MANADOPOST.ID–Jan Maringka tak sedang berbicara sebagai mantan pejabat utama, namun Ia bicara sebagai anak Minahasa yang merasa kampungnya tak boleh tertinggal ketika dunia mulai cemas soal krisis global di bidang pangan.
Mantan Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian Republik Indonesia itu menegaskan, ke depan Indonesia harus menghadapi ancaman krisis pangan dan energi. Presiden, kata dia, sudah mengingatkan soal itu. Pertanyaannya, apakah kita di daerah daerah sudah benar-benar siap?
“Minahasa harus punya SDM unggul di bidang agraris,” ujarnya tegas.
Menurut mantan Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI periode 2017–2020 ini, mustahil berbicara soal kedaulatan pangan tanpa menyiapkan sumber daya manusianya sejak awal. Jika target pembangunan ditetapkan lima sampai sepuluh tahun ke depan, maka yang pertama kali disiapkan adalah manusianya.
“Bagaimana mau menyiapkan SDM pertanian kalau sekolah sekolah pertanian saja sangat terbatas? Akademi atau politeknik pertanian ( polbangtan ) di Indonesia masih sedikit. Kalau kita siapkan dari sekarang, kita bisa melahirkan praktisi pertanian yang milenial, bahkan Gen Z,” katanya.
Ia menyebut, pemerintah daerah sebenarnya tak perlu memulai dari sesuatu yang rumit. Cukup menyediakan lahan dan menunjukkan keberpihakan yang jelas. Selebihnya, sistem pendidikan dan kemitraan bisa dibangun bertahap bersama kementerian terkait. Yang penting ada kemauan untuk memulai.
Jan juga menyinggung soal krisis minat generasi muda pada sektor pertanian. Profesi petani tak lagi dianggap menjanjikan. Padahal Sulawesi Utara sejak dulu dikenal dengan julukan “Nyiur Melambai”.
“Kelapa kita sampai sekarang minim peremajaan. Padahal potensi pertanian, perkebunan, dan peternakan kita sangat besar. Leluhur kita adalah masyarakat agraris. Tapi kita seperti kehilangan arah,” ujarnya.
Ia mendorong hadirnya politeknik perkembangan pertanian di Sulut sebagai kebutuhan yang mendesak. Bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi sebagai simbol keseriusan membangun ekosistem agraria yang modern dan berkelanjutan.
Lebih jauh, Jan juga menilai persoalan bukan semata pada regulasi. Aturan sudah ada, namun implementasi sering kali lemah. Ia mencontohkan Perda Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang ada belum sepenuhnya diterapkan.
“Setahu saya, di Sulut itu baru kabupaten Talaud yang punya Perda LP2B. Artinya, concern untuk melindungi lahan pertanian masih kurang. Ketika suatu kawasan sudah ditetapkan sebagai lahan pertanian, maka kalau dialihkan fungsinya harus ada lahan pengganti. Tapi faktanya banyak yang setelah dibuka akses jalannya, justru berubah jadi areal perumahan,” katanya.
Menurutnya, keberpihakan pemerintah daerah juga menjadi kunci. Tanpa SDM yang disiapkan dan tanpa peremajaan komoditas unggulan maka pertanian tak akan dilihat sebagai bisnis yang menjanjikan di masa depan. Padahal di situlah peluang besar berada.
Di sisi lain, Jan juga menyinggung tanggung jawab moral putra-putri daerah yang sukses di tingkat nasional. Baginya, identitas kita tak boleh hilang ketika seseorang sudah berada di panggung yang lebih luas.
“Ketika kita bicara kebhinekaan, jangan hanya bilang saya Indonesia. Kita harus ingat, kita Indonesianya yang berasal dari mana. Jangan malu mengatakan kita Minahasa,” ujarnya.
Ia mengaku sejak dulu selalu menggaungkan satu pesan sederhana: jaga Minahasa, Jaga Budaya Bangsa
Menurutnya, orang Minahasa akan menjadi besar ketika berani keluar dari kelompoknya dan berikan kontribusi di ruang yang lebih luas.
“Kita jangan merasa besar hanya dalam kelompok kecil. Justru kita harus kuat di kelompok kecil, lalu memberi dampak di kelompok besar. Spirit itu yang harus kita miliki,” katanya.
Jan sendiri lahir dari keluarga yang sejak lama merantau dan besar diluar Minahasa. Ia tumbuh di luar tanah leluhur, tetapi tak pernah memutus ikatan batin dengan daerah asalnya. Baginya, keberhasilan di tingkat nasional seharusnya diikuti dengan kontribusi nyata bagi daerah, dalam bentuk apa pun, gagasan, jaringan, kebijakan, maupun investasi bidang sosial dan kemasyarakatan
Pesan itu juga ia tujukan bagi para perantau Minahasa di berbagai sektor: swasta, politik, pemerintahan, ternasuk TNI dan Polri.
“Kita harus mempersiapkan kemampuan kita sebaik mungkin, tentu Jangan lupa berdoa. Tapi setelah berhasil, jangan lupa asal-usul. Di situlah makna kebhinekaan yang sesungguhnya,” tutupnya.
Bagi Jan Maringka, membangun daerah bukan soal harus dalam jabatan seperti kepala daerah atau anggota dewan saja, namun soal keterpanggilan dan kesadaran.
Diketahui, sejak lama Jan dikenal membina kelompok musik kolintang Jaga Minahasa (JM) dan Resto Rarampa di Jakarta sebagai tempat bakudapa warga Minahasa di Jakarta.
Dia berharap, Sulut bisa menyiapkan SDM pertanian di mana hal ini adalah bagian dari menjaga masa depan keberlanjutan.(fgn)
Editor : Foggen Bolung