Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Analisis Peran Kantoria dalam Membangun Suasana Ibadah di Jemaat GMIM Yerusalem Kalawat

Reza Abdilah • Jumat, 17 Juli 2026 | 22:22 WIB
Claudio Bogar
Claudio Bogar

 


 Claudio Alfa Bogar


Institut Agama Kristen Negeri Manado/Pendidikan Musik Gereja
email: Cldbogar@gmail.com  

 

Abstrak 
Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Kantoria dalam membangun suasana ibadah di Jemaat GMIM Yerusalem Kalawat. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif studi kasus dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Kantoria mengalami pergeseran dari pelayan liturgis menjadi kelompok penyanyi yang berorientasi pada penampilan. Dominasi vokal dan aransemen yang rumit menyebabkan partisipasi jemaat menurun. Selain itu, persiapan pelayanan lebih menekankan aspek teknis musikal dan kurang memperhatikan pendalaman rohani serta pemahaman liturgi. Oleh karena itu, diperlukan pembinaan yang holistik bagi Kantoria yang mencakup aspek musikal, liturgis, dan spiritual agar dapat menjalankan fungsi sebagai pemandu nyanyian dan menciptakan suasana ibadah yang hidup, khusyuk, dan partisipatif.
Kata kunci: Kantoria, Ibadah, GMIM, Jemaat

Abstract
This study aims to analyze the role of the Kantoria in creating the worship atmosphere in GMIM Yerusalem Kalawat Congregation. Using a descriptive qualitative case study method, data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings show a shift in the Kantoria’s role from liturgical servants to a performance-oriented group. Vocal domination and complex arrangements have reduced congregational participation. Furthermore, service preparation focuses more on musical technique than on spiritual depth and liturgical understanding. Therefore, holistic development for the Kantoria is needed, covering musical, liturgical, and spiritual aspects, to enable them to function as song leaders and to create a lively, solemn, and participatory worship atmosphere.
Keywords: Kantoria,  Worship, GMIM, Congregation 

 

 
I.    Pendahuluan
 
Ibadah dalam tradisi teologi Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) pada hakikatnya merupakan sebuah perjumpaan dialogis dan timbal balik antara Tuhan dan jemaat-Nya. Dalam perjumpaan ini, musik gereja bukan sekadar elemen pelengkap atau estetik semata, melainkan merupakan bagian integral dari liturgi yang menjadi sarana bagi jemaat untuk merespons anugerah Tuhan. Nyanyian jemaat, sebagai salah satu unsur leiturgia (kerja umat), menuntut partisipasi aktif dari seluruh warga gereja tanpa terkecuali melalui puji-pujian yang dipanjatkan.


Dalam kerangka liturgis ini, peran Kantoria menjadi sangat strategis. Secara ideal, Kantoria di Jemaat GMIM Yerusalem Kalawat bertugas sebagai pemandu nyanyian (song leaders) yang berfungsi memfasilitasi umat agar dapat menyanyikan lagu-lagu dalam buku nyanyian gereja—seperti NNBT, DSL, PKJ, KJ atau NKB—dengan benar, baik secara melodi maupun ritme.

Lebih dari sekadar keterampilan teknis, Kantoria yang ideal adalah pelayan yang memiliki kedalaman spiritualitas. Mereka diharapkan mampu menghayati makna teologis di balik setiap lirik lagu, sehingga melalui nyanyian tersebut, suasana ibadah yang khusyuk dapat tercipta dan jemaat dihantarkan pada pengalaman perjumpaan yang nyata dengan Sang Pencipta.

