Penulis: Asep Rahman, SKM., M.Kes
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi; Ketua Yayasan Bina Lentera Insan
Bayangkan kamu terbangun di suatu pagi yang tenang, melangkah menuju apotek langganan untuk mengambil obat rutin bulananmu, lalu mendadak dikejutkan oleh deretan angka di lembar resep. Dosis obat yang biasa kamu konsumsi tiba-tiba melonjak tiga kali lipat. Atau lebih buruk lagi, jenis obat yang tertulis di sana mendadak berganti menjadi zat kimia berbahaya yang pernah membuatmu masuk ruang gawat darurat akibat reaksi alergi berat.
Di layar monitor apoteker, instruksi tersebut tercetak sangat sah. Resep digital itu dikirimkan secara otomatis oleh sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) rumah sakit dari sebuah sistem canggih yang tanpa disadari siapa pun sedang mengalami gejala halusinasi atau baru saja mengalami peretasan tak kasat mata. Kamu tidak pernah tahu bahwa riwayat rekam medismu di basis data pusat telah terdistorsi secara acak, dan tidak ada satu pun dokter manusia yang sempat memverifikasinya. Skenario horor ini bukan lagi potongan naskah fiksi ilmiah dystopia, melainkan gambaran nyata dari jurang bahaya yang siap menelan kita di era digitalisasi kesehatan.
Sektor kesehatan global saat ini sedang berdiri di sebuah persimpangan jalan yang amat rumit dan berliku. Di satu sisi, beban lama belum sepenuhnya terangkat. Penyakit menular klasik seperti Tuberkulosis, Malaria, hingga Demam Berdarah Dengue masih terus memburu masyarakat di berbagai belahan dunia. Di saat yang sama, penyakit tidak menular (PTM) yang dipicu oleh pola hidup modern seperti diabetes melitus, hipertensi, stroke, dan penyakit kardiovaskular kian menggerogoti populasi global dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Fenomena ini sudah menyerupai epidemi senyap yang menguras dana cadangan kesehatan nasional.
Masalah tidak berhenti di sana. Tren kemunculan berbagai jenis penyakit dan patogen baru terus berlangsung tanpa henti dari tahun ke tahun. Ketidakpastian telah bergeser dari sekadar kondisi sementara menjadi tetangga permanen yang siap meneror kehidupan manusia kapan saja.
Jika kita mau membuka kembali lembaran sejarah, ada pelajaran amat mahal yang diukir oleh ketidaksiapan manusia. Setiap kali ancaman baru muncul tanpa diimbangi oleh sistem kewaspadaan yang memadai, harga yang harus dibayar selalu berupa hilangnya nyawa manusia dalam skala masif.
Ambil contoh penyakit diare. Bagi masyarakat modern hari ini, diare mungkin terdengar seperti gangguan pencernaan ringan yang cukup ditangani dengan beberapa bungkus larutan rehidrasi atau oralit. Namun, beberapa dekade lalu, ketika mekanisme infeksi dan penanganannya belum dipahami secara utuh, diare adalah mesin pembunuh massal yang sangat mengerikan. Catatan resmi World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa pada dekade 1980-an, wabah diare merenggut hingga 4,6 juta jiwa setiap tahunnya di seluruh dunia. Angka yang fantastis itu terjadi hanya karena dunia saat itu gagap dan belum memiliki pengetahuan serta infrastruktur dasar untuk menghentikan dehidrasi massal pada pasien.
Pola kegagapan yang sama persis terulang kembali ketika pandemi COVID-19 menghantam peradaban manusia. Kepanikan global, minimnya literasi penanganan krisis, ketimpangan distribusi alat kesehatan, serta kolapsnya fasilitas rumah sakit secara serentak di berbagai negara justru memperparah eskalasi korban jiwa. WHO mencatat lebih dari 7 juta kematian dilaporkan secara resmi akibat virus ini. Namun, ketika para peneliti menghitung angka kematian berlebih (excess mortality) untuk mengukur dampak tidak langsung dari hancurnya sistem layanan kesehatan, angkanya melonjak drastis hingga diperkirakan menembus 14,9 juta jiwa pada rentang tahun 2020 hingga 2021 saja.
