Gerakan Peremajaan Kelapa, Menanam Harapan Baru bagi Petani dan Perekonomian Sulawesi Utara

Kenjiro Tanos • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 18:38 WIB
Asnidar Mastam, S.TP., M.TP
Asnidar Mastam, S.TP., M.TP

Ditulis oleh: Asnidar Mastam, S.TP., M.TP.
Dosen Prodi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi

MANADOPOST.ID - Komoditas kelapa kembali menjadi perhatian di Sulawesi Utara.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mengakselerasi gerakan peremajaan tanaman kelapa sebagai upaya meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat.

Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah menyiapkan 39.861 batang bibit kelapa yang telah dinyatakan memenuhi standar mutu dan siap disalurkan kepada petani di Sulawesi Utara setelah melalui proses verifikasi lapangan.

Program ini tidak hanya menjadi bagian dari upaya mengganti tanaman kelapa yang telah tua dan kurang produktif, tetapi juga merupakan strategi memperkuat kesejahteraan petani sekaligus mendukung hilirisasi komoditas kelapa di Indonesia.

Sebagai daerah yang dikenal dengan julukan “Bumi Nyiur Melambai”, Sulawesi Utara memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan komoditas kelapa.

Selama puluhan tahun, kelapa menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat pedesaan. Tidak sedikit keluarga petani yang menggantungkan pendapatan dari hasil penjualan buah kelapa, kopra, minyak kelapa, maupun berbagai produk turunannya.

Oleh karena itu, keberhasilan program peremajaan kelapa bukan hanya menyangkut peningkatan produksi, tetapi juga berkaitan langsung dengan ketahanan ekonomi masyarakat dan pembangunan sektor perkebunan daerah.

Penyaluran bibit diawali dengan proses verifikasi yang dilakukan oleh Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Utara bersama penyuluh pertanian dan instansi terkait. Verifikasi dilaksanakan di lokasi pembibitan di Kelurahan Bengkol, Kota Manado, serta Desa Suwaan, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara.

Langkah tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menegaskan bahwa setiap bantuan pemerintah harus dipastikan tepat sasaran, tepat mutu, dan memberikan manfaat nyata bagi petani.

Menurut Menteri Pertanian, inspeksi lapangan bukan dilakukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk memastikan setiap kekurangan dapat segera diperbaiki sehingga program pemerintah berjalan secara efektif dan akuntabel.

Hasil verifikasi menunjukkan sebanyak 39.861 batang bibit kelapa siap disalurkan kepada petani. Tim tidak hanya melakukan penghitungan ulang jumlah bibit, tetapi juga memeriksa kondisi kesehatan tanaman.

Sebagian bibit sebelumnya sempat terdampak serangan hama Brontispa sp., salah satu hama utama tanaman kelapa yang menyerang daun muda dan dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Setelah dilakukan pengendalian, kondisi bibit menunjukkan perkembangan yang baik, ditandai dengan munculnya daun-daun muda yang tumbuh normal tanpa gejala serangan hama sehingga bibit dinilai sehat dan layak tanam.

Tidak berhenti pada tahap pembibitan, BRMP Sulawesi Utara juga memperkuat pengawasan melalui verifikasi Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) sebagai dasar penyaluran bantuan.

Kegiatan tersebut bertujuan memastikan bahwa bibit benar-benar diterima oleh petani yang memenuhi persyaratan dan ditanam pada lokasi yang telah ditetapkan. Di Kabupaten Minahasa Utara, tim BRMP bersama Dinas Pertanian setempat menemukan bahwa terdapat 12 tahap pelaksanaan CPCL bantuan perbenihan kelapa.

Hingga saat ini, tahap pertama telah selesai disalurkan pada lahan seluas 400 hektare dengan jumlah 44.000 batang bibit, sedangkan sebelas tahap lainnya masih memerlukan pendampingan dan pemantauan secara berkelanjutan agar proses distribusi berjalan sesuai rencana.

Pemantauan lapangan juga dilakukan pada Kelompok Tani Menara Klabat di Kelurahan Airmadidi Atas yang menerima bantuan sebanyak 1.680 batang bibit kelapa untuk lahan seluas 15 hektare. Dari hasil pengecekan ditemukan sekitar 500 batang bibit yang belum ditanam.

Kondisi tersebut menjadi perhatian tim pendamping karena semakin lama bibit berada di luar lahan tanam, semakin besar risiko penurunan kualitas bibit.

Tim kemudian memberikan arahan kepada kelompok tani agar bibit segera ditanam sesuai standar teknis sehingga tingkat keberhasilan tumbuh tanaman dapat terjaga.

