Oleh: Hetty Antje Geru
Dosen (DTT) HI-UPH
Pendahuluan: Merayakan Keberagaman Suara
Bagi para pecinta berita tentang perjuangan perempuan, bulan Maret adalah bulan yang selalu ditunggu untuk menemukan tema Hari Perempuan Internasional. Selain itu, tentu tak kalah serunya merancang berbagai kegiatan baik di ruangan, di jalanan, atau di media sosial secara virtual.
Pencarian tema kali ini makin heboh dengan munculnya dua tema: yang pertama dari UN Women (entitas PBB yang menduduki hierarki tertinggi pada Tata Kelola Global) dan kedua, tema dari yang menamakan dirinya Aktivist IWD yang sudah sejak lama secara rutin mengumumkan tema IWD setiap tahun.
Tema UN Women: IWD 2026 – Rights, Justice, Action for All Women and Girls Tema ini membawa isu gender ke meja kebijakan formal, penegakan keadilan bagi perempuan dan anak perempuan, serta aksi nyata oleh negara-negara anggota PBB. Tanpa ini semua, pesan kesetaraan dan keadilan gender sulit menembus sistem yang masih dikungkung oleh budaya patriarki. Tema ini menyerukan bahwa hak dasar perempuan masih terabaikan; akses terhadap keadilan, tersedia sistem hukum yang responsif terhadap penyintas, serta aksi nyata menuju kesetaraan di bidang pendidikan dan menghapus praktik pernikahan anak.
Kritik pers dan aktivis perempuan di Indonesia terhadap tema ini adalah adanya kesenjangan antara narasi global dan realitas lokal. Yang diperlukan adalah tindakan konkret dan nyata, bukan sekadar retorika atau sekadar kata-kata yang tertulis dalam Undang-Undang. Aktivis perempuan Indonesia bukan saja mengkritik tema peringatan IWD di kalangan pemegang hierarki tertinggi di nasional maupun sub-nasional, tetapi juga peringatan yang terkesan seremonial di kalangan korporasi dalam tema yang diusung Aktivist IWD.
Tema Aktivist IWD: IWD 2026 – #GiveToGain Tema ini mengandung arti jika individu dan/atau organisasi memberikan dukungan, bimbingan, kesempatan, dan advokasi kepada perempuan, mereka menciptakan dunia yang lebih kuat dan lebih adil bagi semua orang. Fokus tema ini adalah manfaat timbal balik. Jika kita menginvestasikan waktu dan sumber daya pada orang lain, akan membangun komunitas yang lebih kuat dan inovatif yang pada gilirannya bermanfaat bagi semua.
Ada pihak tertentu yang menganggap kampanye #GiveToGain sebagai bentuk pembajakan narasi yang menyederhanakan perjuangan politik perempuan menjadi sekadar tindakan berbagi atau kedermawanan. Jika anggapan ini benar, tema tersebut agak menjauh dari jiwa para penemu peringatan IWD ratus tahun yang lalu. Aktivist IWD lahir dari keringat buruh perempuan jauh sebelum institusi formal PBB mengakuinya pada tahun 1975. Sebagai “ruh asli” gerakan perempuan, lahirnya IWD perlu dihormati dan dilanjutkan, karena gerakan ini bukan sekadar tren.
Pembahasan: Bersinergi! Tak Perlu Memilih Kubu
Tema UN Women PBB dan Aktivist IWD yang mewakili korporasi, meski tampak berbeda, keduanya bisa dijembatani agar ketegangan tidak semakin meluas. Titik temu keduanya dapat dikemukakan sebagai berikut:
- UN Women, sebagai entitas dunia tertinggi yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender, berperan menjaga penegakan hak, keadilan, dan program aksi melalui kebijakan universal yang berlaku untuk seluruh dunia.
- Sementara Aktivist IWD, yang telah melanjutkan perjuangan kaum buruh wanita yang tertindas, memilih aktivitas lewat korporasi dengan tema yang terkesan sekadar ajakan berbagi berdasar sukarela semata.
Fenomena lahirnya dua tema yang diterbitkan sumber yang berbeda bisa berujung pada perpecahan. Teori konflik dalam Sosiologi mengatakan bahwa konflik merupakan motor perubahan, tetapi jika konflik bersifat internal, yang terjadi bukan perubahan tapi implosi atau kehancuran dari dalam.
Munculnya tema tahunan dari Aktivist IWD bukan suatu hal yang berbeda, justru memperkuat dan memperkaya aktivitas di akar rumput sektor korporasi. Di sisi lain, tema yang diluncurkan UN Women menjadi tantangan Aktivist IWD untuk mendekat dan dijadikan bagian dari perjuangan bersama. Imbauan bagi semua aktivis yang setia mengangkat tema-tema Aktivist IWD agar terus berupaya menyelaraskan dengan tema UN Women sebagai entitas PBB.
