Penulis merupakan: Praktisi Manajemen Proyek, Konstruksi, dan Arsitektur
MANADOPOST.ID-Kebakaran Mega Mall Manado Kebakaran Mega Mall Manado seharusnya tidak berhenti sebagai berita duka yang perlahan hilang dari ingatan publik. Peristiwa itu harus menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kota Manado, pengelola pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, apartemen, perkantoran, dan seluruh pemilik bangunan bertingkat.
Dalam kejadian tersebut, sejumlah orang sempat terjebak dan seorang karyawan dilaporkan meninggal dunia. Selama hasil penyelidikan teknis belum diumumkan secara lengkap, kita tentu tidak boleh terburu-buru menyimpulkan bahwa sprinkler, alarm, hydrant, pintu tahan api, atau sistem pengendalian asap tertentu pasti gagal.
Namun, masyarakat tetap berhak mengajukan satu pertanyaan mendasar: seberapa siap bangunan-bangunan bertingkat di Manado menghadapi kebakaran?
Pertanyaan ini penting karena wajah Kota Manado terus berubah. Hotel, pusat perbelanjaan, rumah sakit, apartemen, dan bangunan komersial bertingkat tumbuh sebagai simbol investasi dan kemajuan. Gedung-gedung itu mungkin terlihat megah dari luar, tetapi keselamatan kebakaran tidak dapat dinilai dari fasad kaca, marmer, lampu dekoratif, atau kemewahan interior.
Keselamatan baru dapat dinilai ketika seluruh sistem benar-benar diuji dan terbukti bekerja.
Ada Alat, Belum Tentu Ada Perlindungan
Kesalahan paling umum dalam menilai keamanan kebakaran adalah menganggap sebuah bangunan sudah aman hanya karena terdapat sprinkler di plafon, APAR di koridor, hydrant di dinding, dan tanda keluar di atas pintu.
Keberadaan peralatan belum membuktikan bahwa sistem tersebut siap digunakan.
Sprinkler dapat terlihat terpasang, tetapi belum tentu memperoleh tekanan dan debit air yang cukup. Hydrant cabinet dapat tampak lengkap, tetapi belum tentu pompa kebakarannya bekerja otomatis. Detektor asap dapat berada di banyak ruangan, tetapi belum tentu terhubung dengan benar ke panel alarm.
Pintu bertuliskan fire door pun belum tentu benar-benar memiliki ketahanan api yang sesuai. Dalam praktik, pintu semacam itu kadang diganjal agar tetap terbuka. Ketika kebakaran terjadi, kebiasaan kecil tersebut dapat membuka jalan bagi asap dan panas menuju koridor serta tangga darurat.
Sistem proteksi kebakaran harus bekerja sebagai satu rangkaian.
Ketika detektor menerima asap, sinyal harus masuk ke panel. Alarm harus berbunyi dan terdengar di seluruh bagian gedung. Pompa harus menyala ketika tekanan jaringan turun. Lift harus menjalankan prosedur kebakaran. Pintu tahan api harus menutup. Lampu darurat harus tetap menyala. Sistem pengendalian asap harus menjaga jalur evakuasi agar tetap dapat digunakan.
Jika satu mata rantai gagal, sistem lainnya dapat kehilangan efektivitas.
Karena itu, pemeriksaan tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Apakah alatnya ada?” Pertanyaan yang benar adalah, “Apakah seluruh sistem bekerja saat dibutuhkan?”
Asap Sering Lebih Mematikan daripada Api
Dalam kebakaran gedung, bahaya terbesar tidak selalu berasal dari nyala api. Asap panas dan gas beracun dapat menyebar lebih cepat, menutup jarak pandang, menimbulkan kepanikan, dan membuat manusia kehilangan kemampuan menyelamatkan diri.
Itulah sebabnya tangga darurat bukan sekadar tangga tambahan di bagian belakang bangunan. Tangga darurat harus menjadi ruang aman yang terlindungi dari asap dan api.
Pintunya harus tahan api dan dapat menutup otomatis. Koridornya harus bebas dari barang. Penerangan darurat dan penanda keluar harus berfungsi. Pada bangunan tertentu, tangga darurat juga perlu dilengkapi sistem tekanan positif, yaitu aliran udara yang mencegah asap masuk ke ruang tangga ketika pintu dibuka.
Sayangnya, jalur evakuasi sering menjadi bagian yang paling mudah diabaikan. Tangga darurat berubah menjadi gudang sementara. Kardus, kursi, material renovasi, atau barang dagangan ditempatkan di jalur keluar. Ada pula pintu darurat yang dikunci dengan alasan keamanan.
Dalam keadaan biasa, pelanggaran itu mungkin dianggap sepele. Saat kebakaran, satu pintu terkunci atau satu koridor yang terhalang dapat menentukan hidup dan mati.
Sistem proteksi pasif juga tidak boleh dilupakan. Dinding dan lantai pembatas harus mampu menahan penjalaran api selama waktu tertentu. Lubang kabel dan pipa harus ditutup menggunakan bahan tahan api atau fire stopping. Saluran udara juga memerlukan fire damper atau smoke damper, yaitu perangkat yang menutup otomatis untuk mencegah api dan asap menyebar melalui ducting.
Tanpa perlindungan tersebut, shaft, duct, dan jalur utilitas dapat berubah menjadi jalan cepat bagi api dan asap menuju lantai lain.
