G1T GMIM… Menabung Hari Ini untuk Pelayanan Generasi Esok

Clavel Lukas • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 20:13 WIB

 

Recky Montong
Recky Montong

Oleh:  Pnt Recky Montong

Pada 30 September 2026, Gereja Masehi Injili di Minahasa memasuki usia 92 tahun GMIM Bersinode.

Sembilan puluh dua tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Sejak menjadi gereja mandiri pada tahun 1934, GMIM telah belajar berdiri di kaki sendiri, mengatur rumah tangganya sendiri, membangun pelayanannya sendiri, dan bertumbuh menjadi gereja yang mandiri dalam teologi, daya, dan dana.

Semua itu bukan semata-mata karena kemampuan manusia. Kita percaya ada penyertaan Tuhan di sepanjang perjalanan GMIM.

Namun usia 92 tahun juga mengajak kita bertanya:

Bagaimana keadaan GMIM 10, 20, bahkan 50 tahun dari sekarang?

Apakah generasi sesudah kita masih akan menemukan GMIM sebagai gereja yang kuat dalam pelayanan? Apakah gereja masih mampu membiayai penginjilan, pendidikan, diakonia, pelayanan jemaat kecil, para pekerja gereja, dan para pensiunan?

Pertanyaan inilah yang membuat Gerakan 1 Triliun GMIM (G1T) perlu dipahami bukan sekadar sebagai gerakan mengumpulkan uang.

G1T adalah gerakan mempersiapkan masa depan pelayanan.

---

DARI Rp16 MILIAR MENUJU Rp250 MILIAR

Mari melihat perjalanan yang sudah kita lalui.

Pada tahun 2005, Anggaran Belanja dan Pendapatan Sinode (ABPS) GMIM sekitar Rp16 miliar, dengan realisasi sekitar Rp14 miliar.

Dua puluh satu tahun kemudian, pada tahun 2026, ABPS GMIM telah mencapai sekitar Rp250 miliar.

Angka itu memperlihatkan betapa besarnya pertumbuhan kemampuan bersama GMIM.

Dari mana kekuatan itu berasal?

Bukan terutama dari Kantor Sinode.

Kekuatan ekonomi GMIM sesungguhnya berada di jemaat-jemaat dan keluarga-keluarga GMIM.

Data SIT GMIM tahun 2023 yang menjadi bahan tulisan ini menunjukkan bahwa sekitar 1.000 ABPJ jemaat yang telah diinput memiliki total sekitar Rp750 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp126 miliar disentralisasikan ke Sinode.

Sebagian besar dana itu kemudian kembali menopang pelayanan, termasuk biaya hidup pekerja, tunjangan, pensiun, serta berbagai kebutuhan pelayanan GMIM.

Artinya, kekuatan GMIM sesungguhnya adalah kekuatan kebersamaan.

Ketika jemaat-jemaat berjalan sendiri-sendiri, kemampuan kita terbatas.

Tetapi ketika kita bersinode—berjalan bersama—kekuatan kecil yang dikumpulkan bersama dapat menghasilkan sesuatu yang besar.

Itulah semangat yang perlu dihidupkan kembali dalam G1T.

---

MENGAPA GMIM MEMBUTUHKAN DANA ABADI?

Ada pertanyaan yang sangat wajar:

“Mengapa gereja harus mengumpulkan uang sampai Rp1 triliun?”

Jawabannya sederhana:

Bukan supaya GMIM menjadi gereja yang kaya, tetapi supaya GMIM memiliki kemampuan membiayai pelayanan pada masa depan.

Dana Abadi bukanlah uang yang dikumpulkan untuk kemudian dihabiskan.

Prinsipnya justru sebaliknya.

Pokok dana dijaga. Hasil pengembangannya digunakan untuk pelayanan.

Bayangkan sebuah pohon.

Kita tidak menebang pohonnya setiap kali membutuhkan buah.

Kita menjaga pohonnya, merawatnya, dan kemudian menikmati buah yang dihasilkannya setiap musim.

Demikian pula Dana Abadi.

Rp1 triliun adalah pohonnya.
Hasil investasi adalah buahnya.
Pelayanan GMIM adalah yang menikmati buah tersebut.

Apabila suatu hari Dana Abadi mencapai Rp1 triliun dan dikelola secara legal, profesional, transparan, serta menghasilkan tingkat pengembalian yang memadai, hasilnya dapat menjadi sumber pembiayaan pelayanan yang sangat berarti.

Itulah yang dimaksud dengan membuat “uang bekerja untuk pelayanan.”