Jika energi kita habis untuk berkonflik di dalam, kita akan kehilangan kekuatan untuk melawan ‘musuh’ yang sebenarnya ada di luar sana. Konflik internal yang tajam jangan dibesar-besarkan karena akan bersifat disfungsional dan melemahkan gagasan. Bagaikan satu tubuh yang terdiri atas bagian-bagian (kepala, badan, dan kaki) di mana bagian-bagian itu masih terdiri atas potongan yang lebih kecil, demikianlah perjuangan perempuan: saling melengkapi, bukan saling menghancurkan.
Tema-tema IWD yang selalu ditunggu setiap tahunnya, jika tanpa keterlibatan mereka yang memegang kendali atas sistem di hierarki tertinggi, perubahan struktural yang diharapkan akan berjalan sangat lambat. Meski mereka yang memegang kendali pada skala global adalah perempuan, tapi sekutu lainnya di hierarki tertinggi pada skala nasional dan sub-nasional adalah laki-laki, baik di tataran politik ataupun pemerintahan. Karena itu, sekutu perjuangan perempuan perlu melibatkan laki-laki untuk membongkar sistem yang sesungguhnya membebani mereka juga. Menjadikan laki-laki sebagai sekutu adalah kunci percepatan perubahan karena saat ini mereka memegang kendali atas institusi, hukum, dan sumber daya.
IWD 2026 adalah momen untuk membangun aliansi strategis. Aktivis menyediakan ‘ruh’ perjuangan, sementara pihak PBB bersama pemegang hierarki tertinggi di negara akan menyediakan panggung dan kebijakan formal sebagai dasar untuk tindakan yang berkelanjutan. IWD adalah sebuah orkestra; suara tiap alat musik berbeda, tapi melodinya tetap satu dan terdengar indah. Itulah perjuangan keadilan untuk perempuan.
Merangkul semua pihak telah dibuktikan di beberapa event penting di Indonesia:
- Ring The Bell for Gender Equality (12 Maret 2026): Kolaborasi Bursa Efek Indonesia (IDX), UN Women, dan sektor bisnis di Jakarta. Ini adalah bukti nyata bahwa puncak hierarki di sektor ekonomi harus dirangkul sebagai sekutu (allies).
- Panggung Perempuan di Jakarta dan Yogyakarta: Aksi aliansi aktivis yang menyuarakan kedaulatan tubuh dan perlawanan terhadap penindasan. Bukti bahwa ‘api’ perjuangan menjaga gerakan tetap jujur pada akarnya.
- Komitmen Pemerintah: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak R.I. (PPPA), Arifah Fauzi, baru saja menegaskan pada 13 Maret 2026 bahwa kemajuan perempuan harus dimulai dari pemenuhan hak dasar hingga aksi nyata dalam kebijakan pembangunan.
Penutup: Merawat Panggung Kolaborasi
IWD 2026 adalah panggung kolaborasi, bukan panggung pertarungan narasi akar rumput dan pemegang hierarki baik di skala global, regional, maupun nasional. Aktivis akar rumput adalah “akar” yang telah menghujam bumi dengan kejujuran sejarahnya, yang melahirkan dahan yang menjangkau langit, serta buah yang dinanti manusia untuk melanjutkan kehidupannya.
Entitas PBB adalah dahan kebijakan di hierarki tertinggi yang mengatur Tata Kelola Global Lintas Negara. Sementara itu, Aktivist IWD adalah dahan yang berjuang lewat korporasi. Keduanya tidak mungkin saling meniadakan dalam upaya menggapai buah-buah kesetaraan, keadilan, dan kesejahteraan yang inklusif dan berkesinambungan.
Melewati suasana konflik mengajarkan kita bahwa perubahan lahir dari ketegangan, tapi jangan biarkan ketegangan itu memutus tali kekeluargaan di dalam rumah kita sendiri. Lawan kita bukanlah rekan yang berbeda strategi, melainkan ketidakadilan sistemik yang masih ada di luar sana.
Mari kita rangkul mereka yang berada di puncak hierarki, termasuk laki-laki; kita jadikan sebagai sekutu strategis karena perubahan struktural hanya bisa dipercepat jika mesin kekuasaan dijalankan bersama. Itulah demokrasi yang berkeadilan sosial. Dengan semangat kolaborasi, kita memastikan bahwa energi IWD 2026 tidak akan menguap saat April tiba, melainkan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, kesetaraan dan keadilan bagi perempuan dan anak perempuan bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan tentang seberapa jauh kita mampu melangkah bersama menghadapi serta menggugurkan setiap tantangan dan memanfaatkan setiap peluang. Perubahan besar lahir dari keberanian merangkul, bukan hanya ketajaman memukul. Mari jadikan IWD 2026 sebagai ruang di mana akar rumput dan puncak hierarki bertemu untuk satu tujuan: keadilan untuk semua.(***)
Editor : Tanya Rompas