Pengembangan Kewirausahaan Gizi bagi Mahasiswa melalui Pelatihan dan Pendampingan

Filip Kapantow • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 12:20 WIB
 
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Skema PPK
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Skema PPK
 
 
KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SKEMA PPK
(Manado, 12 Agustus 2026)
 
PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN GIZI BAGI MAHASISWA MELALUI                      PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN
 
Olga Lieke Paruntu, Grace K.L. Langi, Irza Nanda Ranti, Cinthia Ulva Isima
Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Manado
Olgaparuntu467@gmail.com
 
RINGKASAN
Kewirausahaan gizi merupakan salah satu kompetensi yang penting dikembangkan pada mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Manado untuk meningkatkan kesiapan lulusan dalam menciptakan peluang usaha berbasis pangan dan gizi. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam mengembangkan kewirausahaan giizi melalui pelatihan dan pendampingan. Peserta kegiatan berjumlah 50 mahasiswa Jurusan Gizi. 
 
Metode pelaksanaan meliputi pretest, penyampaian materi berupah ceramah, diskusi kelompok, penyusunan produk dan proposal kewirausahaan gizi,presentase kelompok, praktikum dan pendampingan dalam pembuatan produk, serta praktek penjualan prduk. Peserta dibagi menjadi 10 kelompok untuk Menyusun dan mengembangkan ide produk kewirausahaan gizi. Evaluasi pengetahuan dilakukan melalui pretest dan posttest. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata nilai pengetahuan dari 65,7 pada pretest menjadi 67,6 pada posttest, atau meningkat sebesar 21,9 poin (33,3 %).  Selain peningkatan pengetahuan, kegiatan memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa dalam mengembangkan ide produk, Menyusun konsep usaha, mempresentasikan produk, dan melakukan praktek pembuatan produk pangan serta penjualan.
Pelatihan yang dikombinasikan dengan diskusi, praktek, presentasi dan pendampingan dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kompetansi kewirausahaan gizi bagi mahasiswa. Kegiatan serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dengan penguatan pada aspek analisis biaya produksi, pemasaran legalitas, keamanan pangan, dan pengembangan usaha.
 
PENDAHULUAN
Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan professional, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap perubahan dunia kerja. Salah satu kompetensi yang perlu dikembangkan adalah kewirausahaan. Kewirausahaan dapat menjadi alternatif bagi lulusan untuk menciptakan lapangan kerja serta sekaligus mengembangkan inovasi sesuai dengan bidang keilmuwannya. Mahasiswa Jurusan Gizi memliki peluang yang luas untuk mengembangkan kewirausahaan berbasis kompetensi gizi. Penegetahuan mengenai ilmu gizi, pangan, pengolahan makanan, penyelenggaraan makanan serta perilaku konsumen dapat menjadi modal dalam mengembangkan produk maupun jasa yang memiliki nilai ekonomi. Kewirausaan gizi dapa6 diarahkan pada pengembangan produk pangan yang memiliki nilai gizi, keamanan pangan, kebutuhan konsumen, dan potensi bahan pangan lokal.
Pengembangan produk pangan berbasis kompetensi gizi juga memiliki peluang dalam mendukung pemanfaatan pangan lokal. Berbagai pangan lokal dapat diolah menjadi produk inovatif dengan nilai tambah yang lebij tinggi. Namun, kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan ide menjadi produk yang bernilai ekonomi masih perlu ditingkatkan.  Mahasiswa tidak hanya membutuhkan pengetahuan tetnatng kewirausahaan, tetapi juga pengalaman dalam Menyusun ide produk, menentukan sasaran konsumen, mengembangkan produk, melakukan presentase, serta mempraktekkan proses produksi dan penjualan. 
Pembelajaran kewirausahaan melalui pengalaman langsung menjadi penting karena mahasiswa dapat mengintegrasikan pengetahuan yang diperoleh dengan keterampilan praktis. Pelatihan yang dilengkapi diskusi kelompok, praktek, presentasi dan pendampingan dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar melalui proses pengembangan produk secara langsung.
Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan sebagai salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam meningkatkan kompetensi kewirausaahaan mahasiswa Jurusan Gizi. Kegiatan dirancang tidaka hanya dalam bentuk penyampaian materi, tetapi juga melibatkan mahasiswa dalam proses ppenyusunan ide produk, diskusi kelompok, presentasi, dan praktek pembuatan dan penjualan produk.  Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam bidang kewirausahaan gizi melalui pelatihan dan pendampingan, serta memberikan pengalaman praktis dalam mengembangkan produk pangan yang berpotensi menjadi produk usaha.
 
