biasanya diucapkan dengan nada sarkastis (sindirian) dan ironis, namun mengandung makna serius. Ia menggambarkan psikologi sosial ketakutan kehilangan posisi, fasilitas, atau sumber kehidupan.
Ungkapan ini dapat muncul apabila seseorang yang mempunyai jabatan diperhadapkan dengan keadaan di mana dia harus memilih. Melakukan yang benar atau tidak. Apabila melakukan yang benar ada konsekwensi di mana dia di ganti, diberhentikan atau dipecat. Daripada dia di ganti, diberhentikan atau dipecat maka dia mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu yang tidak benar.
Dalam konteks gereja, ini juga dapat terjadi, ketika banyak pemimpin atau pelayan gereja memilih diam, walaupun mengetahui adanya persoalan yang sebenarnya perlu dikritisi. Diam bukan karena tidak tahu, melainkan karena takut “belanganya pecah.” Fenomena ini oleh Pdt. Prof.DR.W. A. Roeroe disebut sebagai “Teologi Pica Blanga.”
Teologi ini bukanlah doktrin gereja, melainkan sikap spiritual dan mentalitas dalam kehidupan gereja, yaitu: - - - -
1.Lebih mengutamakan keamanan posisi
2. Menjaga fasilitas dan kenyamanan 3. Menghindari konflik dengan kekuasaan
4. Memilih diam daripada menyuarakan kebenaran
Dalam kondisi demikian, teologi tidak lagi menjadi suara kenabian, melainkan berubah menjadi alat legitimasi stabilitas institusi. Akibatnya gereja perlahan kehilangan daya kritis teologisnya.
Fenomena ini dapat dipahami sebagai dialektika eksistensial antara dua pilihan mendasar:
1. Kesetiaan kepada kebenaran Injil
2. Keamanan sosial dan institusional
Setiap pelayan gereja sebenarnya berada di tengah ketegangan ini. Jika memilih keamanan, ia berpotensi kehilangan keberanian profetik. Jika memilih kebenaran, ia harus siap menghadapi resiko ditolak, disingkirkan, bahkan kehilangan posisi.
2. Patah Pinsil
Dalam konteks inilah muncul metafora kedua dalam refleksi ini, yaitu “patah pensil.” Metafora “patah pensil” menggambarkan keadaan ketika seorang kehilangan keberanian intelektual dan moral untuk menyatakan kebenaran. Pensil adalah alat untuk menulis, berpikir, dan merumuskan gagasan. Ketika pensil itu patah, kemampuan untuk menyuarakan ide, gagasan tentang kebenaran melalui karya tulis menjadi lumpuh. Seorang yang “patah pensil” tidak lagi mampu menjalankan fungsi profetik apalagi bagi dia sebagai seorang pelayan (pemimpin) gereja.
Apabila hal ini terjadi maka akan membawa dampak struktural dan spiritual kepada anggota gereja, di mana:
1. Terjadi Kelumpuhan Suara Profetik (Suara Kenabian) Gereja
Salah satu panggilan utama gereja adalah menghadirkan suara kenabian (prophetic voice) di tengah masyarakat. Namun ketika pemimpinnya mengalami “patah pensil,” gereja kehilangan keberanian untuk mengkritik ketidakadilan, penyimpangan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Dalam kondisi demikian gereja tidak lagi menyuarakan suara kenabian, melainkan hanya menjadi institusi yang menjaga stabilitas internal.
Dalam perspektif teologi Karl Barth, gereja harus tetap setia kepada Firman Tuhan tanpa tunduk pada tekanan kekuasaan. Jika gereja kehilangan suara profetiknya, maka ia kehilangan salah satu identitas teologisnya yang paling mendasar.
2 Terjadi Budaya Diam
Warga Gereja yang mengalami patah pinsil sering melahirkan budaya diam dalam organisasi gereja. Masa bodoh, karena Pinsil yang dipakai untuk menulis ide, gagasan telah patah, sehingga kemampuan untuk menyuarakan menjadi lumpuh. Lebih merasa aman di zona nyaman. “Yah memang so bagitu” sehingga terjadi status quo.
Akibatnya terbentuk budaya organisasi yang ditandai oleh:
- Keengganan mengemukakan pendapat kritis
- Kecenderungan mengikuti arus mayoritas
- Penghindaran konflik demi menjaga keamanan posisi Dalam jangka panjang, kritik tidak lagi dipandang sebagai upaya pembaruan, tetapi sebagai ancaman terhadap stabilitas organisasi.