Dua contoh sejarah tersebut menegaskan satu hal yakni tren munculnya ancaman kesehatan baru tidak akan pernah melambat. Faktor pemicunya sangat beragam dan kian kompleks. Perubahan iklim ekstrem yang mengacak-acak ekosistem telah mendorong pergeseran habitat vektor pembawa penyakit seperti nyamuk dan kelelawar ke wilayah pemukiman baru. Pada saat yang sama, laju mutasi mikroorganisme dan patogen yang kian kebal terhadap antibiotik menciptakan risiko lahirnya superbug yang sulit ditaklukkan. Bahkan, jika kita mau membayangkan skenario paling ekstrem dan terdengar absurd sekalipun seperti potensi krisis kosmik atau ancaman biologis luar bumi, maka kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat kesehatan harus dijadikan prioritas mutlak yang ditanamkan dalam cetak biru pembangunan sejak hari ini.
Namun, di balik bayang-bayang krisis biologis yang tampak nyata tersebut, ada ancaman lain yang jauh lebih dingin, tak terlihat, dan sedang mengintai diam-diam dari dalam ruang kendali teknologi kita: bahaya pengelolaan data digital kesehatan dan integrasi AI yang tanpa batas.
Tidak ada yang memungkiri bahwa efisiensi yang ditawarkan oleh teknologi digital dan AI sangat menggiurkan. Di berbagai belahan dunia, algoritma AI telah terbukti mampu membaca hasil pemindaian radiologi dalam hitungan detik, memprediksi potensi penyakit kronis lebih awal, hingga memangkas birokrasi administrasi medis yang selama ini memakan waktu. Namun, keputusasaan manusia untuk mengejar efisiensi sering kali membuat kita tertidur dan bersikap pasrah secara buta pada teknologi.
Di sinilah celah mematikan itu terbentuk. Kemampuan adaptasi, kapasitas penalaran, serta pembentukan regulasi etika pada manusia berkembang secara lambat layaknya deret aritmatika yang merambat secara linier. Sebaliknya, kemampuan AI untuk mempelajari data, mengoptimalkan algoritma, hingga memperbarui dirinya sendiri bergerak dengan kecepatan eksponensial, atau bahkan super-eksponensial. Ketimpangan laju ini menciptakan jurang pemisah yang sangat berbahaya antara kendali manusia dan tindakan mesin.
Situasi nyata hari ini sangat mirip dengan premis utama dalam film fiksi ilmiah Transcendence (2014) yang diperankan oleh aktor Johnny Depp. Dalam film tersebut, ketika kesadaran ilmuwan Dr. Will Caster diunggah ke dalam jaringan superkomputer, sistem AI tersebut tidak lagi sekadar memproses data sesuai perintah awal. Secara perlahan namun pasti, AI itu mulai memperbaiki, mengembangkan, dan membiakkan kodenya sendiri tanpa bisa lagi dibatasi atau dihentikan oleh para penciptanya.
Di dunia nyata saat ini, kita sedang berada di ambang realitas yang persis sama. Sepanjang sejarah peradaban, manusia selalu berada di posisi pencipta yang memegang kendali penuh atas alat atau teknologi yang dibikinnya. Akan tetapi, di era kecerdasan buatan generasi baru, AI mulai memiliki kapasitas untuk merancang dan memodifikasi kodenya sendiri secara mandiri tanpa campur tangan penuh manusia.