Namun, berdasarkan pengamatan dan realitas yang ditemukan di lapangan, pelaksanaan tugas Kantoria di Jemaat GMIM Yerusalem Kalawat saat ini masih menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Fenomena yang sering muncul adalah berubahnya posisi jemaat dari partisipan aktif menjadi sekadar "penonton" (spectators)

Hal ini dipicu oleh dominasi vokal tim kantoria yang terlalu menonjol, sehingga alih-alih menuntun jemaat, penampilan mereka lebih berkesan sebagai pertunjukan panggung (performance-oriented).Penggunaan teknik pembagian suara (Sopran, Alto, Tenor, dan Bass) yang terlalu rumit sering kali justru menutupi melodi utama lagu, yang pada akhirnya membuat jemaat merasa bingung, merasa tidak mampu mengikuti, dan memilih untuk diam.

Selain itu, terdapat ketimpangan orientasi dalam proses persiapan pelayanan. Fokus tim kantoria sering kali tersita sepenuhnya pada aspek teknis musikal semata, seperti akurasi harmoni, ketepatan intonasi, dan teknik pernapasan. Sementara itu, aspek fundamental seperti pendalaman makna teks lagu dan kesiapan spiritual pribadi para pelayan sering kali terabaikan.

Masalah ini diperparah dengan kurangnya frekuensi pelatihan yang sistematis dan berkelanjutan. Dampaknya, sering ditemukan lagu-lagu liturgis yang dinyanyikan tidak sesuai dengan notasi asli yang tertulis di buku nyanyian gereja, yang justru merusak alur keteraturan ibadah. Terlihat pada pergeseran identitas Kantoria; dari yang seharusnya menjadi pelayan liturgis yang inklusif menjadi kelompok penyanyi yang eksklusif.

Terdapat jurang antara pemahaman peran kantoria sebagai "penolong jemaat" dengan praktik di lapangan yang lebih menyerupai "penyanyi profesional" yang berjarak dari jemaat. Teknik vokal yang tinggi, jika tidak dibarengi dengan tujuan untuk membangun suasana ibadah dan partisipasi umat, justru menciptakan sekat psikologis dan spiritual.

Selain itu, tuntutan kualitas musikalitas yang diharapkan oleh jemaat tidak sebanding dengan ketersediaan wadah pelatihan yang mumpuni bagi para pelayan kantoria tersebut.

Apabila permasalahan ini dibiarkan terus berlanjut, dikhawatirkan esensi ibadah sebagai aktivitas komunal umat akan mengalami degradasi makna, di mana jemaat tidak lagi merasa terlibat secara batiniah dalam puji-pujian. Oleh karena itu, penelitian berjudul "Analisis Peran Kantoria dalam Membangun Suasana Ibadah di Jemaat GMIM Yerusalem Kalawat" menjadi sangat mendesak untuk dilaksanakan.

Penelitian ini penting untuk menganalisis kembali pemahaman peran kantoria agar kembali pada tujuan dasar yakni sebagai pemandu yang melayani. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat dirumuskan pola pembinaan yang seimbang antara kualitas teknis musikalitas dan kedalaman rohani.

 Hasil penelitian ini nantinya diharapkan menjadi referensi praktis bagi Majelis Jemaat dan Komisi terkait di GMIM Yerusalem Kalawat dalam mengevaluasi serta meningkatkan kualitas pelayanan liturgis demi terciptanya suasana ibadah yang hidup dan transformatif bagi seluruh jemaat


II.    Metode
Penelitian ini dirancang menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kasus. Melalui metode ini, Peneliti dapat mendalami secara alami fenomena pergeseran peran Kantoria langsung dari sudut pandang subjek dilapangan, Penelitian ini dilaksanakan di GMIM Yerusalem Kalawat Wilayah Kalawat 4.

 
Adapun objek utama yang diteliti adalah peran tim Kantoria, keselarasan antara kualitas musik dan spiritualitas mereka, serta dampak performa tersebut terhadap keterlibatan jemaat dalam ibadah. Untuk mendapatkan data yang akurat, peneliti menggali informasi dari berbagai subjek (informan kunci) di gereja melalui Teknik purposive sampling, yang meliputi Pendeta atau Pelayan Khusus, pengurus dan anggota tim Kantoria, serta anggota jemaat biasa dari berbagai komisi kategorial seperti P/KB, W/KI, Pemuda, dan Remaja.