---

KITA TIDAK TAHU KEADAAN GEREJA 20 TAHUN MENDATANG

Kita perlu belajar dari perkembangan gereja di berbagai tempat.

Di sejumlah negara Eropa dan Amerika Utara, banyak gereja Protestan mengalami penurunan kehadiran dan menghadapi tantangan sekularisasi.

GMIM tentu mempunyai konteks yang berbeda.

Namun kita tidak boleh menganggap bahwa keadaan hari ini pasti akan berlangsung selamanya.

Data kehadiran ibadah GMIM sendiri perlu membuat kita berpikir serius mengenai masa depan.

Jika sekarang hanya sekitar sepertiga warga GMIM yang hadir dalam ibadah Minggu, kita perlu bertanya:

Bagaimana dengan anak-anak kita?

Bagaimana dengan cucu-cucu kita?

Apakah mereka masih mempunyai keterikatan yang sama terhadap gereja?

Apakah kemampuan jemaat membiayai pelayanan akan terus bertumbuh?

Ataukah suatu hari pertumbuhan itu mencapai titik jenuh bahkan menurun?

Kita tidak mengetahui masa depan.

Masa depan adalah milik Tuhan.

Tetapi iman kepada Tuhan tidak berarti kita dilarang mempersiapkan diri.

---

YUSUF TIDAK MENUNGGU MASA KELAPARAN DATANG

Alkitab memberikan gambaran yang sangat indah melalui kehidupan Yusuf di Mesir.

Ketika Tuhan memberitahukan bahwa akan datang tujuh tahun kelimpahan dan kemudian tujuh tahun kelaparan, Yusuf tidak berkata:

“Tidak perlu menyimpan makanan. Tuhan pasti menolong.”

Sebaliknya, justru karena hikmat yang diberikan Tuhan, Yusuf mempersiapkan Mesir ketika keadaan masih baik.

Ia menyimpan pada masa kelimpahan supaya tersedia persediaan ketika masa kesukaran datang.

Inilah salah satu semangat yang dapat menolong kita memahami Dana Abadi GMIM.

Ketika Tuhan masih memberikan kemampuan kepada generasi kita, kita menyisihkan sebagian untuk generasi berikutnya.

Ini bukan ketakutan terhadap masa depan.

Ini adalah tanggung jawab terhadap masa depan.

Demikian pula dalam perumpamaan tentang talenta, Tuhan Yesus mengajarkan pentingnya tanggung jawab terhadap apa yang dipercayakan Tuhan.

Perumpamaan tentang Talenta dalam Matius 25:14–30 mengingatkan bahwa segala sesuatu yang dipercayakan kepada kita adalah milik Sang Tuan. Kita bukan pemilik, melainkan pengelola. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya:
“BERAPA BANYAK YANG KITA MILIKI?”
Melainkan:
“APA YANG KITA LAKUKAN DENGAN APA YANG TUHAN PERCAYAKAN?”
Talenta harus dikelola, dikembangkan, digunakan sesuai kehendak Tuhan, dan dipertanggungjawabkan. Karena itu, Dana Abadi G1T harus dikelola secara jujur, hati-hati, profesional, transparan, diaudit, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tuhan adalah Pemilik. GMIM adalah penatalayan.
G1T bukan teologi kekayaan atau upaya menumpuk harta bagi gereja. G1T adalah teologi penatalayanan: mengelola sumber daya Tuhan untuk pemberitaan Injil, pendidikan, diakonia, kesejahteraan pelayanan, jemaat yang membutuhkan, serta keberlanjutan misi gereja lintas generasi.

Sumber daya tidak hanya diterima.

Sumber daya harus dikelola dengan setia dan bertanggung jawab.

---

ADA TANTANGAN BESAR DI DEPAN MATA: PENSIUN

Salah satu kebutuhan nyata yang harus dipikirkan GMIM adalah pembiayaan pensiun.

Berdasarkan data yang menjadi bahan tulisan ini, sekitar 573 pensiunan saat ini membutuhkan pembiayaan sekitar Rp1,75 miliar setiap bulan.

Dalam sepuluh tahun mendatang, beban tersebut dapat meningkat sangat besar seiring bertambahnya pekerja yang memasuki usia pensiun.

Bayangkan apabila suatu saat kebutuhan pensiun mencapai sekitar Rp7 miliar setiap bulan.

Dari mana uang itu akan datang?

Apakah seluruhnya harus terus dibebankan kepada generasi jemaat pada masa itu?

Ataukah generasi kita mulai mempersiapkan sumber pembiayaannya sejak sekarang?

Dana Abadi adalah salah satu jawaban strategis terhadap pertanyaan itu.

