MANADOPOST.ID— PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan (UPDK) Minahasa melakukan uji coba Co-firing Unit 2 PLTU Amurang dengan menggunakan Biomass (sawdust, woodchip dan eceng gondok).
Dikatakan, Manager PT PLN (Persero) UPDK Minahasa Andreas Arthur, pihaknya melakukan co-firing biomass ini untuk mendukung program pemerintah dimana harus meningkatkan target bauran energi baru terbarukan. "Tentunya ada beberapa dampak positif yang didapatkan ketika melakukan cofiring biomass ini, pertama kita mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, kedua dapat menekan emisi gas buang dari batu bara, dan bisa menekan biaya pokok produksi, karena seperti yang kita ketahui bahan bakar fosil volumenya cenderung semakin menipis dan keterbatasan itu yang mendorong harga meningkat," terangnya.
Ia menjelaskan perencanaan co-firing ini sudah dimulai sejak Maret dan selama dua bulan yakni April-Mei dilakukan pengujian bahan bakar yang akan digunakan. Bulan Juni ini pihaknya melaksanakan uji coba di PLTU 2 Amurang.
Biomass yang dilakukan saat ini ada tiga jenis, yaitu sawdust, woodchip dan eceng gondok. Untuk sawdust diambil dari limbah industri rumah kayu di Tondano, woodchip dari Pohon Kaliandra yang banyak tumbuh di tanah Minahasa dan Eceng Gondok diambil dari Danau Tondano. "Untuk Eceng gondok sendiri, ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap pemerintah dalam mengurangi limbah di Danau Tondano," ucap Andreas.
Ia menuturkan untuk co-firing saat ini komposisinya adalah 5 persen dari volume total konsumsi Batubara yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 produksi kWh, semoga jumlah komposisinya akan terus bertambah. "Namun memang kita butuhkan kuntinuitas atau sustainabilitynya dari pemerintah lokal dan juga UMKM-UMKM karena kami butuh kerjasama yang bagus dengan pemerintah dan UMKM. Untuk eceng gondok sendiri, kami harus bekerjasama dengan UMKM-UMKM yang ada disekitar Danau Tondano, dimana eceng gondok yang dibutuhkan adalah batangnya. Jadi kalau batangnya ini sudah bisa dikeringkan dan dikelola di treatment di sekitar Danau Tondano maka biaya transportasi untuk kirim ke Amurang juga akan lebih murah dibanding kita mengirimkan dalam wujud eceng gondok dan belum dikeringkan dikirim ke Amurang. Kami harapkan nanti UMKM yang di sekitar danau Tondano bisa mengelola eceng gondok tersebut sebelum digunakan atau dikirim di PLTU Amurang," katanya.
Kerja sama itu, lanjutnya bukan cuma dari sisi volume tapi kita juga harus melihat dari sisi harga karena begitu nilai manfaat dari biomass ini diketahui diharapkan harga juga tidak ikut melonjak sehingga justifikasi secara finansial tetap masuk dalam program co-firing ini untuk kedepannya. Misalnya kalau berhasil artinya tidak menimbulkan dampak yang signifikan terhadap pembangkit dan juga secara finansial masuk maka pihaknya akan terus mengembangkan persentase dari co-firing ini.
"Jika kita hitung kasarnya biaya produksi pada saat mengunakan Batubara 100 persen, dengan harga Batubara Rp 650 per kilogram biaya produksi yang dibutuhkan dibahan bakar sekitar Rp 552,5 per Kwh. Ketika kita gabungkan dengan co-firing kebutuhannya turun menjadi Rp 548,25 per Kwh. Jadi ada selisih biaya saat co-firing 5 persen terhadap kondisi 100 persen Batubara sebesar Rp 4,25 per kWh. Sedangkan secara kumulatif dengan CF 85 persen ketika kita melakukan selama satu tahun bisa mendapatkan sekitar Rp 791 juta sekian untuk satu unit," terangnya.
Dengan harga yang sudah diperhitungkan oleh rekan-rekannya di Energi Primer, yaitu penghematan dari energi primer yang bisa didapat sekitar Rp 4,25 per kWh dengan komposisi 5 persen co-firingnya. Kalau satu tahun bisa menghasilkan hampir satu Miliar energi penganti untuk satu unit jika dua unit hampir dua Miliar dan itu masih dalam kapasitas 5 persen. "Semoga hasil uji coba co-firing ini berhasil dan tidak memberikan dampak dalam pembangkit kita dan juga syarat-syarat untuk standar-standar lainnya maka kita kembangkan dan efisiensinya mungkin akan lebih meningkat," tutur Andreas.
Kemudian target implementasinya itu sekitar bulan Juni sampai Agustus. Tapi secara nasional penggunaan co-firing ini sudah dilakukan dibeberapa pembangkit dan berhasil. Jadi ia juga optimis dengan komposisi 5 persen ini masih berhasil dan berharap Juli - Agustus itu sudah teraplikasi dengan baik. "Namun sustainability kita butuh kerjasama dengan Pemda setempat dan UMKM agar konsistensi dari co-firing ini tetap berlanjut. Karena kita tahu bersama, Sulut memiliki tanah yang sangat subur, pohon tanaman tumbuhan sangat banyak dan bisa bertumbuh dengan baik dibalik itu ternyata ada potensi energi yang bisa kita manfaatkan untuk pembangkit listrik. Jadi kami mengajak pemeritah untuk mensupport terkait membuat kebijakan terhadap energi primer biomass ini," tuturnya.
Sementara itu, General Manager PLN UIKL Sulawesi Munawwar Furqan, mengatakan co-firing ini adalah satu bagian dari melibatkan masyarakat untuk bisa berkontribusi dalam penyedia tenaga listrik. "Jadi dengan cofiring ini tentu membutuhkan energi primer yang datangnya dari biomasa yang nantinya bisa meningkatkan kontribusi masyarakat sekitar yang mempunyai sumber energi biomasa untuk dijadikan bahan bakar pembangkit listrik. Tentu secara teknis ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar biomasa tersebut bisa dimanfaatkan PLTU di PLN," ujarnya.
Dirinya berharap dampak secara ekonomisnya kepada masyarakat yang ikut membantu menyiapkan co-firing ini agar bisa terasa secara langsung dimasyarakat dan juga PLN bisa memanfaatkan ini sebagai bagian dari pemanfaatan pembangkit energi baru terbarukan, karena dengan biomasa ini energi primernya kontinue dan pemanfaatan tidak habis-habisnya kalau kita jaga keberlangsungan pasokan dari sumber energi tersebut," ucapnya
Senada dikatakan, James Tombokan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Minahasa Selatan, bahwa cofiring ini sangat berdampak positif untuk pembangunan karena bisa mengurangi emisi dan lain sebagainya. Kemudian akan muncul pemberdayaan kepada masyarakat untuk mendapat kegiatan yang baru dan income yang baru. "Termasuk juga yang selama ini membuat sakit kepala pemerintah Minahasa yaitu eceng gondok sudah ada jalur untuk memediasi manfaat dari eceng gondok ini. Untuk itu, kami sebagai pemerintah mengapresiasi PLN yang sudah membuka jalur untuk sumber energi baru kedepan sehingga semua bergerak pemerintah dan masyarakat bersama-sama untuk Indonesia yang lebih maju lagi," kuncinya. (lina)
Editor : Tanya Rompas