MANADOPOST.ID - Klenteng Ban Hin Kiong, salah satu saksi sejarah peristiwa Perang Dunia Ke II. Bagaimana tidak, klenteng ini berdiri sejak 1819 dengan papan yang diselingi bambu. Pada waktu itu, Manado menjadi salah satu kota yang diincar untuk pengeboman sekutu terhadap Jepang. Beberapa bangunan hancur lebur, tapi tidak dengan klenteng ini. Mendukung fakta, di dalam klenteng tersimpan rapi tiga buah meriam yang dihadiahkan oleh VOC.
Diberi nama Ban Hin Kiong dengan harapan menjadi istana yang memiliki banyak berkat yang melimpah atau melimpah kebaikan, sesuai dengan artinya.
Selain menjadi tempat berdoa bagi tiga keyakinan, Konghucu, Buddhisme, dan Taoisme, klenteng ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Baru-baru ini klenteng ini dikunjungi oleh kurang lebih 650 wisatawan asing, berkat sandarnya 4 kapal pesiar di Pelabuhan Bitung.
Sudah 54 tahun berdiri setelah peristiwa kebakaran 14 Maret 1970. Masih kokoh dan sangat terawat. Satu-satunya yang tersisa menjadi kenangan hanyalah patung/arca Siu, Dewa Umur Panjang, yang terbuat dari ukiran kayu.
Dikelola dengan baik oleh petugas klenteng Arsitekturnya kental dengan budaya Tionghoa dan warna merah yang khas menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Disamping itu, upacara-upacara keagamaan yang diadakan oleh umat klenteng ini menjadi salah satu agenda yang dinanti-nantikan oleh warga Manado.
Klenteng yang berdiri kokoh di Kampung Cina, Jl. D.I. Pandjaitan, Calaca, Kec. Wenang, Kota Manado juga menjadi salah satu lambang toleransi umat beragama di Kota Manado, Sulawesi Utara. (Jass)
Editor : Toar Rotulung