Ketika Berhala Berganti Wujud

Clavel Lukas • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:03 WIB
Mahyudin Damis
Mahyudin Damis

Mahyudin Damis

Dosen Antropologi FISIP UNSRAT Manado

Manusia sering tunduk kepada sesuatu yang diciptakannya sendiri. Dulu, ia membuat berhala dari batu lalu menyembahnya. Kini, berhala itu berganti wujud: uang, jabatan, kekuasaan, dan kepentingan. Bentuknya berubah, tetapi ketundukannya tetap sama. Itulah wajah jahiliah modern.

Jahiliah bukan sekadar keadaan ketika manusia belum mengenal ilmu pengetahuan. Masyarakat Arab sebelum Nabi Muhammad SAW mengenal Tuhan, tetapi kehidupan mereka dikuasai oleh kesukuan, kekayaan, dan kekuasaan. Persoalannya bukan semata-mata apa yang mereka ketahui, melainkan apa yang menguasai kehidupan mereka. Jahiliah terjadi ketika manusia kehilangan kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya: apa yang seharusnya berada di bawah kendali manusia justru mengambil alih dan mengendalikan manusia.

Berhala memang berganti wujud. Dahulu manusia berlutut di hadapan patung; kini manusia dapat tunduk kepada uang, jabatan, kekuasaan, bahkan kepentingan. Berhala modern tidak selalu berdiri di atas altar. Ia bisa berada di dalam rekening, melekat pada jabatan, atau bersembunyi di balik kepentingan. Ia tidak meminta disembah, tetapi dapat membuat manusia kehilangan keberanian untuk berkata benar.

Yang berubah dari zaman Nabi ke zaman kita hanyalah bentuk berhalanya. Dahulu manusia berlutut di hadapan patung; kini manusia dapat tunduk kepada uang, jabatan, kekuasaan, bahkan kepentingan. Berhala modern tidak selalu berdiri di atas altar. Ia bisa berada di dalam rekening, melekat pada jabatan, atau bersembunyi di balik kepentingan. Simbolnya berubah, tetapi relasi ketundukannya tetap sama: manusia menempatkan sesuatu yang diciptakannya di atas dirinya sendiri. Di sana, berhala tidak lagi sekadar menjadi benda yang dipercayai, tetapi menjadi bagian dari hubungan sosial: siapa yang memberi, siapa yang menerima, siapa yang mendekat, siapa yang diam, dan siapa yang memperoleh keuntungan.”

Kekuasaan tidak selalu membungkam dengan ancaman. Kadang ia bekerja lebih halus: membuat orang takut berbicara, membuat kritik kehilangan ruang, atau membuat suara yang semestinya mengawasi justru nyaman berada di dekat kekuasaan. Pada titik tertentu, orang tidak perlu diperintah untuk diam. Ia cukup dibuat merasa bahwa diam lebih menguntungkan daripada berkata benar.

Karena itu, persoalannya bukan hanya pada mereka yang memegang kekuasaan. Mereka yang berada di luar kekuasaan pun perlu menjaga jarak kritisnya. Ulama, akademisi, pengamat, aktivis, dan mahasiswa adalah bagian penting dari suara publik. Tetapi suara itu pun dapat kehilangan daya kritis ketika mulai didekati oleh uang, jabatan, akses, atau kepentingan. Bukan berarti mereka semua demikian. Justru peringatannya ada di sini: jangan sampai suara yang seharusnya mengawasi kekuasaan perlahan justru ikut dikuasai olehnya.

Di sinilah kita memahami mengapa mahasiswa masih turun ke jalan. Bukankah parlemen dibentuk sebagai tempat rakyat berbicara melalui wakil-wakilnya? Ketika suara itu tidak cukup terdengar di dalam gedung parlemen, ia mencari jalan lain di luar gedungnya. Jalanan kemudian menjadi ruang tempat kegelisahan publik diperdengarkan kembali. Mahasiswa turun bukan karena mereka memiliki parlemen sendiri, melainkan karena ada sesuatu yang mereka anggap tidak selesai di dalam parlemen.

Namun, jalanan pun bukan ruang yang sepenuhnya bebas dari kepentingan. Ketika muncul kasus mahasiswa yang disebut menerima uang untuk mengubah titik demonstrasi, kita diingatkan bahwa suara kritik pun dapat disentuh oleh kepentingan. Jalanan yang semestinya menjadi ruang untuk menyuarakan kegelisahan publik ternyata juga dapat dimasuki oleh uang. Satu kasus tidak boleh menjadi alasan untuk mencurigai seluruh gerakan mahasiswa. Tetapi dari sini muncul pertanyaan yang lebih mendasar: jika suara yang seharusnya menjadi tekanan moral dapat dipengaruhi oleh uang, masih di mana kita menemukan suara yang benar-benar bebas?

Di titik ini, uang tidak lagi sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan. Ia dapat berubah menjadi alat untuk memengaruhi pilihan, membeli kedekatan, bahkan menggeser keberanian. Ketika uang dapat membeli pengaruh dan kepentingan dapat membeli suara, kebebasan manusia perlahan kehilangan maknanya. Manusia memang masih merasa memilih, tetapi pilihannya bisa saja sudah diarahkan oleh kekuatan yang berada di belakang uang dan kepentingan itu.

Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari Nabi Muhammad SAW? Nabi tidak mengajarkan manusia untuk menjauhi kekuasaan, melainkan menunjukkan bagaimana kekuasaan seharusnya digunakan. Ketika berada dalam posisi sebagai pemimpin, beliau tidak menjadikan kekuasaan sebagai milik pribadi, tetapi sebagai amanah. Kekuasaan digunakan untuk menegakkan keadilan, melindungi martabat manusia, dan menghadirkan kemaslahatan. Di sinilah keteladanan Nabi menjadi penting: kekuasaan boleh berada di tangan manusia, tetapi tidak boleh menguasai kemanusiaannya.

Karena itu, Nabi Muhammad SAW adalah teladan bagi siapa pun, termasuk mereka yang memegang kekuasaan. Beliau pernah berada dalam banyak posisi kehidupan: sebagai pemuda, pedagang, kepala keluarga, pengajar, hingga pemimpin masyarakat. Di setiap posisi itu, manusia berhadapan dengan godaan yang berbeda, tetapi ukuran moralnya tetap sama: apakah posisi yang dimiliki membuat seseorang semakin bermanfaat bagi manusia lain, atau justru membuatnya merasa lebih tinggi dari manusia lain? 

Akhirnya, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan kesempayan untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang sedang kita sembah dalam kehidupan ini? Mungkin bukan patung. Mungkin uang, jabatan, kekuasaan, atau kepentingan yang perlahan membuat kita tunduk. Sebab berhala dapat berganti wujud, tetapi tugas manusia tetap sama: jangan sampai sesuatu yang kita ciptakan justru mengambil alih diri kita.

Editor : Clavel Lukas
mahyudin damis Tulisan