Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Diajak Gabung PDIP oleh Freddy Sualang, Kini Ketua DPRD Sulut

Clavel Lukas • Selasa, 4 Agustus 2020 | 12:03 WIB
Andrei Angouw
Andrei Angouw
16 Februari 2016, Andrei Angouw dilantik Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Jabatan yang sama dipercayakan PDI Perjuangan sebagai partai pemenang Pileg 2019 pada Andrei. Oktober 2019 dia kembali menunggangi DB 3. Setelah hampir sembilan bulan berada di posisi ini, nama Andrei ramai disebut sebagai calon Wali Kota Manado. UNTUK bersua dengan peraih suara terbanyak di Pileg 2019 khusus dapil Kota Manado ini, sebenarnya cukup mudah. AA, sapaan akrabnya, dikenal dekat dengan wartawan. Namun belakangan terlihat tamu yang mendatangi ruang ketua dewan intensitasnya meningkat. Apalagi ketika nama AA berada di daftar teratas, bursa calon Wali Kota Manado dari PDI Perjuangan. Tamu silih berganti datang. Tentu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Wajib pakai masker, cuci tangan atau gunakan hand sanitizer. Jadi, Manado Post memilih janjian lebih dahulu.  Wawancara yang tidak terlalu lama ini berhasil mengulik latar belakang lulusan University of Southern California, Los Angeles, USA ini, memilih menjadi politisi. “Tertarik dengan politik karena muncul ketidakpuasan ketika melihat Kota Manado. Ini tahun 2000-an setelah saya kembali dari Amerika. Saat itu saya berpikir, untuk bisa membenahi harus masuk ke politik. Jadilah saya tertarik dengan politik,” kata pria berkacamata ini. Lalu kenapa akhirnya dia memilih PDI Perjuangan? Seperti ada kata pepatah, tak ada yang kebetulan. AA diajak Almarhum Freddy Sualang. Saat itu sebagai Ketua PDI Perjuangan Sulut. “Pak (Freddy) Sualang yang panggil. Juga dorongan Pak SHS (Sinyo Harry Sarundajang). Waktu itu mereka baru terpilih (gubernur dan wakil gubernur). Saya langsung masuk kepengurusan PDI Perjuangan, menjadi wakil ketua. Saat itu tahun 2005. Jadi kalau mau hitung saya sudah periode keempat di DPD PDI Perjuangan Sulut,” beber peraih gelar Bachelor of Science in Industrial and System Engineering (1989-1992) dan Master of Science in Engineering Management (1992-1994) University of Southern California, Los Angeles, USA, ini. 15 tahun AA membangun karir politiknya di PDI Perjuangan. Selama itu pula AA tetap setia. “Karena PDI Perjuangan punya komitmen terhadap bangsa, NKRI, dan memang ingin bekerja menjaga NKRI dan keutuhan masyarakat. PDI Perjuangan ini juga benar-benar dikelola secara profesional. Kita juga harus beri contoh pada masyarakat,” katanya. AA menyebut perjalanan karir politiknya di PDI Perjuangan tidak mudah. “Tahun 2010 hampir dipecat. Tapikan tidak kemana-mana,” ujar AA, sambil tertawa dengan tawa khasnya. “Bukan 10 tahun ini cuaca cerah terus. Ada juga lewati badai, tapi tetap tidak kemana-mana,” tambahnya lagi, masih tetap diikuti tawa khas AA. Setelah merasakan pahit-manis di politik, alumnus SMA Rex Mundi Manado ini mengakui dia sudah merasakan banyak hal positif, sebagaimana tujuan utamanya berpolitik. “Kita bisa mempengaruhi program pemerintah, juga ikut menentukan yang akan dilakukan pemerintah. Di antaranya kebijakan pembenahan daerah yang tujuannya kesejahteraan masyarakat,” tukasnya. AA tidak akan pernah puas mencapai tujuannya berpolitik. Karena dia berpendapat, dunia yang kian dinamis membuat kebutuhan masyarakat pun terus berubah. “Semua dinamis. Pembangunan dinamis. Perjuangan dinamis. Saat kita tiba di sana, pasti ada sesuatu yang baru lagi,” kata pengusaha yang pernah menjadi Ketua Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia Sulawesi Utara ini. AA juga tak segan bicara soal target politiknya. “Politisi itu tujuannya pemikiran kita menjadi program pemerintah. Kalau saya, sudah cukup sampai di sini (ketua dewan),” ungkap anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara tiga periode ini. Apalagi, kata AA, dia tak pernah memimpikan dan membayangkan menjadi ketua dewan provinsi. “Mimpi, bayang, tidak pernah. Sampai dua-tiga bulan sebelum menjadi ketua,” katanya tertawa lepas. Posisinya sebagai ketua dewan diakui AA sangat berpengaruh. “Bedanya dengan anggota dewan, ya lebih berpengaruh,” lanjutnya. Beralih ke topik jabatan eksekutif, raut wajah AA sedikit berubah lebih serius. “Awal saya berpolitik memang ada ketertarikan menjadi eksekutif (kepala daerah),” ujarnya. Namun, penjelasan AA tak berhenti di situ. “Tapi sebenarnya saya sudah lewat target sekarang. Sudah jadi ketua dewan provinsi,” tuturnya, diikuti tawa. Meski begitu dia tak menampik jika ketertarikan menjadi kepala daerah itu tetap ada. Beranjak kembali pada tujuannya berpolitik yakni pemikirannya menjadi program pemerintah. “Memang sama seperti saya menjadi ketua dewan. Tapi kalau wali kota, skop dan tupoksinya beda. Namun keduanya sama, pemikiran kita bisa menjadi program pemerintah,” sambungnya. Menyinggung namanya kencang disebut sebagai calon Wali Kota Manado dari PDI Perjuangan, AA siap. “Saya harus siap karena kelihatannya Pak Gub (Olly Dondokambey) akan tunjuk saya. Jadi siap jika ditunjuk ataupun tidak ditunjuk. Kalau SK sudah ada dan nama saya, saya siap. Demikian juga kalau SK tiba lalu bukan nama saya, saya juga siap,” tegasnya. Soal visi dan misi, kata AA sebenarnya mudah. Dia berpendapat karena masih satu pulau dan satu negara, maka visi dan misi kepala daerah harus selaras dengan presiden maupun gubernur. “Visi dan misi harus sinkron. Jangan semua bikin visi dan misi sendiri-sendiri. Akhirnya kacau balau,” tukasnya. Bagaimana dukungan keluarga? Ayah dari Ansell, Abillio, Anthony, dan Annabel ini, senang keluarga mendukung tiap keputusan politiknya. “Sampai sekarang keluarga sangat dukung,” ujar suami Irene Pinontoan itu.(gel) Editor : Clavel Lukas
#Andrei Angow #Ketua DPRD Sulut #PDIP