Panas Setahun, Diperparah Hujan Sehari

Clavel Lukas • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 10:35 WIB
Asep Rahman
Asep Rahman

Oleh: Asep Rahman, SKM., M.Kes

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi;
Ketua Yayasan Bina Lentera Insan

PANAS setahun ditambah hujan sehari adalah peringatan dini yang seharusnya membangunkan kewaspadaan bersama hari ini. Peribahasa lama yang pernah menjanjikan sejuknya hujan untuk menghapus terik kemarau kini telah berganti wajah. Ketika kemarau panjang membakar vegetasi sampai ke akar-akarnya, hujan deras yang turun kelak bukannya membawa kelegaan, melainkan berpotensi membuka babak baru dari krisis ekologis yang saling menyambung dari hulu hingga ke hilir.

Dua tahun lalu, sebuah momentum berharga terbangun di SMK Negeri 1 Tomohon dan Pesantren Hidayatullah Tomohon, saya dan tim akademisi Universitas Sam Ratulangi mendampingi para siswa mengenalkan dan merangkai sensor kualitas udara berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengukur suhu, kelembapan, dan kadar CO₂. Lebih dari sekadar menyambung kabel atau mikrokontroler, kegiatan sederhana tersebut menjadi investasi awal untuk membangun kesadaran kolektif, bahwa angka-angka di layar monitor adalah peringatan nyata tentang kualitas udara yang dihirup warga setiap hari. Udara pegunungan Tomohon yang selama ini dianggap abadi sejuk dan aman, nyatanya tak luput dari ancaman, terbukti dari kebakaran hutan di areal Gunung Lokon yang baru-baru ini melahap vegetasi secara parah dan mempertegas bahwa pemantauan lingkungan secara presisi kini kian mendesak.

Pentingnya kesiapsiagaan itu kian terkonfirmasi melalui aktivitas pendampingan lapangan dalam riset RISE (Resilient Indonesian Slums Envisioned). Proyek penelitian bersama yang dibiayai Dewan Riset Belanda (NWO) dan RISTEKBRIN serta didukung LPDP melibatkan beberapa peneliti dari kampus Belanda dan Indonesia serta aktivis NGO ini berfokus pada urbanisasi berkelanjutan. Temuan riset di lapangan menjadi alarm penting yang membuka mata publik tentang betapa rentannya pemukiman padat dan kawasan kumuh di pusat Kota Manado saat diterjang bencana.

Selama ini, jika berbicara tentang potensi bahaya besar di Sulawesi Utara, perhatian publik hampir selalu tertuju pada ancaman klasik, seperti banjir, tanah longsor, letusan gunung api, atau gempa bumi. Kebakaran hutan dan lahan secara masif hampir tak pernah masuk dalam daftar kecemasan utama. Karhutla selalu dianggap sebagai peristiwa di tempat lain yang tidak mungkin menimpa benteng hijau Sulut. Namun, pergeseran iklim pelan-pelan merobek rasa aman tersebut. Saat ini di Sulut memang belum ada hujan lebat yang turun, tetapi dampak kemarau ekstrem nyata telah terjadi di depan mata. Data yang mencuat di media massa mencatat lebih dari 2.600 hektare hutan dan lahan telah hangus terbakar, termasuk hutan lindung di lereng Gunung Soputan, Gunung Klabat, hingga Gunung Lokon.

Peringatan terbesarnya ada di sini, karhutla tidak pernah benar-benar selesai saat api padam. Api yang menghancurkan struktur tanah dan sistem perakaran telah meninggalkan lahan tandus yang keras dan tak lagi mampu menyerap air. Ketika hujan deras yang intensif nanti akhirnya turun mengguyur lereng pegunungan bekas terbakar tersebut, air tidak akan meresap ke bumi, melainkan meluncur menjadi limpasan permukaan masif yang membawa lumpur dan batuan. Air tersebut akan meluncur deras ke hilir, menerjang pemukiman warga yang paling minim benteng pertahanannya.

Dari kacamata kesehatan masyarakat (public health), kewaspadaan preventif adalah kunci utama untuk mencegah krisis kesehatan beruntun. Saat fase kemarau dan karhutla, paparan partikulat halus memicu lonjakan kasus ISPA, asma, hingga iritasi mata pada anak-anak dan lansia. Lalu, ketika hujan tiba dan memicu banjir, ancaman berganti rupa menjadi krisis sanitasi, pencemaran air bersih, hingga risiko penularan penyakit seperti diare, leptospirosis, dan demam berdarah.

Paradigma mitigasi bencana di Sulawesi Utara harus bergeser dari sikap reaktif menjadi tindakan preventif yang nyata. Mitigasi tidak boleh lagi menunggu sampai api berkobar atau perahu karet diturunkan saat air merendam rumah. Mitigasi public health harus dijadikan pemantik kewaspadaan bersama, dimulai dari edukasi lingkungan sejak dini, penguatan pemantauan cuaca yang terhubung langsung dengan kesiapan Puskesmas, serta pemahaman kolektif bahwa merawat dan memulihkan hutan lindung di hulu hari ini adalah satu-satunya benteng terbaik untuk menyelamatkan nyawa dan kesehatan warga di hilir sebelum hujan deras itu benar-benar datang.

 

Editor : Clavel Lukas
asep rahman panas Hujan