METODE PELAKSANAAN
Peserta dan Lokasi Usaha
Peserta kegiatan adalah mahasiswa Jurusan Gizi sebanyak 50 orang. Peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pelatihan dan praktik pengembangan produk kewirausahaan gizi.
 
Tahapan Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu :
1. Pretest
Sebelum pelatihan, peserta diberikan pretest secara digital untuk menegetahui tingkat pengetahuan awal mengenai kewirausahaan gizi. Nilai Pretest digunakan sebagai dasar untuk mengetahui perubagah pengetahuan setelah mengikuti kegiatan
2. Pelatihan
Pelatihan dilakukan menggunakan metode ceramah tanya jawab dan diskusi. Materi diberikan secara interaktif oleh narasumber yang kompeten di bidang kewirausahaan, agar mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai konsep kewirausahaan, peluang kewirausahaan gizi, pengembangan ide produk, prinsip dasar pengembangan produk pangan, serta cara pemasaran produk.
3. Diskusi dan Penyusunan Produk
Peserta dibagi menjadi 10 kelompok. Setiap kelompom terdiri dari 5 peserta. Kelompok diarahkan untuk mengidentifikasi ide produk kewirausahaan gizi dan Menyusun konsep produk yang akan dikembangkan. Pada tahap ini mahasiswa mendiskusikan jenis produk, bahan yang digunakan, karakteristik produk, serta sasaran konsumen, keunggulan produk, serta poten si pengembangan produk sebagai usaha.
4. Presentasi Kelompok
Setiap kelompok mempresentasikan rancangan produk kewirausahaan gizi yang telah disusun. Presentasi bertujuan melatih kemampuan mahasiswa dalam mengkomunikasikan ide produk dan memperoleh masukan dari kelompok lain serta tim pelaksana.
5. Praktikum Pembuatan Produk
Setelah rancangan produk disusun dan dipresentasikan, mahasiswa melakukan praktikum pembuatan produk di laboratorium penyelenggaraan makanan Jurusan Gizi. Kegiatan dilakukan secara berkelompok dengan menerapkan konsep yang telah diperoleh selama pelatihan.
6. Pendampingan
Pendampingan dilakukan selama proses diskusi dan praktik pembuatan produk dan praktik penjualan. Tim pelaksana memberikan arahan dan masukan terhadap ide produk, proses pembuatan, mutu produk, serta proses pengembangan produk sebagai usaha sampai dengan praktek penjualan. 
 
EVALUASI
Evaluasi pengetahuan dilakukan dengan membandingkan nilai rata-rata pretest dan posttest. Peningkatan pengetahuan dihitung berdasarkan selisih nilai rata-rata sebelum dan sesudah pelatihan. Rumus persentase peningkatan : 
Selain evaluasi pengetahuan, evaluasi proses dilakukan melalui pengamatan terhadap keaktifan peserta dalam diskusi, kemampuan Menyusun ide produk, presentase kelompok, dan keterampilan dalam praktik pembuatan produk.
 
