Oleh
Filip Kapantow SS
Pemimpin Redaksi Manado Post
MANADOPOST.ID - Di ruangan berAC, ada 14 butir tema.
Bukan soal anak yang putus sekolah.
Bukan soal ibu yang melahirkan di puskesmas tanpa dokter.
Bukan soal 247.602 keluarga yang bertanya: "besok makan apa?"
Yang dibahas:
Periodisasi 2 periode
Struktur BPMS disederhanakan.
Batas usia Pelsus 65 tahun, 60 tahun.
Sentralisasi. Tinjau. Pertahankan.
KPPJ kembali ke Badan. BIPRA ex-officio kembali.
Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) punya 151 Wilayah.
1.089 Jemaat.
11.718 Kolom.
836.827 Anggota Jemaat.
Sebuah kerajaan kecil dengan stempel dan kop surat.
Tapi berapa banyak beasiswa yang lahir dari mimbar?
Berapa klinik yang dibangun dari kolekte minggu?
Berapa anak jalanan yang dipeluk selain saat Natal?
Hanya sibuk menggambar bagan organisasi.
Menebalkan garis wewenang.
Adu kuat siapa duduk di kursi nomor 1.
Sementara di luar pagar Gereja,
anak muda merantau karena tidak ada kerja,
Oma opa minum obat warung karena BPJS macet,
sekolah minggu bagus, tapi sekolah dan perguruan tingginya jauh dan mahal.
Oh Gereja...
Engkau ahli dalam Tata Gereja GMIM 2026.
Tapi buta pada Tata Kehidupan 2026.
Engkau hafal pasal demi pasal.
Tapi lupa pada ayat:
"Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."
Jangan jadikan mimbar sebagai panggung politik.
Jangan jadikan sinode sebagai bursa jabatan.
Jangan ukur kesetiaan dengan usia pensiun.
Karena Tuhan tidak bertanya di pintu sorga:
"Anda pernah jadi Pelsus berapa periode?"
Dia akan bertanya:
"Apakah kamu memberi makan yang lapar?
Apakah kamu menyembuhkan yang sakit?
Apakah kamu menyekolahkan yang bodoh?"
151 Wilayah.
1089 Jemaat.
Satu panggilan: Melayani.
Bukan memerintah.
Turunlah dari meja rapat.
Lihat ke bawah salib.
Di sana ada 836.827 wajah
yang tidak butuh struktur baru.
Tapi butuh ROH. Roti. Obat. Harapan. (***)