MANADOPOST.ID—Kolintang akhirnya resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda untuk Kemanusiaan. Pencapaian bersejarah ini tak hadir secara instan, melainkan lewat proses panjang. Mulai dari diplomasi budaya hingga pembuatan naskah akademik serta berbagai kegiatan pendukung lain.
Tim khusus di bawah koordinasi Persatuan Insan Kolintang Nasional (PINKAN) Indonesia, menjadi yang paling dominan memotori perjuangan itu. Didukung penuh Ketua Umum PINKAN Penny Marsetio, kerja keras itu sudah kini telah membuahkan hasil.
Inisiasi perjuangan panjang tersebut datang saat rembuk Ikatan Pelatih Musik Kolintang Jabodetabek (IPMKJ) di Sanggar Bapontar pada medio tahun 2010, bersamaan dengan cilkal bakal terbentuknya PINKAN Indonesia.
Setelah PINKAN terbentuk, pengakuan UNESCO menjadi target utama. Inilah alasan slogan “Goes to UNESCO” menyemat dalam identitas organisasi yang menaungi para pelaku kolintang tersebut.
Tiga tahun berselang, kolintang didaftarkan sebagai Warisan Budaya Takbenda di Kemendikbud. Pada 2018, tim lintas keahlian lalu dibentuk setelah sebelumnya, banyak yang belum berhasil. Tidak hanya mengandalkan aspek budaya, tetapi juga akademik dan diplomasi. Tim dibangun untuk memperkuat peran pemerintah daerah sekaligus mengokohkan basis argumentasi ilmiah mengenai asal-usul dan nilai budaya kolintang.
Kelima anggota tim di antaranya:
- Lidya Katuuk, B.Psy (Pegiat Budaya)
- Dr. Anneke Rattu M.Mrg (Akademisi FIB Unsrat)
- Dr. Glennie Latumi, S.Pd., M.Sn. (Etnomusikolog Unima)
- Ir. Ludovicius Ibrahim Wullur(Kepala Departemen Musik MIS)
- Amrosius M. Loho, M.Phil (Dosen Filosofi, De La Salle University)
Kemarin, sertifikat pengakuan UNESCO terhadap kolintang sebagai Warisan Takbenda diterima secara simbolis Gubernur Sulut Yulius Selvanus.
Salah satu tokoh kawanua, Letjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung angkat bicara. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional itu menegaskan capaian dunia internasional ini merupakan buah dari kerja kolektif yang terarah. “Pengakuan UNESCO ini melalui proses yang panjang, sistematis, dan penuh komitmen. Tim dari PINKAN ini bekerja tanpa pamrih dan difasilitasi sepenuhnya oleh Ibu Penny Marsetio,” ungkap Pusung.
Menurut Pusung, rangkaian upaya dilakukan secara maraton. Mulai dari penyusunan kajian budaya, penyelenggaraan webinar nasional dan internasional, penyusunan buku referensi kolintang, penyusunan data sejarah dan etnomusikologi, hingga penguatan jaringan diplomasi budaya ke berbagai negara.
Olehnya, semua kerja keras itu perlu diapresiasi. Tidak boleh dilupakan. Pemerintah Daerah hingga masyarakat Sulut perlu menghargai usaha yang dilakukan semua pihak. “Upaya mendapat pengakuan UNESCO ini tidak mudah. Apa yang dilakukan PINKAN, khususnya Ibu Marsetio dan Pak Marsetio ini perlu diapresiasi. Beliau yang orang Jawa mau berjuang agar alat musik tradisional itu bisa diakui dunia,” ungkapnya.
Pusung mengaku menyaksikan langsung kerja keras hingga pengorbanan Penny Marsetio beserta sang suami bersama jajaran tim yang dibentuk PINKAN Indonesia.
Kerja keras kala itu melibatkan Kemenlu, Kemendagri, Kemendikbudristek, Kemen-PMK serta Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO. Juga berbagai tokoh besar negeri ini, di antaranya mantan menteri Purnomo Yusgiantoro bersama sang istri Lis Yusgiantoro yang merupakan Ketua PINKAN sebelumnya, Rahmat Soedibyo beserta istri Anny Soedibyo, Prof Ismunandar, Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Dirjen Kebudayan Kemenristekdikti Hilmar Farid, Pemimpin INO Frangky Raden serta musisi dan komposer Dwiki Darmawan, serta Nanik Suryo Sekjen PINKAN. Namun peran paling sentral Ketua Dewan Pembina PINKAN Laksamana TNI( Purn) Prof Dr Marsetio.
Upaya itu turut pula melibatkan Gubernur Sulut Olly Dondokambey, hingga Ketua PINKAN Sulut Joune Ganda. Kontribusi terhadap tim juga dirasakan datang dari Dr. Paul Richard Renwarin, Pr., selaku Antropolog Budaya, Franki Raden, Ph.D., etnomusikolog dan komposer dunia, Prof. Dr. Jerry Nurneng, musikkolog dan etnomusikolog dari Universitas Negeri Manado, dan Bodewyn Grey Talumewo, S.S.
“Nah, jangan setelah sudah berhasil, kita melupakan sejarah perjuangan di dalamnya. Saya kira semua pihak yang terlibat, khususnya Ibu Marsetio itu perlu diberikan penghargaan. Beliau tidak perlu itu, tapi kita sebagai orang Minahasa harus tau berterimakasih,” tuturnya.
Kolintang sendiri telah lama menjadi identitas budaya masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Alat musik tradisional ini terbuat dari bilah-bilah kayu lokal seperti kayu telur, wenuang, cempaka, dan waru. Suaranya khas, dimainkan secara ansambel untuk mengiringi nyanyian, tarian, ataupun ritual adat dan keagamaan.
Pusung menilai, keberhasilan ini bukan akhir, melainkan awal dari babak baru transformasi kolintang di tingkat dunia. “Kini kolintang sudah terdaftar secara global. Tantangan kita berikutnya adalah memanfaatkan momentum ini untuk revitalisasi pendidikan musik kolintang, pelestarian, hingga ekspansi ekosistem ekonomi kreatifnya,” tegasnya.
Ia mengajak pemerintah daerah, komunitas budaya, diaspora kawanua, dan generasi muda untuk menjadikan pengakuan UNESCO sebagai bahan bakar semangat kebudayaan. “Kolintang bukan hanya alat musik ini adalah identitas, kebanggaan, dan warisan masyarakat Sulut yang harus terus hidup,” tutup Pusung. (jen)
Editor : Angel Rumeen