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Peserta
Kegiatan diikuti oleh 50 mahasiswa Jurusan Gizi. Peserta kemudian dibagi menjadi 10 kelompok, sehingga setiap kelompok terdiri atas lima morang mahasiswa. Pembagian kelompok bertujuan meningkatkan interaksi dan kkerjasama peserta dalam mengembangkan ide produk kewirausahaan gizi. Kegiatan kelompok memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertukar gagasan, menentukan produk, membagi tugas, dan menyelesaikan permasalahan selama proses pengembangan produk. Proses tersebut sekaligus melatih kemampuan Kerjasama dan komunikasi yang merupakan bagian penting dari kompetensi kewirausahaan.
 
Peningkatan Peengetahuan Peserta
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan mahasiswa setelah mengikuti pelatihan. 
Tabel 1. Nilai Rata-rata Pengetahuan Peserta Sebelum dan Sesudah Pelatihan
Evaluasi Nilai Rata-rata
Pretest
Posttest
Peningkatan 65,7
87,6
21,9
 
Berdasarkan Tabel 1, rata-rata nilai pengetahuan peserta meningkat dari 65,7 pada pretest menjadi 87,6 pada posttest. Dengan demikian terjadi peningkatan sebesar 21,9 poin atau sekitar 33,3% debandingkan nilai awal.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa materi pelatihan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai kewirausahaan gizi. Metode ceramah interaktif yang dikombinasikan dengan diskusi dan presentase kelompok memungkinkan peserta memperoleh pengetahuan sekaligus mendiskusikan penerapannya dalama konteks pengembangan produk kewirausahaan. Peningkatan pengetahuan juga tida terlepas dari metode pembelajaran yang emelibatkan mahasiswa secara aktif. Peserta tidak hanya menerima materi tetapi juga diminta mengembangkan ide, mendiskusikan produk, mempresentasikan hasil, dan melakukan praktik pembuatan produk dan praktik penjualan. Pendekatan tersebut memungkinkan mahasiswa menghubungkan pengetahuan teoritis dengan pengalaman langsung. 
 
Pengembangan Ide Produk Kewirausahaan Gizi
Setelah memperoleh materi, peserta bekerja dalam 10 kelompok untuk Menyusun ide produk kewirausahaan gizi. Setiap kelompok melakukan diskusi untuk menentukan produk yang akan dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek gizi, daya Tarik konsumen, ketersediaan bahan, proses pengolahan, dan peluang pemasaran.  Tahap penyusunan ide merupakan bagian penting dalam proses kewirausahaan karena mahasiswa belajar mengidentifikasi kebutuhan dan peluang. Dalam proses tersebut, mahasiswa tidak hanya berpikir mengenai produk yang dapat dibuat, tetapi juga mulai mempertimbangkan siapa calon konsumen dan apa keunggulan produk yang ditawarkan. Kegiatan ini memberikan pengalaman kepada mahasiswa bahwa suatu produk kewirausahaan perlu memiki karakteristik yang jelas dan memberikan nilai tambah bagi konsumen.
 
Presentasi Kelompok
Presentasi rancangan produk dilakukan oleh masing-masing kelompok. Setiap kelompok menjelaskan ide produk yang telah dikembangkan, bahan yang digunakan, keunggulan produk, sasaran konsumen, serta rencana pengembangan. Presentasi memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk menyampaikan ide secara sistematis dan meyakinkan. Selain itu, proses tanya jawab memberikan kesempatan kepasa mahasiswa untuk menerima masukan dan melakukan perbaikan terhadap konsep produk. Kemampoan mempresentasikan produk merupakan salah satu keterampilan yang penting dalam kewirausahaan karena pengembangan usaha membutuhkan kemampuan komunikasi, promosi, dan negosiasi.
 
Praktikum Pembuatan Produk
Praktikum merupakan tahapan yang memberikan pengalaman langsung  kepada mahasiswa dalam mengimplementasikan rancangan produk. Peserta melaksanakan persiapan bahan, proses pengolahan, dan penyelesaian produk sesuai dengan konsep yang telah disusun. Melalui praktik, peserta memperoleh pengalaman bahwa pengembangan produk tidak selalu berjalan sesuai denga rancangan awal. Beberapa aspek dapat memerlukan penyesuaian seperti tekstur, rasa, bentuk, ukuran, penggunaan bahan, maupun Teknik pengolahan.  Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran kewirausahaan. Karena mahasiswa belajar melakukan evaluasi dan perbaikan produk berdasarkan hasil praktik.
 