Seluruh rangkaian penelitian ini dibagi ke dalam tiga tahapan kerja yang saling berkesinambungan. Tahap pertama adalah persiapan yang diisi dengan membaca berbagai literatur teologi liturgi, mengurus perizinan riset di gereja, dan menyusun daftar pertanyaan untuk wawancara.

Tahap kedua adalah pelaksanaan, di mana peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati jalannya ibadah sekaligus mewawancarai para informan. Tahap ketiga adalah penyelesaian yang berfokus pada pengolahan, pengujian keabsahan, analisis data, hingga penyusunan laporan akhir.
Dalam penelitian kualitatif ini, peneliti bertindak sebagai instrumen atau alat utama dalam mengumpulkan dan menginterpretasikan data. 

Namun, untuk mendukung proses tersebut, peneliti dibantu oleh beberapa bahan tertulis seperti buku nyanyian resmi (NNBT, DSL, PKJ, KJ, NKB), Tata Gereja GMIM, dan jadwal pelayanan jemaat. Selain itu, digunakan pula alat pendukung fisik berupa panduan wawancara, catatan pengamatan, perekam suara, kamera handphone untuk dokumentasi, serta laptop untuk menyusun laporan.

Data penelitian dikumpulkan secara komprehensif melalui tiga teknik utama. Pertama adalah observasi (pengamatan), di mana peneliti hadir langsung dalam ibadah untuk mengamati cara Kantoria bertugas dan melihat bagaimana respons nyata jemaat saat bernyanyi.

Kedua adalah wawancara mendalam, yaitu melakukan tanya jawab terarah namun santai dengan Pendeta, pelayan Kantoria, dan jemaat guna menggali tantangan rohani maupun teknis yang mereka rasakan. Ketiga adalah studi dokumentasi untuk mengumpulkan dokumen gereja, sejarah jemaat, atau catatan evaluasi pelayanan yang relevan dengan topik ini. 

 

III.    Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan di Jemaat GMIM Yerusalem Kalawat Wilayah Kalawat 4, diperoleh data dari hasil observasi ibadah, wawancara mendalam dengan 12 informan, dan studi dokumentasi terhadap buku nyanyian resmi, Tata Gereja GMIM, serta jadwal pelayanan jemaat.

Pembahasan berikut disusun untuk menjawab bagaimana peran Kantoria dalam membangun suasana ibadah, tantangan yang dihadapi, serta dampaknya terhadap partisipasi jemaat. 


                 -  Temuan Hasil Penelitian
1. Pemahaman dan Pelaksanaan Tugas Kantoria di Lapangan Secara ideal, sebagaimana tertuang dalam Tata Gereja GMIM dan praktik liturgi GMIM, Kantoria memiliki fungsi sebagai pemandu nyanyian atau song leader. Tugas utamanya adalah memfasilitasi jemaat agar dapat menyanyikan lagu-lagu dari buku nyanyian resmi GMIM seperti NNBT, DSL, PKJ, KJ, dan NKB dengan benar, baik dari sisi melodi maupun ritme, serta menghayati makna teologis dari setiap syair. Namun, hasil observasi di lapangan menunjukkan adanya pergeseran praktik.

Dalam 4 kali ibadah Minggu yang diamati, terlihat bahwa tim Kantoria lebih dominan secara vokal. Penggunaan teknik pembagian suara 4 suara (Sopran, Alto, Tenor, Bass) dengan aransemen yang kompleks seringkali menutupi melodi utama lagu. Dengan demikian, terjadi pergeseran posisi jemaat dari partisipan aktif menjadi spectator atau penonton. Hal ini bertentangan dengan hakikat ibadah GMIM sebagai leiturgia yaitu kerja bersama seluruh umat.