3.Tergerusnya Integritas Moral Gereja
Para Pelayan Khusus (Pemimpin gereja) bukan sekadar administrator organisasi, tetapi juga penjaga integritas spiritual komunitas iman. Jika para Pelayan Khusus (pemimpin) memilih diam demi mempertahankan posisi atau fasilitas, maka pesan moral yang disampaikan kepada jemaat menjadi kontradiktif.
Gereja mungkin tetap memberitakan kebenaran dan keadilan, tetapi kehidupan internalnya menunjukkan sikap yang berbeda. Kontradiksi ini perlahan mengikis kepercayaan jemaat terhadap kepemimpinan gereja.
4. Mandeknya Pembaruan Gereja
Sepanjang sejarah, pembaruan gereja selalu lahir dari keberanian intelektual dan spiritual para pemimpin yang berani mengkritik keadaan yang salah. Namun ketika kepemimpinan gereja mengalami “patah pensil,” refleksi kritis menjadi terhenti. Gereja lebih sibuk mempertahankan struktur daripada memperbarui dirinya. Akibatnya gereja mengalami stagnasi teologis dan spiritual.
5. Kehilangan Arah Misi Gereja
Dampak paling serius adalah hilangnya orientasi misi gereja. Gereja dipanggil untuk menjadi saksi kebenaran Allah di dunia. Tetapi ketika kepemimpinan lebih didorong oleh keinginan mempertahankan posisi dan keamanan institusional, maka fokus gereja bergeser dari misi kepada pemeliharaan institusi. Dalam keadaan demikian, gereja tetap berjalan secara organisatoris tetapi kehilangan dinamika spiritualnya.
6. Perspektif Alkitab
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah umat Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, para nabi sering mengkritik pemimpin agama yang lebih memilih keamanan daripada kebenaran. Mereka menentang spiritualitas yang nyaman tetapi kehilangan keberanian moral.
Demikian pula dalam Perjanjian Baru, pelayanan Tuhan Yesus menunjukkan keberanian menantang kemunafikan para pemimpin agama pada zamannya. Kesaksian para nabi dan Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak pernah bebas risiko.
7. Apa Yang Harus Dilakukan?
Gereja dipanggil kembali kepada teologi profetik. Ciri-cirinya: - - - - -
1.Berani menyuarakan kebenaran 2.Kritis terhadap kekuasaan yang tidak adil
3. Setia pada Firman Tuhan di atas kepentingan institusi
4. Memihak pada keadilan dan kebenaran
5. Berpihak pada yang miskin (Option for the Poor)
Di sinilah relevansi pemikiran Karl Barth. Gereja tidak boleh membiarkan wilayahnya dikuasai ideologi politik, kepentingan ekonomi, atau kekuasaan institusional.Gereja hanya memiliki satu otoritas tertinggi: Firman Tuhan.
8. Kesimpulan
Ungkapan “Pica Blanga” bukan sekadar pepatah lokal, tetapi simbol yang kuat untuk memahami dinamika spiritual dalam kehidupan gereja. Ia menggambarkan mentalitas takut kehilangan yang dapat melumpuhkan keberanian moral dan teologis.
Jika mentalitas ini terjadi dan dibiarkan, gereja berisiko oleh sebab itu, kita harus melakukan pembaruan / pertobatan profetik bagi warga GMIM (Pelayan khusus dan para Pemimpin di institusi GMIM) dengan berefleksi tentang “Pica Blanga” dan “Patah Pinsil” menunjukkan bahwa gereja selalu berada dalam ketegangan antara keamanan institusional dan kesetiaan kepada kebenaran Injil.
Metafora ini menyingkapkan bahaya ketika ketakutan kehilangan posisi, fasilitas, atau kenyamanan membuat gereja kehilangan keberanian profetiknya. Dalam perspektif teologi Karl Barth, gereja hanya memiliki satu otoritas tertinggi, yaitu Firman Tuhan. Karena itu, gereja dipanggil untuk tetap setia pada panggilannya sekalipun menghadapi risiko sosial maupun institusional.
