MANADOPOST.ID—Musyawarah Wilayah (Muswil) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulawesi Utara yang digelar di Swiss-Belhotel Manado, Sabtu (13/12) menghadirkan pemandangan yang tidak biasa sekaligus sarat makna.
Pembukaan kegiatan resmi partai politik ini diawali dengan doa Kristen yang dipimpin Pendeta Renata Ticonuwu, sebuah simbol kuat toleransi dan kerukunan hidup yang selama ini menjadi identitas masyarakat Sulawesi Utara.
Momen tersebut sontak menarik perhatian para peserta Muswil, tamu undangan, hingga tokoh-tokoh lintas partai yang hadir. Di tengah dinamika politik nasional yang kerap diwarnai polarisasi, PKB Sulut justru menampilkan wajah politik yang sejuk, inklusif, dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan lintas iman.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PKB Sulut Yusra Alhabsyi dalam sambutannya menegaskan kerukunan di Bumi Nyiur Melambai bukan sekadar jargon atau slogan seremonial.
Menurutnya, toleransi adalah nilai hidup yang benar-benar dipraktikkan dalam keseharian masyarakat Sulawesi Utara, termasuk dalam aktivitas politik.
“Muswil ini kami laksanakan dalam suasana Adven, masa yang penuh makna refleksi. Ini adalah momentum untuk menguatkan kembali nilai kasih, perdamaian, dan persaudaraan dalam kehidupan berbangsa,” ujar Yusra di hadapan peserta Muswil.
Ia juga secara khusus menyampaikan ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru kepada seluruh umat Nasrani yang hadir. Ucapan tersebut disambut dengan tepuk tangan meriah, mencerminkan suasana kekeluargaan yang terasa kental sepanjang kegiatan berlangsung.
Kehadiran Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus SE semakin memperkuat pesan harmoni yang diusung Muswil PKB Sulut. Gubernur yang hadir bersama jajaran DPP PKB serta pimpinan partai Koalisi Merah Putih itu memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah PKB Sulut yang dinilainya mencerminkan karakter masyarakat Sulut yang menjunjung tinggi persatuan dalam keberagaman.
“Apa yang ditunjukkan PKB Sulut hari ini adalah cerminan wajah Sulawesi Utara. Kita berbeda-beda, tetapi tetap satu dalam semangat membangun daerah,” kata Gubernur Yulius Selvanus.
Ia menambahkan, politik seharusnya menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, bukan memecah belah. Menurutnya, semangat toleransi yang ditunjukkan dalam Muswil ini patut menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
Suasana Muswil juga meninggalkan kesan mendalam bagi para kader. Sejumlah peserta dari Minahasa dan daerah lain mengaku terharu dan merasa dihargai dengan pendekatan inklusif yang diterapkan PKB Sulut. Interaksi lintas daerah, diskusi santai, hingga sesi kebersamaan antar kader berlangsung akrab tanpa sekat.
Selain membahas agenda strategis organisasi dan konsolidasi partai, Muswil PKB Sulut kali ini dinilai melampaui fungsi formalnya. Forum ini menjadi pernyataan nyata bahwa toleransi, kerukunan, dan persaudaraan telah menjadi nafas politik PKB di Sulawesi Utara.
Dengan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, PKB Sulut menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pembangunan daerah yang damai, adil, dan harmonis, sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.(gel)
Editor : Angel Rumeen