Pendampingan Sebagai Penguatan
Pendampingan dilakukan untuk memberikan arahan kepada peserta selama proses pengembangan produk. Tim pelaksana memberikan masukan terhadap konsep produk dan pelaksanaan praktik serta penjualan.  Pendampingan membantu mahasiswa mengidentifikasi kekurangan produk dan menentukan perbaikan yang diperlukan. Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti pada pemberian materi, tetapi dilanjutkan dengan proses penerapan dan evaluasi. Pendekatan pelatihan disertai dengan pendampingan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih komprehensif. Mahasiswa memperoleh pengetahuan, kemudian menerapkannya dalam kegiatan kelompok melalui praktik, dan mendapatkan umpan balik dari tim pelaksana.
 
Dampak Kegiatan Terhadap Kompetensi Mahasiswa
Berdasarkan hasil evaluasi pengetahuan dan pengamatan selama kegiatan, terdapat beberapa capaian yang diperoleh mahasiswa sebagai peserta, yaitu :
1. Meningkatnya pengetahuan mengenai kewirausahaan gizi.
2. Meningkatnya kemampuan mengidentifikasi ide usaha.
3. Meningkatnya kemampuan bekerja dalam kelompok.
4. Meningkatnya kemampuan menyusun konsep produk.
5. Meningkatnya kemampuan mempresentasikan ide produk.
6. Bertambahnya pengalaman dalam praktik pembuatan produk pangan; dan
7. Meningkatnya pemahaman mengenai proses pengembangan produk dan ide hingga menjadi produk usaha.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan dan pendampingan dapat dapat menjadi salah satu pendekatan dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa Jurusan Gizi. Peengembangan kewirausahaan pada mahasiswa sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, mulai dari pengenalan konsep, identifikasi peluang, pengembangan produk, analisis pasar, perhitungan biaya, hingga pemasaran.  Untuk kegiatan selanjutnya, aspek pengembangan produk dapat diperkuat dengan analisis kandungan gizi, uji daya terima konsumen, perhitungan HPP dan BEP, penentuan harga jual, desain kemasan, pelebelan, pemasaran digital, serta penyusunan model bisnis sederhana, Dengan demikian, produk yang dihasilkan mahasiswa tidak hanya menjadi hasil praktik, tetapim memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha yang berkelanjutan.
 
KESIMPULAN
Kegiatan pengembangan kewirausahaan gizi melalui pelaatihan dan pendampingan yang diikuti oleh 50 mahasiswa Jurusan Gizi memberikan hasil positif terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 65,7 pada pretest menjadi 87,6 pada posttest dengan peningkatan sebesar 21,9 poin atau sekitar 33,3%. Selain peningkatan pengetahuan, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam bekerja secara kelompok, Menyusun ide produk kewirausahaan gizi, mempresentasikan rancangan produk, dan melakukan praktik pembuatan produk sampai pada penjualan produk. Pelatihan yang dipadukan dengan diskusi, praktik, presentasi, dan pendampingan dapat menjadi strategi yang baik untuk meningkatkan kompetensi kewirausahaan bagi mahasiswa.
 
SARAN 
Kegiatan kewirausahaan gizi bagi mahasiswa perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendampingan lanjutan. Pengembangan beikutnya disarankan mencakup analisis HPP dan BEP, uji penerimaan produk, pengemasan dan pelebelan, pemasaran digital, legalitas usaha, keamanan pangan, serta monitoring keberlanjutan usaha mahasiswa.
Editor : Filip Kapantow
Poltekes Kemenkes Manado Kemenkes Manado