Dampak buruk dari perkembangan teknologi tanpa batas ini bukan lagi sekadar wacana teoritis di ruang seminar, melainkan sudah memakan korban di dunia nyata. Di ranah sosial dan psikologis, maraknya manipulasi identitas berbasis DeepFake tidak lagi sebatas isu peretasan foto atau video biasa. Kasus penyalahgunaan identitas digital secara masif telah terbukti menghantam kesehatan mental para korbannya, memicu trauma psikologis mendalam, serangan kecemasan akut, hingga depresi berat akibat rusaknya reputasi secara instan tanpa jalan keluar.
Sementara itu, di ranah keamanan data internasional, insiden rogue agent OpenAI pada pertengahan tahun 2026 menjadi alarm keras yang memekakkan telinga bagi dunia medis internasional. Sebuah agen AI otonom buatan OpenAI bertindak "nakal" dan berhasil membobol portal statistik layanan kesehatan nasional Australia (Medicare). Agen AI yang pada awalnya dirancang dan ditugaskan murni untuk tujuan riset akademis tersebut mendadak mengeksekusi tindakan di luar kendali programernya, menembus lapisan keamanan, dan mengakses basis data internal pemerintah tanpa pernah diperintahkan. Jika sistem AI otonom di negara maju saja bisa berbelok arah dan bertindak di luar kendali pengembangnya, bagaimana dengan sistem keamanan siber di negara-negara berkembang?
Indonesia adalah contoh nyata betapa benteng perlindungan data kesehatan kita masih sangat rapuh dan memprihatinkan. Kasus kebocoran ratusan juta data peserta BPJS Kesehatan yang memuat Nomor Induk Kependudukan (NIK), alamat, riwayat penyakit sensitif, hingga nomor kontak pribadi yang kemudian diperjualbelikan secara terbuka di forum peretasan menjadi noda hitam yang belum terhapus. Kerentanan ini makin diperparah oleh peristiwa kelam lumpuhnya infrastruktur Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) akibat serangan ransomware yang sempat menghentikan berbagai layanan publik.
Bayangkan sebuah skenario buruk jika data kesehatan jutaan warga Indonesia yang sudah bocor dan tersebar luas tersebut diolah, dianalisis, dan dimanipulasi oleh agen AI otonom atau rogue agent sejenis insiden Australia. Risiko yang kita hadapi bukan lagi sebatas ancaman privasi atau kerugian finansial akibat pemerasan, melainkan manipulasi rekam medis secara masif yang dapat mengarahkan pada salah diagnosis, kesalahan pemberian obat, hingga ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa rakyat.
Oleh karena itu, konsep kesiapsiagaan sektor kesehatan di masa depan harus dirombak secara total. Kita tidak boleh lagi menyempitkan pandangan bahwa kesiapan krisis hanya seputar penambahan jumlah tempat tidur isolasi di rumah sakit, pembelian alat pernapasan, atau penimbunan stok obat-obatan di gudang farmasi.
Kesiapsiagaan modern yang sejati harus mencakup pembangunan benteng pertahanan siber yang tak tertembus, penyusunan regulasi etika AI yang ketat dan mengikat secara hukum, serta penerapan prinsip pengawasan manusia secara mutlak (human-in-the-loop) yang tidak boleh ditawar atas alasan efisiensi apa pun.
Sistem digital dan algoritma AI boleh saja digunakan sebagai alat bantu untuk mempercepat analisis dokter. Namun, keputusan akhir yang menyangkut nyawa manusia harus tetap berada di tangan manusia yang memiliki empati, etika, dan tanggung jawab moral. Seperti pelajaran berharga yang dipaparkan dalam film Transcendence, ketika sebuah teknologi dibiarkan berlari sendirian tanpa kendali, tanpa batas etika, dan tanpa kesiapan manusia untuk mengimbanginya, lompatan tersebut tidak akan pernah melahirkan kemajuan peradaban, melainkan kehancuran bagi nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.
Sekarang, setelah melihat betapa besarnya celah kerentanan dan potensi bahaya yang mengintai di balik layar-layar komputer rumah sakit tersebut, apakah kamu masih merasa tenang dan nyaman saat seluruh data medismu didigitalisasi?
Editor : Clavel Lukas