Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Produksi Cap Tikus Meningkat, Pajak Kans Meroket

Grand Regar • Senin, 9 Januari 2023 | 18:58 WIB
Photo
Photo
MANADOPOST.ID-Produk minuman alkohol legendaris asal Sulawesi Utara, Cap Tikus 1978, berhasil menembus belantara pasar modal Indonesia. Di mana PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk,  produsen produk berlabel Cap Tikus 1978  mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran  umum perdana (Initial Public Offering/IPO). Cap Tikus 1978 dengan kode saham BEER,  mulai diperdagangkan pada 6 Januari 2023. Ekonom Sulut Dr Robert Winerungan menuturkan, pencapaian PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk menjadi pembangkit optimisme perekonomian, khususnya di Sulut. Menurutnya, perusahaan yang sudah berhasil untuk Go Publik, adalah perusahaan yang mendapat kepercayaan masyarakat. "PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk adalah perusahaan pertama asal Sulut yang bisa IPO. Artinya sahamnya bisa diperjualbelikan dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Ini adalah langkah yang baik," ungkapnya. Akademisi UNIMA tersebut menjelaskan, dengan GO Publiknya sebuah perusahaan, maka sahamnya sudah diperjualbelikan di bursa efek. Hal ini akan membuat modal semakin besar. Dan akhirnya mendorong kapasitas produksi akan lebih banyak. "Sehingga PDRB Sulut akan lebih meningkat, tenaga kerja akan bertambah,perekonomian akan lebih berkembang," katanya. Winerungan pun mengimbau, kepada para petani CapTikus di Sulut untuk tidak khawatir dalam menambah produksi. "Justru produksinya harus semakin banyak, dan jual ke perusahaan sebagai bahan baku. Jangan lagi diperjualbelikan secara eceran," imbaunya. Di sisi lain, Kepala BEI Perwakilan Sulut Mario Iroth, menyambut dengan bangga keberanian PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk untuk Go Publik. Dia meyakini, terobosan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut akan mampu mendorong dan membuka mata perusahaan lain yang ada di Sulut untuk berani IPO. "Ini bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain. Karena memang masih banyak perusahaan yang belum percaya diri untuk IPO. Nah dengan gebrakan yang dilakukan PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk akan memicu perusahaan lainnya," katanya. Dari sisi pasar modal, Iroth memaparkan, bahwa potensi PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk sangat menarik. Sebenarnya di Bursa Efek sudah ada dua perusahaan yang bergerak di alcohol and beverage. Yakni Delta Djakarta dan Multi Bintang Indonesia.  Tapi harga saham yang ditawarkan Jobubu masih berada di bawah rentan dua perusahaan yang sebelumnya. Dari sisi perbandingan harga saham terhadap laba per lembar saha PT Jobubu masih sangat baik. "Kemudia yang menarik lagi, PT Jobubu ini hutangnya relatif lebih kecil daripada salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama. Selain itu, Jobubu pun masih dalam keadaan profit . Karena, ada perusahaan yang sudah IPO tapi masih dalam kondisi rugi. Sementara Jobubu merupakan perusahaan yang hutangnya kecil, dan perbandingan harga saham dengan laba per lembar sahamnya itu masih berada di rentan dua perusahaan lainnya yang sudah Go Publik di industri yang sama. Dia pun memaparkan, beberapa keuntungan yang didapatkan Sulut dengan IPO nya PT Jobubu. Pertama, dari sisi perusahaan bisa meningkatkan modal usaha yang nantinya akan mendorong omset. Dan pastinya akan membuat ekonomi di daerah lebih cepat bertumbuh. "Maksudnya begini, proses pengumpulan dana yang besar akan lebih cepat dengan menjual saham ke publik. Jika sebelum IPO butuh waktu 5 sampai 10 tahun, sesudah IPO dengan menjual saham dana akan cepat terkumpul. Ekspansi bisnisnya pun akan semakin cepat.  PT Jobubu pun akan seperti itu, setelah IPO, bisa berproduksi lebih banyak dan lebih cepat. Yang nantinya meningkatkan penyerapan bahan baku Cap Tikus dari para petani-petani Minahasa. Pendapatan petani pun meningkat," paparnya. Keuntungan lain, lanjut Iroth, dengan meningkatnya laba bersih PT Jobubu maka pendapatan pajak daerah pun akan naik. Sementara dari sisi masyarakat, semakin banyak perusahaan Sulut yang Go Publik akan semakin mudah bagi para investor untuk menakar dan menganalisa langsung apakah saham tersebut layak untuk menjadi tempat investasi. "Karena mencari tahu kondisi perusahaan tidak perlu datang ke Jakarta atau ke luar daerah. Sehingga lebih percaya diri untuk berinvestasi di perusahaan daerah. Ini akan meningkatkan minat perusahaan daerah untuk masuk ke pasar modal," kuncinya. Prof Dr Drs Riane Johnly Pio MSi menilai, keberhasilan cap tikus melenggang ke bursa efek menjadi catatan yang sangat positif dan perlu diapresiasi. Namun demikian Pio berharap, ke depannya nilai saham cap tikus di bursa efek akan tetap konsisten bahkan meningkat. "Terutama mampu bersaing dengan produk sejenis lainnya," nilai Pio. Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno sebelumnya menyebut ada empat perusahaan yang baru saja mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) di antaranya adalah cap tikus. Bahkan menurut Sandiaga, Jobubu memiliki potensi untuk berkembang. "PT Jobubu mengembangkan salah satu produk fermentasi kearifan lokal dari Sulawesi Utara. Ini yang menurut saya bisa kita jual untuk para wisatawan terutama yang menyukai di Sulawesi Utara itu wisatawan dari China," kata Sandiaga di BEI Jakarta, Jumat (6/1) lalu. Ditambahkan Sandiaga, produk dari Jobubu telah dikemas dengan standar internasional. Sandiaga juga ikut mendorong Jobubu naik kelas dan berharap suatu saat nanti produknya bisa ditemui di Inggris, Thailand serta berbagai destinasi wisata lain. (ayu/greg) Editor : Grand Regar
#Cap Tikus #Pajak #MANADO #sulawesi utara