 

- Tantangan Teknis dan Rohani dalam

Pelayanan Kantoria
Dari hasil wawancara dengan anggota tim Kantoria, ditemukan dua kategori tantangan utama:

a. Tantangan Teknis Musikal
Para pelayan Kantoria memiliki motivasi yang tinggi untuk memberikan persembahan terbaik. Mereka berupaya menampilkan harmonisasi yang rapi dan indah. Kendala yang muncul adalah kurangnya wadah pelatihan yang sistematis dan berkelanjutan. Jadwal latihan yang tidak teratur menyebabkan penguasaan lagu sering tidak sesuai dengan notasi asli pada buku nyanyian. Dokumentasi jadwal pelayanan jemaat juga menunjukkan bahwa latihan hanya dilakukan menjelang hari pelayanan, bukan pembinaan rutin.

b. Tantangan Rohani dan Pemahaman Teologis
Terdapat ketimpangan orientasi dalam persiapan. Fokus lebih banyak pada aspek teknis seperti intonasi dan pernapasan, sementara pendalaman makna teks lagu dan kesiapan spiritual pribadi kurang mendapat porsi.


- Dampak Peran Kantoria terhadap Suasana dan Partisipasi Jemaat

Hasil observasi dan wawancara menunjukkan korelasi langsung antara cara Kantoria bertugas dengan respons jemaat. Ketika Kantoria menyanyi dengan volume yang seimbang, menggunakan melodi utama, dan memberikan aba-aba yang jelas, terlihat jemaat lebih antusias mengikuti. Buku nyanyian dibuka dan suara jemaat terdengar menyatu.

Sebaliknya, ketika Kantoria menampilkan teknik vokal yang terlalu tinggi dan mendominasi, jemaat cenderung pasif. Studi dokumentasi terhadap catatan evaluasi pelayanan Komisi Musik Gerejawi juga mencatat keluhan yang sama sejak 2 tahun terakhir, yaitu menurunnya partisipasi vokal jemaat pada bagian nyanyian jemaat.


-    Pembahasan Temuan
1. Pergeseran Identitas: Dari Pelayan Liturgis menjadi Penampil Temuan penelitian menunjukkan adanya pergeseran identitas peran Kantoria. Idealnya Kantoria adalah pelayan liturgis yang inklusif. Namun praktiknya cenderung menjadi kelompok penyanyi eksklusif yang berorientasi pada penampilan.

Fenomena ini dapat dianalisis sebagai akibat dari dua hal: pertama, kurangnya pemahaman teologis yang utuh tentang fungsi musik dalam ibadah GMIM. Kedua, tidak adanya standar pembinaan yang jelas dari Majelis Jemaat dan Komisi terkait.

2. Ketidakseimbangan antara Kualitas Teknis dan Kedalaman Rohani. Upaya untuk mencapai kualitas musikalitas yang baik merupakan hal yang positif. Namun ketika kualitas teknis tidak diimbangi dengan kedalaman rohani dan pemahaman liturgi, maka musik kehilangan fungsinya sebagai sarana dialog antara Tuhan dan umat. Musik menjadi tujuan pada dirinya sendiri, bukan lagi menjadi alat untuk menghantar jemaat kepada Allah. Hal ini berpotensi menyebabkan degradasi makna ibadah sebagai persekutuan umat.


3. Kebutuhan Akan Pola Pembinaan yang Holistik. Berdasarkan data, baik dari pihak Kantoria maupun jemaat, terdapat kerinduan yang sama untuk memperbaiki keadaan. Para Kantoria membutuhkan pelatihan yang tidak hanya melatih vokal, tetapi juga membekali pemahaman teologi musik gereja dan spiritualitas pelayan. Sementara itu, jemaat merindukan suasana ibadah yang melibatkan semua orang, bukan hanya sekelompok orang.