Gerakan peremajaan kelapa menjadi sangat penting mengingat sebagian besar perkebunan kelapa rakyat di Indonesia telah berumur tua sehingga produktivitasnya terus mengalami penurunan.

Tanaman yang telah melewati usia produktif menghasilkan buah lebih sedikit, kualitas hasil menurun, dan pada akhirnya berdampak terhadap pendapatan petani. Program bantuan bibit unggul menjadi salah satu solusi untuk mempercepat regenerasi tanaman sehingga produktivitas kebun dapat kembali meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Kelapa merupakan komoditas strategis karena hampir seluruh bagian tanamannya memiliki nilai ekonomi. Daging buah dapat diolah menjadi minyak kelapa, santan, tepung kelapa, dan berbagai produk pangan lainnya.

Air kelapa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri minuman dan pangan. Sabut kelapa dapat diolah menjadi cocopeat dan cocofiber yang banyak digunakan sebagai media tanam dan bahan baku industri, sementara tempurung kelapa dimanfaatkan untuk menghasilkan arang aktif, karbon, maupun produk kerajinan.

Bahkan batang dan daun kelapa masih memiliki nilai ekonomi sebagai bahan bangunan dan kerajinan. Karakteristik tersebut menjadikan kelapa sebagai salah satu komoditas dengan tingkat pemanfaatan yang sangat tinggi serta memiliki peluang besar dalam mendukung hilirisasi industri pertanian.

Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia dengan produksi mencapai sekitar 2,8–2,9 juta ton per tahun, dan lebih dari 95 persen dihasilkan oleh perkebunan rakyat.

Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan komoditas kelapa sangat bergantung pada kemampuan meningkatkan produktivitas petani kecil yang selama ini menjadi pelaku utama sektor perkebunan.

Peningkatan produktivitas melalui program peremajaan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat daya saing produk kelapa Indonesia di pasar global.

Meski demikian, pelaksanaan program peremajaan tidak terlepas dari berbagai tantangan. Selain tingginya jumlah tanaman tua, ancaman hama dan penyakit tanaman masih menjadi persoalan serius.

Kasus serangan Brontispa sp. yang ditemukan pada tahap pembibitan menunjukkan bahwa pengawasan mutu bibit harus dilakukan secara berkelanjutan. Di sisi lain, perubahan iklim yang menyebabkan pola curah hujan semakin tidak menentu juga dapat memengaruhi keberhasilan pertumbuhan tanaman muda.

Kondisi tersebut menuntut adanya pendampingan teknis kepada petani, mulai dari teknik penanaman, pemeliharaan, pengelolaan air, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Keberhasilan program ini juga tidak cukup diukur dari banyaknya bibit yang disalurkan. Yang lebih penting adalah memastikan bibit tersebut benar-benar ditanam, tumbuh dengan baik, dan pada akhirnya mampu meningkatkan produksi kebun petani.

Oleh sebab itu, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan kelompok tani menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan gerakan peremajaan kelapa di Sulawesi Utara.

Sebagai daerah yang identik dengan komoditas kelapa, Sulawesi Utara memiliki peluang besar untuk mengembalikan kejayaan sektor perkebunan melalui program peremajaan yang terencana dan berkelanjutan. Penyaluran 39.861 batang bibit kelapa merupakan langkah awal yang patut diapresiasi.

Namun, keberhasilan sesungguhnya akan ditentukan oleh kualitas pendampingan, konsistensi pengawasan, serta komitmen seluruh pihak dalam memastikan setiap bibit yang ditanam tumbuh menjadi tanaman produktif.

Jika program ini berjalan sesuai harapan, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga mampu memperkuat industri berbasis kelapa, meningkatkan perekonomian daerah, membuka lapangan kerja, dan menjaga Sulawesi Utara tetap menjadi salah satu sentra kelapa terbesar di Indonesia.

 

Profil Penulis:

Penulis bernama Asnidar Mastam STP MTP merupakan seorang dosen tetap di Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi.

Penulis lahir di Mabbiring 16 Februari 2000. Ketertarikan penulis dengan dunia Pertanian diawali dari pendidikan S1 penulis di Fakultas Pertanian, Program Studi Teknik Pertanian, Universitas Hasanudin. Kemudian penulis melanjutkan Studi S2 di Prodi dan kampus yang sama.

Editor : Kenjiro Tanos
fakultas pertanian unsrat Komiditas Kelapa Asnidar Mastam Peremajaan kelapa Unsrat