Ketua PPKNI Coreta Louise Kapoyos menuturkan, salah satu kebaya milik Sulawesi Utara tersebut, selama ini belum tersosialisasi secara meluas ke masyarakat.
“Berbicara mengenai Kebaya Noni, pikiran kita langsung tertuju pada Noni-Noni Belanda di zaman itu. Kebaya Noni ini merupakan warisan para pendahulu dan ahli warisnya adalah yang mewakili masyarakat Sulawesi Utara, yaitu gubernur Sulut,” jelasnya.
Lanjut Coreta Louise, Sulawesi Utara sebagai ahli waris Kebaya Noni, akan segera mendaftarkan ke Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Nasional oleh gubernur.
“Seperti kita ketahui bahwa di Indonesia ada begitu banyak model dan jenis kebaya, misalnya Kebaya Kutu Baru, Kebaya Bali dan juga Kebaya Minahasa, Namun semua itu belum terdaftar di WBTb termasuk Kebaya Noni,” ungkapnya.
Untuk itu sebagai langkah awal, PPKNI mulai melakukan berbagai persiapan diantaranya dengan menggelar talkshow dengan menghadirkan para pakar dan budayawan sebagai narasumber. Diantaranya Direktur Perlindungan Budaya Kemendikbudristek untuk mensosialisasikan sekaligus menggali berbagai hal menyangkut asal usul Kebaya Noni.
“Selanjutnya akan dilakukan Forum Group Disccussion di Manado pada Februari 2024 sebagai tindak lanjut Gerakan Nasional Kebaya goes to UNESCO,” tambahnya.
Coreta Louise juga membeber ciri khas Kebaya Noni. “Seperti juga kebaya-kebaya lain, modelnya hampir sama yaitu bukaan di bagian depan. Namun yang membedakannya yakni warna dasar adalah warna putih dan di bagian depan pinggir kain dihiasi renda brokat dan dipadupadankan dengan kain sarung khas Indonesia bermotif bunga-bunga,” tandasnya.
Acara talkshow Kebaya Noni Warisan Budaya Sulawesi Utara yang berlangsung di Jakarta ini, juga diselingi dengan fashion show, tari -tarian tradisional Sulawesi Utara dan bazar.(*)
Editor : Tanya Rompas