Oleh : Wilmar Maarisit, PhD (Dosen Fakultas MIPA UKIT)
MANADOPOST.ID-Ketika angka diabetes di Indonesia menembus lebih dari 20 juta kasus pada 2025, tim peneliti Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) yang dipimpin Dr Wilmar Maarisit justru menoleh ke akar tanaman lokal.
Dari sanalah mereka menemukan harapan baru. Sebuah senyawa alami yang berpotensi menjadi kandidat obat antidiabetes.
Data terbaru menunjukkan bahwa situasi diabetes di Indonesia semakin serius. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 melaporkan, prevalensi diabetes telah mencapai 11,7 persen pada penduduk usia dewasa. Ini menandai tren peningkatan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Sejalan dengan itu, laporan International Diabetes Federation (IDF) 2025 menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari lima negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia. Yakni sekitar 20,4 juta kasus.
Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian besar kasus tersebut belum terdiagnosis. Kondisi ini, berarti jutaan orang hidup dengan diabetes tanpa penanganan yang memadai. Sebuah “bom waktu” yang berpotensi memperberat beban sistem kesehatan nasional di masa depan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada tingkat nasional. Tetapi juga terlihat jelas di daerah. Di Sulawesi Utara, prevalensi diabetes berdasarkan diagnosis dokter mencapai sekitar 2,3 persen. Lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Angka ini menegaskan bahwa beban penyakit tidak menular telah meluas dan tidak lagi terbatas pada wilayah perkotaan atau kawasan maju, melainkan telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia.
Namun, di tengah meningkatnya beban penyakit tersebut, terdapat ironi yang sulit diabaikan. Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku dan inovasi farmasi dari luar negeri. Kita menjadi pasar yang besar, tetapi belum sepenuhnya menjadi produsen pengetahuan dan teknologi obat.
Padahal, Indonesia memiliki modal yang sangat kuat: keanekaragaman hayati. Hutan tropis, ekosistem laut, dan kekayaan tanaman obat menjadikan negeri ini sebagai salah satu “bank senyawa alami” terbesar di dunia.
Sayangnya, potensi ini belum dioptimalkan melalui riset yang berkelanjutan dan terintegrasi.
Salah satu contoh potensi tersebut adalah tanaman herbal Rhinacanthus nasutus. Tanaman ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit, termasuk gangguan metabolik seperti diabetes.
Namun, penggunaan tersebut selama ini lebih banyak didasarkan pada pengalaman empiris, belum sepenuhnya ditopang oleh pembuktian ilmiah yang komprehensif.
Melalui penelitian yang dilakukan tim UKIT, pendekatan ilmiah modern digunakan untuk menjawab pertanyaan mendasar: apakah senyawa dalam tanaman ini действительно memiliki potensi sebagai obat antidiabetes?
Penelitian ini berfokus pada Protein Tyrosine Phosphatase 1B (PTP1B), enzim yang berperan sebagai penghambat dalam jalur sinyal insulin.
Ketika aktivitas enzim ini meningkat, kerja insulin menjadi terganggu, sehingga kadar gula darah sulit dikendalikan. Karena itu, menghambat PTP1B menjadi salah satu strategi yang menjanjikan dalam pengembangan terapi diabetes modern.
Melalui proses isolasi dan karakterisasi kimia, tim peneliti berhasil menemukan satu senyawa baru dari akar Rhinacanthus nasutus yang diberi nama 4-oxo-rhinacanthin B, bersama beberapa senyawa lain yang telah dikenal sebelumnya.
Penemuan ini menegaskan bahwa tanaman lokal Indonesia masih menyimpan potensi kimiawi yang sangat kaya dan belum sepenuhnya terungkap.
Namun, penemuan senyawa baru hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah menilai potensi biologisnya secara cepat dan efisien. Di sinilah teknologi komputasi memainkan peran penting.
Melalui pendekatan in silico, khususnya metode molecular docking, para peneliti memodelkan interaksi antara senyawa hasil isolasi dengan enzim target dalam ruang tiga dimensi. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi awal senyawa yang memiliki afinitas tinggi terhadap target biologis tanpa harus langsung melakukan uji laboratorium yang memerlukan waktu dan biaya besar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa senyawa dari tanaman ini memiliki kemampuan berikatan kuat dengan sisi alosterik enzim PTP1B—sebuah lokasi yang berperan dalam mengatur aktivitas enzim secara tidak langsung.
Pendekatan ini dinilai lebih selektif dan berpotensi mengurangi efek samping dibandingkan penghambatan langsung pada sisi aktif enzim.
Temuan ini diperkuat melalui simulasi dinamika molekul yang menunjukkan bahwa interaksi antara senyawa dan enzim relatif stabil dalam sebagian besar waktu pengamatan. Meski demikian, penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan stabilitas dan efektivitasnya dalam sistem biologis yang lebih kompleks.
Tentu saja, penelitian ini masih berada pada tahap awal. Validasi melalui uji in vitro dan in vivo tetap diperlukan sebelum senyawa ini dapat dikembangkan menjadi kandidat obat yang aman dan efektif.
Namun, di balik temuan ini, terdapat pesan yang lebih besar. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan integratif—yang menggabungkan pengetahuan tradisional, eksplorasi bahan alam, dan teknologi komputasi modern—dapat menjadi strategi efektif dalam mempercepat penemuan obat.
Dalam konteks kemandirian farmasi nasional, pendekatan seperti ini bukan lagi pilihan. Melainkan kebutuhan. Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tetapi sering kali tertinggal dalam hilirisasi dan inovasi. Tanpa penguatan riset dasar dan terapan, kekayaan hayati hanya akan menjadi potensi yang tidak pernah sepenuhnya diwujudkan.
Karena itu, diperlukan komitmen yang lebih kuat dari berbagai pihak. Pemerintah perlu mendorong kebijakan yang berpihak pada riset bahan alam. Perguruan tinggi harus memperkuat kolaborasi lintas disiplin. Industri farmasi pun perlu didorong untuk berinvestasi dalam riset dan pengembangan, bukan sekadar produksi.
Di tengah meningkatnya beban penyakit tidak menular seperti diabetes, langkah menuju kemandirian farmasi tidak bisa lagi ditunda. Penelitian berbasis sumber daya lokal mungkin masih merupakan langkah kecil. Namun, dari langkah-langkah kecil inilah fondasi besar dapat dibangun.
Pada akhirnya, masa depan pengembangan obat di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh keberanian kita untuk percaya pada potensi yang kita miliki sendiri—termasuk yang tumbuh dari akar tanaman di tanah kita. (*)