GMIM adalah salah satu institusi keagamaan terbesar dan paling berpengaruh di Sulawesi Utara. Kehadirannya tidak hanya terlihat melalui ribuan kegiatan peribadatan, tetapi juga pendidikan, pelayanan sosial, kebudayaan, kehidupan keluarga, hingga pembentukan generasi muda.
Namun pertanyaan penting bagi gereja hari ini bukan hanya seberapa besar GMIM, melainkan: seberapa siap GMIM menghadapi perubahan?
Sejumlah penelitian jurnal yang terbit pada 2025–2026 memberi bahan refleksi yang menarik. Sedikitnya 15 penelitian tentang GMIM memperlihatkan persoalan yang berkaitan dengan generasi muda, kepemimpinan, digitalisasi, pelayanan pastoral, akuntabilitas keuangan, budaya, pendidikan, hingga etika kehidupan bergereja.
Anak Muda: Hadir atau Mulai Menjauh?
Salah satu temuan yang patut mendapat perhatian datang dari penelitian terhadap Pemuda GMIM Kapoloan Paemanan Waleo. Partisipasi pemuda dalam ibadah ditemukan relatif rendah. Penyebab yang muncul antara lain persepsi terhadap liturgi yang monoton, pengaruh lingkungan sosial, serta pendampingan pastoral yang belum cukup relevan dan berkelanjutan. Peneliti merekomendasikan pelayanan yang lebih kontekstual dan kreatif.
Penelitian lain tentang teologi digital bagi Pemuda GMIM menunjukkan bahwa perubahan perilaku generasi muda di tengah dunia digital menjadi tantangan yang tidak dapat lagi diabaikan. Gereja perlu hadir sebagai fasilitator dan pendamping, bukan sekadar memberikan larangan terhadap teknologi.
Penelitian di lingkungan pendidikan GMIM juga menemukan tantangan berupa distraksi gadget, media sosial dan permainan daring yang memengaruhi motivasi serta konsentrasi belajar anak.
Ini mengingatkan GMIM bahwa keberhasilan pelayanan generasi muda tidak cukup dihitung dari berapa orang yang datang ke kegiatan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah mereka merasa gereja memahami dunia mereka?
Anak muda perlu diberikan ruang bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai pembuat gagasan, inovator, kreator digital dan calon pemimpin gereja.
Gereja Tidak Bisa Lagi Setengah Hati Memasuki Dunia Digital
Penelitian tentang pelayanan GMIM menunjukkan semakin pentingnya ruang digital. Bahkan pelatihan perangkat digital bagi guru Sekolah Minggu GMIM Bethel Winangun dilakukan untuk meningkatkan kemampuan penggunaan multimedia dalam pembelajaran.
Pada GMIM Kharisma Buha, pemanfaatan digital bahkan dikembangkan untuk pemberdayaan ekonomi jemaat melalui pelatihan pemasaran digital bagi pelaku usaha kecil. Hasilnya menunjukkan peningkatan kemampuan peserta menggunakan teknologi untuk memperluas pemasaran produk.
Generasi muda GMIM Petra Poopoh juga menjadi sasaran pendidikan literasi keuangan digital, termasuk pemahaman risiko investasi ilegal dan pinjaman daring.
Pesannya sederhana: digitalisasi GMIM jangan berhenti pada live streaming ibadah dan media sosial.
GMIM membutuhkan transformasi digital yang lebih luas: data jemaat, pendidikan, pelayanan anak dan pemuda, sistem informasi, arsip organisasi, literasi digital, komunikasi publik, hingga pemberdayaan ekonomi warga gereja.
Kepemimpinan: Jabatan atau Pelayanan?
Beberapa penelitian mutakhir kembali menempatkan kepemimpinan sebagai persoalan penting.
Kajian mengenai Pelayan Khusus GMIM berdasarkan pemikiran J.L.Ch. Abineno menekankan perlunya integrasi pelayanan, penggembalaan dan pengajaran, sekaligus meningkatkan kepekaan terhadap kebutuhan konkret jemaat.
Studi tentang Providentia Dei juga menunjukkan pentingnya membangun spiritualitas, etos kerja dan profesionalisme Pelayan Khusus agar pelayanan tidak berhenti menjadi aktivitas fungsional dan administratif.
Penelitian tentang kepemimpinan menghamba dan pelayanan perkunjungan kasih menemukan bahwa kehadiran pendeta secara langsung dapat memberi dampak positif bagi anggota jemaat yang sedang menghadapi pergumulan.
Pesannya jelas: GMIM membutuhkan pemimpin yang hadir di tengah umat, bukan hanya pemimpin yang sibuk mengelola program.
Gereja memang membutuhkan administrasi, rapat dan program. Tetapi kekuatan pelayanan tetap terletak pada kemampuan mendengar, mendampingi dan memahami pergumulan warga gereja.
Bagaimana dengan Kepemimpinan Perempuan?
Penelitian tahun 2026 di GMIM Eben Haezer dan Sion Koha memberi perspektif menarik mengenai kepemimpinan perempuan. Kajian tersebut memperlihatkan dinamika penerimaan kepemimpinan perempuan di tengah gereja dan budaya Minahasa serta pentingnya eklesiologi yang semakin partisipatif dan inklusif.
Ini menjadi penting bagi organisasi sebesar GMIM.
Potensi sumber daya gereja sebaiknya dibangun berdasarkan kapasitas, integritas, spiritualitas dan kemampuan melayani. Gereja masa depan membutuhkan ruang partisipasi yang memungkinkan berbagai potensi warga gereja bertumbuh dan berkontribusi.
