MANADOPOST.ID—Ketua Umum Presidium Persatuan Nusantara Indonesia (PNI), Dr. Jan S. Maringka, memimpin langsung kegiatan jalan sehat bertajuk Perjaka Senja (Presidium PNI Jalan Sehat di Senayan) yang digelar di kawasan Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (4/10). Kegiatan ini diikuti ratusan anggota dan pengurus Presidium PNI, sebagai bagian dari dukungan terhadap program pemerintah dalam Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
“Kegiatan ini bukan hanya olahraga, tapi bentuk komitmen kami mendukung pemerintah lewat Germas. Masyarakat perlu dibiasakan hidup aktif, makan bergizi, dan rutin berolahraga,” ujar Jan Maringka di sela kegiatan.
Ia menegaskan, tujuh pilar Germas, mulai dari aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur, tidak merokok, hingga menjaga kebersihan lingkungan, harus terus disosialisasikan agar menjadi budaya di tengah masyarakat.
Menurutnya, budaya hidup sehat adalah fondasi produktivitas bangsa. “Kalau pengurus dan anggota Presidium PNI sehat, itu bagian dari kontribusi nyata kami pada program Indonesia Sehat,” kata mantan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejagung RI periode 2017–2020 itu.
Kegiatan jalan sehat ini juga dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI). “Kami keluarga besar Presidium PNI mengucapkan Dirgahayu TNI. Semoga TNI selalu jaya dan menjadi benteng persatuan bangsa,” ujar Jan.
Sehari sebelumnya, Presidium PNI bersama Forum Masyarakat Indonesia Emas (Formas) menggelar dialog interaktif bertema “MBG, Bermanfaat untuk Siapa?” di Restoran Ramampa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Dalam forum tersebut, Jan Maringka menegaskan dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu janji utama Presiden Prabowo Subianto. “Program MBG adalah langkah strategis untuk menyiapkan generasi cerdas dan sehat. Tapi implementasinya harus dikawal agar tepat sasaran,” ujarnya.
Jan juga menyoroti pentingnya peran ormas dalam mendukung program pemerintah. Menurutnya, Badan Gizi Nasional (BGN) tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan jaringan masyarakat sipil. “Formas dengan 80 organisasi di dalamnya punya potensi besar mengawasi dan memastikan pelaksanaan MBG berjalan baik dari pusat sampai daerah,” jelasnya.
Ketua Umum Formas, Yohanes Handojo Budhisedjati, menambahkan bahwa pengawasan program MBG harus disertai keterlibatan pakar gizi dan penggunaan teknologi. “Potensi keracunan bisa muncul dari banyak faktor, internal maupun eksternal. Karena itu perlu sistem pengawasan yang kuat dan transparan,” ucapnya.
Yohanes juga menegaskan kesiapan Formas untuk terlibat dalam evaluasi dan kajian strategis lintas lembaga. “Kami ingin program makan bergizi ini benar-benar berkelanjutan, terukur, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tutupnya.(fgn)
Editor : Foggen Bolung