Sitou Timou Tumou Tou: Ke Mana Dosen Harus Kembali?

Clavel Lukas • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 10:17 WIB
Mahyudin Damis
Mahyudin Damis

 

Mahyudin Damis
Dosen Antropologi FISIP Universitas Sam Ratulangi Manado

 “Saya berdiri di sini karena politik.”

Kalimat Plt. Rektor Universitas Sam Ratulangi, Prof. Jamaluddin Jompa, dalam sambutannya pada puncak Dies Natalis ke-62 FISIP Unsrat, 4 September 2026, layak didengar lebih lama daripada tepuk tangan yang mengikutinya. Pernyataan itu mengusik satu pertanyaan: ketika politik hadir di kampus, ke mana universitas harus berdiri?

Universitas bukan sekadar tempat orang memperoleh gelar akademik. Ia adalah ruang tempat pengetahuan diproduksi, manusia dibentuk, dan masa depan masyarakat ikut ditentukan. Apa yang berlangsung di dalamnya tidak pernah berhenti di balik pagar kampus.

Di situlah Sitou Timou Tumou Tou memperoleh makna yang lebih dari sekadar ungkapan identitas. Manusia hidup untuk memanusiakan manusia. Pendidikan memperoleh maknanya dari hubungan antarmanusia. Pengetahuan memperoleh nilainya ketika digunakan untuk menumbuhkan kehidupan, bukan untuk merendahkan atau menundukkan manusia lain.

Sebagai sesanti, Sitou Timou Tumou Tou tidak berhenti pada rangkaian kata di dinding atau dalam Sidang Terbuka Senat. Ia memuat cara pandang tentang bagaimana manusia hidup bersama. Clifford Geertz menyebut kebudayaan sebagai jaringan makna. Yang perlu ditanyakan bukan seberapa sering ia diucapkan, melainkan apakah ia menjadi ukuran ketika kekuasaan dijalankan dan konflik diselesaikan.

Ukuran itu berlaku pula dalam relasi kekuasaan di universitas. Rektor memiliki kewenangan. Senat memiliki fungsi. Dosen memiliki kebebasan akademik. Mahasiswa memiliki hak memperoleh pendidikan yang bermutu. Semua berada dalam hubungan yang tidak selalu bebas dari kepentingan dan konflik.

Universitas bukan ruang yang steril dari pertarungan kepentingan. Di dalamnya bertemu kewenangan, reputasi akademik, pengalaman birokrasi, jaringan sosial, kedekatan politik, dan kepercayaan yang dibangun sepanjang perjalanan akademik. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai arena. Posisi seseorang dalam sebuah arena lahir dari jabatan formal dan modal yang diakui bernilai. Perebutan jabatan rektor tidak berhenti pada kursi administratif. Yang dipertarungkan ialah legitimasi.

Politik tidak berhenti pada pilihan. Ia masuk ke cara orang membangun dukungan, mempertahankan posisi, membaca lawan, dan menggunakan kewenangan. Kekuasaan akademik bertemu dengan kekuasaan administratif. Modal sosial dan jaringan politik ikut bergerak di dalamnya. Pertanyaannya tetap sama: sejauh mana politik boleh menentukan arah universitas?

Konflik bukan sesuatu yang harus ditakuti. Persoalannya muncul ketika konflik kehilangan saluran akademiknya dan berubah menjadi usaha menjatuhkan pihak lain.

Dalam kehidupan sosial Minahasa belakangan ini terdapat gejala yang menarik untuk dibaca: tumongko’ tou. Saya memahaminya sebagai plesetan dari Tumo Tou. Jika Tumo Tou mengandung makna manusia yang bertumbuh, tumongko’ tou justru menghadirkan pembalikan makna: manusia yang memagut sesamanya. Saya tidak menempatkannya sebagai konsep budaya yang sudah mapan dan diakui bersama. Ia lebih tepat dibaca sebagai gejala sosial yang muncul dalam relasi antarmanusia. Ia terus muncul dalam percakapan dan praktik sehari-hari. Karena itulah ia layak dibaca sebagai fakta sosial.

Secara etimologis, tumongko’ berkaitan dengan tindakan memagut atau mematuk. Dalam ungkapan yang tercatat dalam literatur Minahasa, yang kecil memagut yang besar. Dari tindakan sederhana itu muncul gambaran relasi yang lebih luas: pihak yang berada di bawah dapat mengganggu, melukai, bahkan menjatuhkan pihak yang berada di atas.

Motifnya tidak selalu sama. Persaingan, ketidakpuasan, rasa terpinggirkan, iri, dan dengki dapat menjadi latarnya. Namun tidak setiap kritik dapat disebut tumongko’. Kritik akademik tetap bagian dari kehidupan universitas. Yang menarik ialah ketika ketegangan sosial berubah menjadi dorongan menjatuhkan seseorang dari posisi yang ditempatinya.