Kita tidak boleh mewariskan pelayanan yang besar kepada anak cucu kita sambil sekaligus mewariskan beban keuangan yang tidak mampu mereka tanggung.

---

Rp1 TRILIUN TERDENGAR MUSTAHIL

Satu triliun rupiah memang terdengar sangat besar.

Tetapi mari kita mengubah cara melihatnya.

GMIM memiliki sekitar 240.000 keluarga.

Bayangkan bila dari jumlah itu terdapat 100.000 keluarga yang dengan sukarela mengambil bagian sebesar:

Rp1 juta setiap tahun.

Artinya sekitar:

Rp83.000 per bulan, atau kurang lebih
Rp2.700 per hari.

Jika dilakukan secara konsisten, 100.000 keluarga dapat menghimpun sekitar:

Rp100 miliar setahun.

Secara matematis sederhana, dalam sepuluh tahun kontribusi tersebut dapat mencapai:

Rp1 TRILIUN

belum menghitung hasil pengembangan dana dan bentuk partisipasi lain.

Tiba-tiba angka satu triliun tidak lagi terlihat seperti sesuatu yang sama sekali mustahil.

Kuncinya bukan menunggu satu orang memberikan Rp1 triliun.

Kuncinya adalah:

banyak orang melakukan bagian kecil dengan setia.

Itulah Mapalus.

---

MAPALUS: YANG BERAT MENJADI RINGAN KETIKA DIPIKUL BERSAMA

Orang Minahasa mengenal semangat Mapalus.

Mapalus mengajarkan bahwa pekerjaan yang terlalu berat bagi satu orang dapat diselesaikan ketika banyak orang mengambil bagian.

G1T dapat menjadi Mapalus besar warga GMIM untuk masa depan gereja.

Ada keluarga yang mungkin mampu memberi Rp1 juta setahun.

Ada yang hanya mampu Rp100.000.

Ada yang mampu Rp10 juta.

Ada pengusaha yang mungkin mampu Rp100 juta.

Bahkan mungkin ada orang yang diberkati Tuhan dan tergerak memberikan Rp1 miliar.

Nilainya berbeda, tetapi semangatnya sama: kita memikul pelayanan ini bersama-sama.

Karena itu G1T jangan dibangun terutama dengan tekanan.

Jangan dibangun dengan rasa takut.

Jangan pula dijadikan ukuran iman seseorang.

G1T harus bertumbuh dari kesadaran, kerelaan, transparansi, dan rasa memiliki terhadap GMIM.

Firman Tuhan mengingatkan:

«“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan.”
2 Korintus 9:7»

---

KEPERCAYAAN HARUS DIJAGA

Semakin besar dana yang dipercayakan warga gereja, semakin besar pula tanggung jawab pengelolaannya.

Karena itu keberhasilan G1T tidak cukup hanya diukur dari jumlah uang yang terkumpul.

Gerakan ini harus disertai dengan:

transparansi, akuntabilitas, audit yang dapat dipercaya, tata kelola investasi yang profesional, pengawasan yang kuat, dan laporan berkala kepada warga GMIM.

Warga gereja berhak mengetahui:

berapa dana yang telah terkumpul, di mana dana ditempatkan, bagaimana dana dikembangkan, berapa hasil pengembangannya, dan untuk apa hasil tersebut digunakan.

Kepercayaan adalah modal terbesar Dana Abadi.

Uang dapat dikumpulkan.

Tetapi apabila kepercayaan hilang, jauh lebih sulit membangunnya kembali.

Karena itu G1T harus menjadi gerakan bersama yang dapat dipertanggungjawabkan secara teologis, moral, administratif, dan finansial.

---

KITA SEDANG MENANAM POHON YANG MUNGKIN BUAHNYA DINIKMATI ANAK CUCU KITA

Mungkin generasi kita tidak akan menikmati seluruh hasil G1T.

Dan justru di situlah keindahannya.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa sebuah generasi menjadi besar ketika mereka bersedia menanam pohon yang naungannya kelak dinikmati oleh generasi berikutnya.

Demikian pula GMIM.

Para pendahulu kita membangun gereja, sekolah, universitas, rumah sakit, pastori, gedung jemaat, dan berbagai lembaga pelayanan.

Banyak dari mereka telah meninggal.

Tetapi kita menikmati hasil pengorbanan mereka sampai hari ini.

Sekarang tiba giliran kita bertanya:

Apa yang akan kita tinggalkan bagi generasi GMIM sesudah kita?

Salah satu jawabannya dapat berupa:

DANA ABADI GMIM.

Dana yang tidak hanya berbicara mengenai uang, tetapi mengenai tanggung jawab antargenerasi.

