MANADOPOST.ID—Upaya pemerataan akses listrik di Sulawesi Utara masih menghadapi tantangan serius. Hingga saat ini, tercatat masih ada enam desa di wilayah yang dikenal sebagai Bumi Nyiur Melambai yang belum teraliri listrik dari jaringan PLN.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulut, Fransiskus Maindoka, menjelaskan kendala utama berasal dari faktor geografis. Sebagian besar desa tersebut berada di wilayah kepulauan dan daerah terpencil dengan akses yang sangat terbatas.
Ia menyampaikan hal ini kepada wartawan usai menghadiri rapat di kantor DPRD Sulut.
“Kondisi medan yang ekstrem dan letak desa yang terisolir memang menjadi kendala teknis. Namun, pemerintah berkomitmen bahwa hak masyarakat untuk mendapatkan akses energi tidak boleh terabaikan,” ujar Maindoka.
Enam desa yang dimaksud di antaranya Desa Kahakitang, Desa Para, Desa Dalako Bembanehe, Desa Taleko Batusaiki, serta Desa Para I. Wilayah-wilayah ini dikenal memiliki tantangan akses transportasi yang tinggi, sehingga menyulitkan pembangunan jaringan listrik konvensional.
Sebagai langkah strategis, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara terus melakukan koordinasi dengan PLN Unit Induk Wilayah Suluttenggo untuk mencari solusi terbaik. Selain mengupayakan perluasan jaringan listrik, pemerintah juga mulai mempertimbangkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Menurut Maindoka, EBT menjadi alternatif yang menjanjikan untuk wilayah yang sulit dijangkau jaringan kabel listrik. Teknologi seperti tenaga surya dan sumber energi lokal lainnya dinilai lebih efektif untuk menjawab tantangan geografis.
“Untuk daerah-daerah yang sangat sulit dijangkau, kami mulai melirik potensi energi terbarukan sebagai solusi. Ini bagian dari strategi agar seluruh desa tetap bisa menikmati listrik,” jelasnya.
Pemerintah daerah pun menargetkan rasio desa berlistrik di Sulawesi Utara dapat mencapai 100 persen dalam waktu dekat. Data enam desa yang belum berlistrik tersebut telah dimasukkan dalam peta jalan pembangunan infrastruktur energi daerah.
Maindoka menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendorong percepatan realisasi program tersebut, baik melalui anggaran daerah maupun dukungan dari pemerintah pusat.
“Kami terus mendorong agar pada tahun anggaran berjalan dan ke depan ada progres signifikan. Listrik bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat di pedesaan,” tegasnya.
Kehadiran listrik di desa-desa tersebut diharapkan memberikan dampak luas, tidak hanya bagi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk mendukung sektor pendidikan, layanan kesehatan, serta pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Dengan tersedianya akses listrik, aktivitas belajar mengajar dapat berlangsung lebih optimal, fasilitas kesehatan dapat beroperasi dengan lebih baik, serta produktivitas masyarakat desa dapat meningkat.
Pemerintah optimistis, melalui kombinasi perluasan jaringan dan pemanfaatan energi terbarukan, seluruh desa di Sulawesi Utara akan segera menikmati akses listrik secara merata.(*)
Editor : Angel Rumeen