Gedung Tinggi Harus Mampu Menolong Dirinya Sendiri
Pada gedung tinggi, mobil pemadam tidak dapat menjadi satu-satunya pertahanan.Kepadatan lalu lintas, kendaraan parkir, akses yang sempit, ruang manuver terbatas, dan ketinggian bangunan dapat memperlambat operasi pemadaman. Tangga hidrolik juga memiliki batas jangkauan. Petugas memerlukan waktu untuk masuk, mengenali kondisi, dan mencapai lantai yang terbakar.Artinya, pada menit-menit pertama, bangunan harus mampu menolong dirinya sendiri.
Sprinkler harus mengendalikan api ketika masih kecil. Alarm harus memberi waktu kepada penghuni untuk keluar. Kompartemen kebakaran harus memperlambat penyebaran. Hydrant dan jaringan pipa tegak harus menyediakan air pada lantai yang terdampak. Sistem pengendalian asap harus mempertahankan jalur evakuasi agar tetap aman digunakan.
Dalam kebakaran gedung, beberapa menit pertama sangat menentukan. Sistem yang tidak berfungsi sejak awal dapat membuat api kecil berkembang menjadi bencana besar sebelum petugas pemadam sempat bekerja secara maksimal.
Manado Memerlukan Audit, Bukan Seremoni
Setelah kebakaran Mega Mall, langkah paling bertanggung jawab bukan terburu-buru mencari pihak untuk disalahkan. Langkah yang lebih penting adalah melakukan audit menyeluruh terhadap bangunan publik dan bangunan tinggi di Manado.
Audit tidak boleh berhenti pada pencatatan jumlah APAR, hydrant, atau sprinkler. Audit harus membuktikan bahwa sistem benar-benar berfungsi.
Pompa kebakaran harus diuji pada beban sebenarnya. Tekanan dan aliran air harus diukur. Alarm perlu diuji di seluruh lantai. Genset harus mampu memasok peralatan darurat. Pintu tahan api harus diperiksa. Sistem pengendalian asap perlu disimulasikan.
Tangga darurat harus ditelusuri dari lantai tertinggi sampai titik keluar akhir. Jalurnya harus bersih, pintunya tidak terkunci, lampu daruratnya menyala, dan penandanya mudah terlihat.
Pemerintah Kota Manado bersama dinas pemadam kebakaran, dinas teknis bangunan, tenaga ahli, dan asosiasi profesi perlu menyusun program audit berkala dengan hasil yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bangunan seharusnya dikategorikan secara tegas: layak, layak dengan perbaikan, atau belum layak sampai kekurangannya diselesaikan.
Bangunan yang menerima ribuan pengunjung setiap hari tidak boleh beroperasi hanya berdasarkan keyakinan bahwa “selama ini tidak pernah terjadi apa-apa”.
Kalimat seperti itu terdengar menenangkan, tetapi justru dapat menjadi awal dari kelalaian.
Latihan Evakuasi Bukan Acara Dokumentasi
Setiap gedung tinggi harus memiliki organisasi tanggap darurat internal. Petugas keamanan, teknisi, pengelola, dan penyewa harus mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika alarm berbunyi.
Mereka harus memahami cara membaca panel kebakaran, menghubungi pemadam, mengarahkan pengunjung, membantu penyandang disabilitas, memastikan lift tidak digunakan secara keliru, serta menjaga jalur evakuasi tetap tertib.
Latihan evakuasi juga tidak boleh berubah menjadi kegiatan seremonial untuk mengambil foto.
Simulasi harus menguji apakah alarm benar-benar terdengar, apakah pintu dapat dibuka, apakah penghuni mengetahui titik kumpul, apakah petugas memahami tugasnya, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengosongkan bangunan.
Jika latihan selalu berlangsung mulus karena seluruh peserta sudah diberi tahu sebelumnya, maka yang diuji bukan kesiapsiagaan, melainkan kemampuan menjalankan acara.
Kesiapsiagaan yang sesungguhnya justru terlihat ketika sistem, petugas, dan penghuni mampu bereaksi dengan cepat dalam kondisi yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi.
Keselamatan adalah Ukuran Kemajuan Kota
Kritik terhadap sistem keselamatan kebakaran bukan serangan terhadap pemilik atau pengelola gedung. Kritik adalah bentuk kepedulian terhadap pekerja, pengunjung, investasi, dan masa depan Kota Manado.
Kebakaran Mega Mall harus menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar peristiwa yang dikenang beberapa hari lalu dilupakan.
Manado tidak boleh menunggu gedung berikutnya terbakar untuk mulai bertanya apakah sistem keselamatannya benar-benar bekerja.
Gedung tinggi boleh menjadi simbol kemajuan. Namun, keselamatan manusialah ukuran sesungguhnya dari sebuah kota yang beradab.
Saat api muncul, kita tidak lagi memiliki waktu untuk memperbaiki pompa yang rusak, membuka pintu yang terkunci, membersihkan tangga yang penuh barang, atau mencari tahu mengapa alarm tidak berbunyi.
Keselamatan harus dibangun, dipelihara, diuji, dan diawasi sebelum keadaan darurat datang.
Sebab gedung yang megah tetapi tidak mampu melindungi manusia di dalamnya bukanlah tanda kemajuan. Ia hanyalah risiko besar yang berdiri di tengah kota.
Editor : Ayurahmi Rais