---

G1T BUKAN MILIK SINODE — G1T MILIK PELAYANAN GMIM

Karena itu jangan melihat Gerakan 1 Triliun sebagai:

“Sinode sedang meminta uang.”

Cara pandang seperti itu terlalu sempit.

Lihatlah sebagai:

“Kita sedang mempersiapkan masa depan gereja kita.”

GMIM bukan hanya Kantor Sinode.

GMIM adalah jemaat-jemaatnya.

GMIM adalah para pelayannya.

GMIM adalah anak-anak sekolah minggu.

GMIM adalah pemuda dan remaja.

GMIM adalah para lansia.

GMIM adalah jemaat kecil di tempat yang kemampuan ekonominya terbatas.

GMIM adalah para pekerja gereja yang suatu hari akan memasuki masa pensiun.

Dan GMIM adalah generasi yang bahkan belum lahir hari ini, tetapi kelak akan menerima warisan iman dan pelayanan dari kita.

Untuk merekalah kita menanam.

---

JIKA BUKAN KITA, SIAPA LAGI?

Mungkin ada yang berkata:

“Biarlah generasi berikutnya yang memikirkan.”

Tetapi generasi sebelumnya tidak berkata demikian kepada kita.

Mereka membangun.

Mereka memberi.

Mereka berkorban.

Mereka meninggalkan sesuatu yang hari ini kita nikmati.

Sekarang tongkat estafet itu berada di tangan kita.

Kita tidak tahu bagaimana keadaan GMIM 20 atau 30 tahun mendatang.

Tetapi kita dapat mengambil keputusan hari ini agar generasi sesudah kita mempunyai fondasi yang lebih kuat.

Seratus ribu keluarga.
Satu juta rupiah setahun.
Sepuluh tahun berjalan bersama.

Yang kecil menjadi besar.

Yang berat menjadi ringan.

Yang tampaknya mustahil menjadi mungkin ketika dikerjakan bersama.

Inilah semangat Mapalus.

Inilah makna Bersinode: berjalan bersama.

Dan semuanya kita lakukan bukan untuk membesarkan manusia atau lembaga, tetapi untuk menopang pelayanan gereja milik Tuhan.

---

MARI MENANAM UNTUK MASA DEPAN GMIM

Kita percaya Allah Tritunggal adalah Pemilik Gereja.

Kristus adalah Kepala Gereja.

Roh Kuduslah yang menghidupkan dan menuntun Gereja.

Karena itu kita tidak menggantungkan masa depan GMIM kepada uang.

Pengharapan GMIM tetap kepada Tuhan.

Tetapi uang, harta, kemampuan, pengetahuan, dan sumber daya yang dipercayakan Tuhan kepada kita harus dikelola dengan hikmat bagi pelayanan-Nya.

G1T bukan pengganti iman.

G1T adalah salah satu bentuk penatalayanan iman.

Karena itu mari membangun Gerakan 1 Triliun bukan hanya sebagai gerakan mengumpulkan uang, tetapi sebagai:

Gerakan Kebersamaan.
Gerakan Mapalus.
Gerakan Penatalayanan.
Gerakan Antar-Generasi.
Gerakan Mempersiapkan Masa Depan Pelayanan GMIM.

Jika seratus ribu keluarga bergerak bersama, satu triliun bukan sekadar mimpi.

Jika jemaat, pelayan khusus, pekerja GMIM, pengusaha, profesional, anggota legislatif dan eksekutif, serta seluruh warga GMIM yang diberkati Tuhan mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing, kita sedang menanam sesuatu yang mungkin akan menjadi berkat besar bagi gereja pada masa depan.

Kita mungkin tidak menikmati seluruh buahnya.
Tetapi anak dan cucu kita akan menikmatinya.

Maka ketika suatu hari generasi sesudah kita bertanya:

“Apa yang diwariskan generasi GMIM tahun 2026 kepada kami?”

Kiranya mereka dapat menjawab:

“Mereka tidak hanya mewariskan gedung gereja.
Mereka mewariskan iman.
Mereka mewariskan kebersamaan.
Mereka mewariskan tanggung jawab.
Dan mereka mempersiapkan pelayanan bagi generasi yang belum mereka kenal.”

MAPALUS BERSINODE

BERJALAN BERSAMA — MEMIKUL BERSAMA — MEMPERSIAPKAN MASA DEPAN BERSAMA

Mari dukung Gerakan 1 Triliun Dana Abadi GMIM.

Soli Deo Gloria.

Editor : Clavel Lukas
Tata Gereja G1T Recky Montong BPMS GMIM GMIM