Dalam konteks Gereja Masehi Injili di Minahasa, refleksi ini menjadi sangat relevan terutama ketika gereja sedang berada dalam dua momentum penting: minggu-minggu sengsara Tuhan Yesus dan proses revisi Tata Gereja. Kedua momentum ini seharusnya tidak hanya dipahami sebagai kegiatan liturgis dan administratif, tetapi sebagai kesempatan spiritual untuk melakukan pembaruan iman dan kehidupan gereja.
Ada beberapa sikap yang perlu dilakukan oleh seluruh warga gereja—baik pelayan khusus maupun jemaat—agar gereja tidak jatuh dalam mentalitas Pica Blanga dan Patah Pinsil.
Pertama,
Membangun rohani untuk hidup dalam kebenaran. Minggu-minggu sengsara mengingatkan bahwa jalan yang ditempuh oleh Tuhan Yesus bukanlah jalan kenyamanan, melainkan jalan salib. Kesetiaan kepada kehendak Allah sering kali menuntut keberanian untuk berdiri di pihak kebenaran, bahkan ketika hal itu membawa risiko. Karena itu warga gereja dipanggil untuk belajar dari teladan Kristus yang setia sampai akhir.
Kedua
Memulihkan integritas teologis gereja. Revisi Tata Gereja seharusnya tidak hanya dipahami sebagai perubahan aturan organisasi, tetapi sebagai upaya memperbarui kehidupan gereja agar semakin selaras dengan Firman Tuhan. Proses ini membutuhkan keterbukaan, kejujuran, dan keberanian intelektual untuk berdialog secara kritis namun tetap dalam semangat kasih dan persatuan.
Ketiga
Menumbuhkan budaya dialogis dan bertanggung jawab. Gereja yang sehat bukanlah gereja yang menutup ruang kritik, tetapi gereja yang memberi tempat bagi refleksi teologis yang jujur. Kritik yang disampaikan dengan niat membangun seharusnya dipandang sebagai bagian dari proses pemurnian kehidupan gereja, bukan sebagai ancaman terhadap stabilitas organisasi.
Keempat
Menghidupi kembali panggilan profetik gereja di tengah masyarakat. Gereja dipanggil bukan hanya untuk memelihara dirinya sendiri, tetapi juga untuk menjadi saksi kebenaran Allah di dunia. Karena itu gereja harus berani menyuarakan keadilan, kebenaran, dan kasih di tengah berbagai persoalan sosial, politik, dan moral yang dihadapi masyarakat.
Pada akhirnya, refleksi tentang Pica Blanga dan Patah Pinsil mengingatkan bahwa gereja tidak boleh hidup dari rasa takut kehilangan. Gereja hidup dari kesetiaan kepada Firman Tuhan.
Dalam terang sengsara Tuhan Yesus, warga gereja dipanggil untuk memilih jalan yang mungkin lebih sulit, tetapi lebih setia: jalan keberanian profetik, kejujuran teologis, dan integritas iman.
Dengan demikian, melalui perenungan atas sengsara Tuhan dan proses pembaruan Tata Gereja, seluruh warga GMIM diajak untuk memperbarui komitmen iman: menjadi gereja yang berani bersaksi, setia kepada Firman, dan tetap berdiri dalam kebenaran, sekalipun harus menghadapi risiko “pecah belanga.”
Duc in Altum …!
Ad Maiorem Dei Gloriam
Catatan Kaki (Footnotes)
1. Karl Barth, Theological Existence Today: A Plea for Theological Freedom (London: Hodder & Stoughton, 1933), hlm. 9.
2. Karl Barth, Theological Existence Today: A Plea for Theological Freedom (London: Hodder & Stoughton, 1933), hlm. 11.
3. Karl Barth, Church Dogmatics, Vol. I/1, ed. G. W. Bromiley dan T. F. Torrance (Edinburgh: T&T Clark, 1975), hlm. 3.
4. Karl Barth, Church Dogmatics, Vol. I/1 (Edinburgh: T&T Clark, 1975), hlm. 124.
5. Karl Barth, The Word of God and the Word of Man (New York: Harper & Brothers, 1957), hlm. 28.
6. Wilhelmus Absalom Roeroe, “Teologi Pica Blanga,” Harian Komentar, 27 Januari 2007.
7. Karl Barth, Church Dogmatics, Vol. IV/3 (Edinburgh: T&T Clark, 1961), hlm. 872.
8. Karl Barth, Church Dogmatics, Vol. I/2 (Edinburgh: T&T Clark, 1956), hlm. 724.
Editor : Julius Laatung