Transparansi Keuangan Harus Menjadi Budaya
Penelitian di GMIM Tiberias Kiniar menemukan bahwa prinsip akuntabilitas dan transparansi sudah dilakukan, tetapi pelaporan keuangan masih sederhana dan belum sepenuhnya sesuai dengan standar akuntansi organisasi nonlaba. Sistem pengendalian internal tertulis juga belum tersedia dan pemahaman mengenai standar akuntansi masih terbatas.
Pada GMIM Getsemani Sumompo, bahkan dikembangkan SOP kas kecil untuk menjawab kebutuhan dokumentasi dan pengendalian keuangan yang lebih sistematis.
Temuan tersebut jangan dibaca sebagai kelemahan satu atau dua jemaat.
Justru ini bisa menjadi momentum bagi GMIM untuk membangun satu sistem tata kelola keuangan modern dari jemaat, wilayah sampai sinode.
Transparansi bukan tanda ketidakpercayaan. Transparansi justru melindungi pelayan gereja sekaligus menjaga kepercayaan jemaat.
Ibadah Harus Menyentuh Realitas Kehidupan
Penelitian di GMIM Syaloom Karombasan menunjukkan bahwa kontekstualisasi bahasa, musik dan materi khotbah dapat membuat ibadah lebih dekat dengan kehidupan jemaat dan meningkatkan partisipasi. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi.
Sementara penggunaan kolintang dalam ibadah GMIM Nazaret Matani memperlihatkan bahwa modernisasi gereja tidak harus membuat GMIM kehilangan akar kebudayaan Minahasa.
Dengan demikian, pertanyaan bukan apakah gereja harus memilih tradisional atau modern.
Pertanyaannya ialah bagaimana GMIM tetap berakar pada iman dan identitasnya sambil berbicara menggunakan bahasa yang dipahami generasi hari ini.
Gereja dan Etika Politik
Satu penelitian terhadap pemuda GMIM Tasik Wangurer juga menemukan persoalan yang lebih sensitif: kecenderungan sebagian pemilih muda mengambil keputusan politik berdasarkan imbalan materi. Penelitian tersebut menghubungkannya dengan konflik internal dan melemahnya kesadaran etis serta menyerukan penguatan pendidikan politik berdasarkan kejujuran, keadilan dan tanggung jawab moral.
Temuan ini penting karena gereja berada di tengah masyarakat.
GMIM mempunyai ruang strategis untuk membangun warga gereja yang dewasa secara iman sekaligus mempunyai integritas dalam kehidupan publik—tanpa menjadikan gereja sebagai alat kepentingan politik praktis.
Dari 15 Riset, Apa yang Harus Dilakukan GMIM?
Jika berbagai penelitian tersebut dibaca bersama, sedikitnya ada tujuh agenda besar bagi GMIM ke depan: memperkuat regenerasi dan ruang kepemimpinan generasi muda; membangun transformasi digital yang terintegrasi; meningkatkan kualitas dan spiritualitas Pelayan Khusus; memperkuat akuntabilitas serta transparansi keuangan; menghadirkan pelayanan pastoral yang lebih dekat dengan kehidupan jemaat; mempertahankan identitas budaya Minahasa sambil berinovasi; serta mulai membangun kebijakan dan program gereja berdasarkan data dan hasil penelitian.
Yang terakhir ini mungkin justru paling penting.
GMIM perlu menjadi gereja yang semakin berbasis data.
Berapa persen pemuda aktif? Mengapa sebagian berhenti beribadah? Apa kebutuhan keluarga muda? Bagaimana kondisi lansia? Apa persoalan ekonomi jemaat? Bagaimana kualitas pelayanan? Seberapa efektif program yang menghabiskan anggaran gereja?
Pertanyaan seperti ini sebaiknya dijawab melalui penelitian, bukan hanya berdasarkan kesan.
Berani Mengubah Pertanyaan
Selama ini evaluasi organisasi mudah terjebak pada pertanyaan:
Berapa banyak program yang berhasil dilaksanakan?
Ke depan, mungkin pertanyaannya perlu diubah:
Apa yang berubah dalam kehidupan jemaat setelah program itu dilaksanakan?
Apakah keluarga menjadi lebih kuat?
Apakah pemuda semakin merasa memiliki gereja?
Apakah warga yang mengalami kesulitan mendapat pendampingan?
Apakah dana gereja semakin transparan?
Apakah pelayanan semakin menyentuh masyarakat?
Dan apakah GMIM semakin relevan bagi generasi yang akan datang?
GMIM mempunyai sejarah panjang, struktur organisasi yang kuat, sumber daya manusia yang besar serta modal sosial yang tidak dimiliki banyak organisasi.
Tetapi kebesaran masa lalu tidak secara otomatis menjamin relevansi pada masa depan.
Lima belas penelitian ini tidak sedang mengatakan bahwa GMIM gagal. Justru riset-riset tersebut sedang mengingatkan bahwa GMIM mempunyai kesempatan besar untuk berbenah sebelum perubahan zaman bergerak lebih cepat daripada perubahan gereja.
Karena itu pertanyaan “GMIM mau dibawa ke mana?” bukanlah pertanyaan pesimistis.
Pertanyaan itu adalah undangan untuk bersama-sama menentukan gereja seperti apa yang hendak diwariskan kepada anak, remaja dan pemuda GMIM pada dua atau tiga dekade mendatang.
Gereja yang besar?
Tentu.
Tetapi lebih dari itu: gereja yang dipercaya, relevan, transparan, inklusif, dekat dengan umat, terbuka terhadap pengetahuan, dan berani berubah tanpa kehilangan iman serta identitasnya.(*)
Editor : Lerby Fabio Tamuntuan