Kemarau Ekstrem dan Nasib Emas Hitam Sulawesi Utara

Kenjiro Tanos • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:38 WIB
Luluk Hidayanti Utami, S.P., M.Sc
Luluk Hidayanti Utami, S.P., M.Sc

 

Ditulis oleh: Luluk Hidayanti Utami, S.P., M.Sc, Dosen Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi

Bagi masyarakat Sulawesi Utara, cengkeh bukan sekadar tanaman perkebunan, melainkan emas hitam penopang utama ekonomi keluarga dan penggerak geliat pasar lokal.

Adanya anomali iklim global seperti El Niño yang menyebabkan kemarau ekstrem dan penurunan curah hujan drastis pada Agustus hingga September, mampu mengancam keanekaragaman hasil panen dan kesejahteraan petani.

Untuk menghadapi ancaman ini, pendekatan ekofisiologi menjadi kunci dalam memahami serta memitigasi dampak kekeringan pada pohon cengkeh.

Ekofisiologi mempelajari respon organ dalam tanaman (akar, batang, daun dan bunga) terhadap perubahan lingkungan. Ketika terjadi cekaman kekeringan, pohon cengkeh merespon secara bertahap, menurut beberapa literatur:

● Saat lengas tanah di kedalaman 0–60 cm menipis, akar memproduksi hormon asam absisat (ABA). Hormon ini memerintahkan stomata agar menutup guna menekan laju transpirasi.

● Penutupan stomata menghambat masuknya gas CO2, sehingga proses fotosintesis terhenti total. Tanaman terpaksa mengkonsumsi cadangan pati internal untuk bertahan hidup.

● Akibat hilangnya efek pendinginan dari penguapan, suhu daun melonjak 2–5oC di atas suhu udara. Kondisi ini merusak klorofil (klorosis) dan memicu gugur daun massal.

 

Pernyataan “cengkeh harus kena panas dulu baru berbunga lebat” memiliki dasar ilmiah. Kemarau ringan 1,5–2 bulan memberikan stres sedang pada meristem pucuk, menghentikan pertumbuhan vegetatif serta merangsang induksi bunga.

Namun, jika El Niño berlangsung ekstrem (>3–5 bulan), dampaknya sangatlah berisiko, diantaranya:

● Kehabisan air dan energi memicu akumulasi hormon penggugur, sehingga menyebabkan kuncup bunga rontok sebelum membesar.

● Gelembung udara menyumbat pembuluh air di ranting, memicu kematian pucuk yang butuh waktu 2–3 tahun untuk pulih.

● Pohon menjadi sangat rentan terhadap hama penggerek batang (Nothopeus hemipterus), penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC), serta risiko kebakaran lahan akibat guguran daun kering kaya eugenol.

Selain itu, dampak kekeringan bervariasi berdasarkan kondisi pedoklimatologi daerah. Wilayah Minahasa dan Minsel merupakan dataran medium-tinggi yang memiliki tanah andosol dan latosol dengan kapasitas simpan air yang baik, sehingga cengkeh mampu bertahan lebih lama meski bobot bunga menyusut. Sedangkan wilayah Bolaang Mongondow Raya merupakan dataran rendah dan lahan miring dengan suhu tinggi (>33–34oC) dapat mempercepat evapotranspirasi.

Menurut data, lahan miring tanpa konservasi mengalami stres air paling parah. Lalu untuk wilayah Kepulauan (Sangihe, Talaud, Sitaro) meskipun dikelilingi laut, namun memiliki lapisan air tanah yang tipis. Sehingga memicu cekaman ganda berupa kekeringan dan resapan air asin pada perakaran membuat daun cengkeh mudah terbakar di bagian pinggirannya.

Menurut beberapa pakar, petani dapat menerapkan tindakan mitigasi untuk meminimalkan risiko kegagalan panen:

● Menimbun jerami atau sabut kelapa setebal 10–15 cm di bawah piringan tajuk untuk menekan evaporasi tanah.

● Membuat lubang penampung air (100 x 40 x 40 cm) yang diisi bahan organik di antara barisan tanaman.

● Pemberian pupuk KCl dapat meningkatkan sensitivitas stomata, sedangkan pupuk silika untuk membentuk lapisan pelindung pada kutikula daun untuk memantulkan radiasi panas.

● Aplikasi emulsi kaolin (tanah liat putih halus) atau emulsi organik tipis mendinginkan suhu permukaan daun.

● Menghindari pemangkasan berat selama kemarau agar kulit batang utama tidak terbakar sinar matahari.

Saya berpendapat bahwa anomali iklim El Niño adalah tantangan nyata yang tidak bisa kita hindari.

Perubahan iklim global memastikan bahwa periode kemarau ekstrem seperti ini akan terus berulang di masa-masa mendatang. Namun, memahami reaksi ekofisiologi tanaman cengkeh memberi kita harapan baru.

Pohon cengkeh bukanlah benda mati, ia adalah makhluk hidup yang sangat adaptif. Ketika kita memahami kapan akar cengkeh kehausan, mengapa daunnya menguncup dan bagaimana bunganya merespon stres kekeringan, kita dapat mengambil langkah-langkah penyelamatan yang tepat sasaran.

Sudah saatnya paradigma budidaya cengkeh di Sulawesi Utara beralih dari sekadar menanam dan menunggu panen menjadi perkebunan cengkeh ramah iklim. Sinergi antara kearifan lokal para petani, dukungan kebijakan pemerintah daerah dalam penyediaan sarana air serta penerapan ilmu teknologi pertanian adaptif adalah kunci utama.

Dengan menjaga kesehatan fisiologis pohon cengkeh kita dari ancaman El Niño, kita tidak hanya menyelamatkan helai-helai daun dan kuncup bunga di dahan, tetapi juga sedang merawat masa depan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara.

Editor : Kenjiro Tanos
Cengkeh Sulawesi Utara Petani cengkeh Kekeringan cengkeh el nino