- Rekomendasi Awal Berdasarkan Temuan
Merujuk pada hasil di atas, beberapa hal yang dapat direkomendasikan untuk ditindaklanjuti oleh Majelis Jemaat dan Komisi Musik Gerejawi Jemaat GMIM Yerusalem Kalawat, yaitu:

1. Menegaskan Kembali Visi Pelayanan Kantoria melalui pembinaan internal bahwa tugas utama Kantoria adalah melayani dan menuntun, bukan tampil.

2. Menyelenggarakan Pelatihan Rutin dan Holistik yang mencakup aspek teknis vokal, pemahaman notasi buku nyanyian resmi GMIM, serta pendalaman makna teologis lagu-lagu gereja.

3. Menyusun Panduan Praktis Pelayanan Kantoria yang mengatur penggunaan aransemen, volume suara, dan interaksi dengan jemaat agar tidak mematikan partisipasi umat.

4. Melakukan Evaluasi Berkala terhadap pelayanan Kantoria bersama dengan Majelis Jemaat untuk memastikan keselarasan antara praktik di lapangan dengan tuntutan liturgi gereja. 


IV. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di Jemaat GMIM Yerusalem Kalawat dapat disimpulkan bahwa peran Kantoria memiliki posisi yang sangat penting dalam membangun suasana ibadah. Secara ideal Kantoria bertugas sebagai pemandu nyanyian yang menolong jemaat untuk berpartisipasi aktif dalam puji-pujian.

Namun dalam kenyataan di lapangan masih ditemukan adanya pergeseran fungsi, di mana pelayanan Kantoria cenderung lebih berorientasi pada penampilan musikal sehingga suara jemaat menjadi tertutup dan partisipasi jemaat menurun.


Selain itu, persiapan pelayanan Kantoria saat ini masih lebih menekankan aspek teknis seperti harmonisasi dan teknik vokal, sementara aspek pendalaman makna lagu dan kesiapan rohani belum mendapat perhatian yang seimbang. Hal ini berdampak pada suasana ibadah yang kurang mengantar jemaat dalam pengalaman perjumpaan dengan Tuhan.

Penelitian juga menemukan bahwa cara Kantoria bertugas secara langsung memengaruhi antusiasme jemaat dalam bernyanyi. Ketika Kantoria melayani dengan sikap inklusif dan menggunakan melodi utama, jemaat lebih aktif. Sebaliknya, aransemen yang terlalu rumit dan dominasi vokal membuat jemaat memilih untuk diam.

Oleh karena itu, diperlukan pembinaan yang sistematis dan berkelanjutan bagi Tim Kantoria yang tidak hanya melatih keterampilan musikal, tetapi juga memperdalam pemahaman liturgi GMIM serta menumbuhkan spiritualitas sebagai pelayan. Dengan demikian, diharapkan peran Kantoria dapat kembali sesuai dengan panggilannya, yaitu sebagai penolong jemaat dalam memuji Tuhan, sehingga ibadah menjadi hidup, khusyuk, dan benar-benar menjadi persekutuan antara Tuhan dan umat-Nya. 

 


DAFTAR PUSTAKA
Buku
Creswell, John W. Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran. Terj. Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016

Dawn, Marva J. Reaching Out Without Selling Out: Kaum Muda dan Budaya Kontemporer dalam Ibadah. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Ginting, E.P. Adorasi: Teologi dan Praktis Liturgi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2019.
White, James F. Pengantar Ibadah Kristen. Terj. Liem Khiem Yang. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.

 


Dokumen Gereja
GMIM. Tata Gereja GMIM. Manado: BPMS GMIM.

GMIM. Nyanyikanlah Nyanyian Baru Bagi Tuhan[NNBT]. Manado: BPMS GMIM.

GMIM. Dua Sabat Lama[DSL]. Manado: BPMS GMIM.

Kidung Jemaat [KJ]. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Nyanyikanlah Kidung Baru [NKB]. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Pelengkap Kidung Jemaat [PKJ]. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Editor : Reza Abdilah
peran GMIM ibadah suasana