Oleh:
dr. Emmanuela Ranita Molenaar, M.Kes.
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi
BATUK dan pilek sering kali dianggap sebagai penyakit biasa pada balita. Banyak orang tua memilih menunggu hingga gejalanya membaik sendiri. Padahal, jika infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terjadi berulang atau terlambat ditangani, dampaknya bisa jauh lebih serius.
ISPA masih menjadi salah satu penyebab utama anak balita harus mendapatkan perawatan kesehatan, bahkan menjadi penyebab kematian balita di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di tengah berbagai upaya pencegahan penyakit pada anak, ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu status gizi. Banyak orang tua berpikir bahwa gizi hanya berpengaruh pada berat badan atau tinggi badan anak. Padahal, gizi yang baik juga menentukan kuat atau lemahnya daya tahan tubuh seorang balita dalam melawan infeksi.
Penelitian yang kami lakukan di Klinik Julia Likupang memberikan gambaran yang menarik sekaligus menjadi pengingat bagi semua pihak. Penelitian ini melibatkan 196 balita yang berobat sepanjang tahun 2024. Dari seluruh balita tersebut, hampir setengahnya (49 persen) tercatat mengalami ISPA.
Angka ini menunjukkan bahwa penyakit saluran pernapasan masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar di masyarakat.
Yang lebih menarik, kejadian ISPA ternyata tidak tersebar secara merata pada semua balita. Anak-anak dengan status gizi kurang memiliki risiko yang jauh lebih tinggi. Sekitar tiga dari setiap empat balita yang mengalami gizi kurang (74%) juga mengalami ISPA, sedangkan pada kelompok dengan gizi sangat kurang angkanya mencapai 67 persen.
Sebaliknya, balita dengan status gizi normal memiliki kondisi yang relatif lebih baik. Analisis statistik penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan tersebut bermakna secara ilmiah, sehingga memperkuat bukti bahwa status gizi berperan dalam kerentanan balita terhadap ISPA.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Saat anak kekurangan zat gizi, tubuh tidak memiliki "bahan bakar" yang cukup untuk membentuk sistem kekebalan yang optimal. Sel-sel pertahanan tubuh menjadi kurang efektif melawan virus maupun bakteri. Akibatnya, anak lebih mudah tertular penyakit, lebih sering sakit, dan proses penyembuhannya pun berlangsung lebih lama.
Sebaliknya, anak dengan asupan gizi yang cukup memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik sehingga lebih mampu melawan infeksi. Penjelasan inilah yang juga didukung oleh berbagai penelitian sebelumnya dan diperkuat oleh hasil penelitian kami di Likupang.
Temuan ini memberikan pelajaran penting bahwa penanganan ISPA tidak boleh hanya berfokus pada pemberian obat ketika anak sudah sakit. Pencegahan harus dimulai jauh sebelumnya, yaitu dengan memastikan setiap balita memperoleh gizi yang cukup dan seimbang sejak awal kehidupan.
ASI eksklusif, MPASI yang bergizi, konsumsi protein hewani, buah dan sayur, serta pemantauan pertumbuhan secara rutin merupakan investasi kesehatan yang jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan ketika anak jatuh sakit.
Selain faktor gizi, keluarga juga perlu memperhatikan lingkungan tempat anak tumbuh. Rumah yang memiliki ventilasi baik, bebas asap rokok, menjaga kebersihan tangan, melengkapi imunisasi, dan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat akan semakin mengurangi risiko ISPA pada balita.
Bagi masyarakat Sulawesi Utara, khususnya di wilayah pesisir dan pedesaan, Posyandu tetap menjadi garda terdepan dalam memantau tumbuh kembang anak.
Penimbangan berat badan setiap bulan bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi merupakan langkah sederhana untuk mengetahui apakah anak tumbuh sesuai usianya atau mulai mengalami gangguan gizi. Semakin cepat masalah gizi ditemukan, semakin besar peluang untuk mencegah anak mengalami penyakit berulang.
Bagi pemerintah daerah dan tenaga kesehatan, hasil penelitian ini menjadi dasar penting untuk memperkuat program promotif dan preventif. Edukasi gizi kepada orang tua, peningkatan kualitas pelayanan Posyandu, pemantauan pertumbuhan balita, serta penyuluhan mengenai pencegahan ISPA perlu terus diperluas agar menjangkau seluruh masyarakat.
Pada akhirnya, menjaga status gizi balita bukan sekadar memenuhi angka di timbangan. Lebih dari itu, gizi yang baik adalah benteng pertama yang melindungi anak dari berbagai penyakit infeksi, termasuk
ISPA. Setiap piring makanan bergizi yang diberikan kepada anak hari ini merupakan investasi bagi kesehatan, kecerdasan, dan kualitas generasi masa depan.
Karena itu, mari kita mulai dari rumah. Pastikan anak memperoleh makanan bergizi seimbang, rutin dipantau pertumbuhannya, dan segera dibawa ke fasilitas kesehatan bila menunjukkan gejala ISPA.
Balita yang sehat hari ini adalah fondasi bagi Indonesia yang lebih kuat di masa mendatang.(*)
Editor : Grand Regar