James Scott membantu membaca gejala ini melalui konsep hidden transcript dan everyday resistance. Perlawanan terhadap pihak yang lebih kuat tidak selalu berlangsung terbuka. Ia tumbuh di belakang panggung melalui percakapan, sindiran, gosip, atau tindakan kecil yang perlahan membangun sikap perlawanan. Dalam keadaan tertentu, ketegangan itu bergerak ke ruang formal melalui pengaduan atau laporan mengenai dugaan pelanggaran hukum.

Sebuah laporan tidak otomatis merupakan bentuk perlawanan. Motif, konteks, dan relasi sosial yang melatarinya tetap harus dibaca. Yang penting ialah melihat bagaimana ketegangan berpindah dari belakang panggung ke ruang terbuka, termasuk ketika institusi formal menjadi arena memperjuangkan kepentingan.

Relasi itu tidak bergerak dari bawah ke atas saja. Pihak yang berada di atas juga dapat menggunakan kekuasaannya untuk menekan pihak yang berada di bawah. Ketika pilihan yang lahir melalui suatu proses tidak sesuai dengan kehendak pemegang kewenangan, keputusan dapat dipersoalkan, dibatalkan, atau diarahkan ulang.

Pertanyaannya: mengapa persoalan baru dihentikan setelah hasil diperoleh?

Jika sejak awal terdapat persyaratan yang tidak terpenuhi, persoalan itu harus diperiksa pada tahap pemeriksaan. Jika terdapat prosedur yang keliru, koreksi harus dilakukan ketika kesalahan ditemukan. Membiarkan proses berjalan sampai menghasilkan pemenang, lalu membatalkan hasilnya, hanya melahirkan pertanyaan baru tentang keadilan proses.

Koreksi terhadap prosedur harus dilakukan ketika persoalan ditemukan, bukan setelah seluruh proses menghasilkan keputusan. Kepercayaan kepada institusi dipertaruhkan. Prosedur bukan sekadar urutan administratif. Ia menunjukkan bahwa keputusan lahir dari aturan, bukan dari siapa yang paling kuat.

Tumongko’ memiliki hubungan menarik dengan cungkel. Yang satu menggambarkan tindakan memagut yang berada di atas. Yang lain menggambarkan tindakan membuat sesuatu yang berada di atas itu jatuh, seperti buah pepaya yang dicungkel dari tangkainya. Yang di atas dipagut dari bawah, lalu dicungkel sampai jatuh.

Universitas kehilangan marwahnya ketika logika itu menguasai proses pengambilan keputusan. Dari bawah, perbedaan kepentingan dapat berubah menjadi dorongan untuk menjatuhkan. Dari atas, kewenangan dapat bergeser menjadi alat untuk menundukkan. Di antara keduanya, ruang akademik kehilangan fungsinya sebagai tempat konflik dikelola melalui norma, etika, dan pertanggungjawaban.

Pada bagian inilah fungsi Senat menjadi penting. Senat tidak cukup dipahami sebagai organ yang menggunakan hak suara dalam pemilihan rektor. Ia juga menjadi penjaga norma, etika, mutu, kebebasan akademik, dan pelaksanaan Tridharma.

Fungsi itu bekerja sebelum persoalan menjadi konflik terbuka. Persoalan mengenai persyaratan, prosedur, norma, etika, atau kepatutan akademik menempatkan Senat pada fungsi telaah. Telaah yang cermat dan rigid menjadi dasar pertimbangan bagi keputusan Rektor. Pada tingkat fakultas, mekanisme serupa bekerja sesuai kewenangannya.

Pertanyaannya kemudian: apakah fungsi telaah itu benar-benar dijalankan?

Jika Senat telah melakukan telaah secara sungguh-sungguh, menemukan persoalan, lalu menyampaikannya kepada Rektor, kewenangan mengambil keputusan tetap berada pada Rektor. Pertanggungjawaban melekat pada keputusan yang diambil. Telaah Senat tidak berhenti sebagai formalitas, tetapi menjadi bagian dari proses yang ikut membentuk legitimasi keputusan.

Hubungan keduanya terletak pada fungsi yang berbeda. Senat menelaah. Rektor memutuskan. Telaah memberi dasar bagi keputusan. Keputusan memikul pertanggungjawaban. Keduanya bertemu sebagai bagian dari tata kelola universitas.

Mekanisme seperti ini mempersempit ruang bagi tumongko’ dan cungkel. Persaingan tetap ada. Perbedaan pilihan tetap mungkin terjadi. Konflik tidak perlu disembunyikan. Yang diperlukan ialah institusi yang mampu mengelolanya sebelum berubah menjadi praktik saling menjatuhkan.
Semua kembali pada satu ukuran: Sitou Timou Tumou Tou. Di sanalah kekuasaan diuji, kritik menemukan martabatnya, dan konflik tetap berada dalam koridor akademik.

Yang berada di atas bertanggung jawab kepada yang di bawah. Yang berada di bawah tetap memiliki martabat untuk menyampaikan keberatan. Keduanya bertemu pada satu tujuan: menumbuhkan manusia, bukan menjatuhkan manusia.

Akhirnya, Universitas menemukan dirinya bukan pada siapa yang berdiri paling tinggi, melainkan pada cara ia memanusiakan setiap orang di dalamnya.

Editor : Clavel Lukas
mahyudin damis Unsrat